Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

TUHAN SAYA TIDAK PANTAS

(Mat 8:8)

“Tetapi jawab perwira itu kepada Yesus: Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Merasa tidak pantas, adalah salah satu ciri orang-orang dari Timur. Terutama dari masyarakat kalangan bawah. Coba kita perhatikan kehidupan dalam masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan kraton. Para abdi, yaitu pelayan raja, itu kalau berjalan di hadapan rajanya, berjalan sambil jongkok dan tidak berani memandang rajanya. Lain lagi, coba kita perhatikan dalam kehidupan nyata kita menemukan pola bicara seperti ini: "Ah, masak saya dipanggil tuan untuk menghadap. Saya kan orang miskin yang tidak punya apa-apa? Anda sajalah yang menghadap tuan, anda sepertinya lebih pantas ketimbang saya!" Ada orang yang merasa dirinyalah orang yang tepat untuk menduduki suatu jabatan. Bahwa dirinyalah orang yang pantas dipilih menjadi wakil rakyat dengan bumbu janji-janji akan melayani dan mengabdi dengan tulus dan sungguh-sungguh. Tetapi hari ini kita mendengar seorang perwira yang seharusnya dihormati berbicara merendah, "Tuan, aku tidak  layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." Doa ini sangat indah dan juga memiliki makna rohani yang dalam.

Saudara-saudari terkasih,

Memiliki sikap atau watak seorang hamba yang merendah, dan membangun kebiasaan menghargai orang lain lebih daripada dirinya adalah hal yang baik yang perlu dikembangkan sebagai habitus. Hal inilah yang dipujikan Tuhan kepada perwira yang rendah hati., "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel." Seorang perwira adalah orang yang memiliki kuasa dan kemampuan untuk membayar tabib atau dokter bagi penyembuhan hambanya. Tetapi perwira ini justeru datang sendiri kepada Yesus di Kapernaum dan menyampaikan keluh kesah tentang hambanya itu. Bukan hanya itu saja, perwira ini tidak ingin menyusahkan Tuhan Yesus dan dia menyatakan kerendahan hatinya dan merasa tidak pantas untuk menjamu guru sekelas Tuhan Yesus, yang sudah dikenal dan dipuja-puji masyarakat Yahudi. Atas pernyataan itulah Tuhan kagum, dan akhirnya Tuhan menyampaikan sabda penuh kuasa dan penyembuhannya: "Pulanglah, dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Matius mencatat: "Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya."  Iman perwira ini menjadi salah satu pernyataan iman yang fenomenal. Bahkan kata-katanya dikutip oleh liturgi Gereja dan menjadi bagian dari Perayaan Ekaristi Kudus.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam liturgi Ekaristi, saat imam mengangkat hosti suci dan berkata: "Inilah  Anak Domba Allah yang menebus dosa-dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuannya, kita  mengulangi  kata-kata perwira tersebut: "Ya Tuhan, saya tidak pantas, Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh." Pernyataan iman ini kita ucapkan pada saat merayakan Ekaristi, namun apakah kita sungguh sadar dan percaya dengan pengulangan kata-kata sang perwira tersebut. Sesungguhnya dalam perayaan Ekaristi selalu terjadi mujizat-mijizat Tuhan. Salah satu di antaranya adalah penyembuhan atas penyakit fisik. Itulah sebabnya dalam Ekaristi Kudus, imam menghunjukkan doa-doa untuk umatnya, teristimewa dalam intensi yang diminta umat untuk kepentingan-kepentingannya. Secara pribadi setiap orang beriman dapat berdoa  untuk disembuhkan dari penyakit rohaninya, dari kecenderungan-kecenderungan yang tidak terpuji yang masih melekat pada dirinya. Maka setiap kali mengulang iman perwira tersebut kita dipantaskan Tuhan untuk dapat menyambut TubuhNya yang kudus melalui tangan imam atau pelayan ekaristi lainnya. Dalam merayakan Ekaristi kudus, kita membangun hidup bersekutu dengan Tuhan melalui liturgi yang dirayakan dan menyambut Tubuh Tuhan. Dengan menyambut Tubuh Tuhan, Tuhan akan menyembuhkan segala luka-luka yang diakibatkan oleh dosa-dosa yang telah kita perbuatan sebelumnya.

Saudara-saudari terkasih,

Datang kepada Tuhan, dalam doa pribadi dan memohon bantuanNya, ataupun datang bersama saudara-saudari seiman ke rumah Tuhan pada hari Minggu untuk menerima berkatNya, mendengarkan firmanNya dan menyambut Tubuh Tuhan, harus menjadi kerinduan kita. Berdoa kepada Tuhan berarti mengandalkan Tuhan dalam hidup kita di dunia ini. Merayakan Ekaristi bersama saudara-saudari seiman pada hari Minggu menjadikan kita kuat dan teguh menjalani hidup sebagai orang beriman, karena dikuatkan oleh Firman Tuhan dan disuburkan oleh santapan Tubuh Tuhan. Di hadapan Tuhan kita ini hanyalah seorang hamba yang tidak pantas menerima anugerah dan berkatNya. Tetapi karena kita membutuhkan Tuhan, kita harus berani menemui Tuhan dalam keadaan kita yang paling tidak pantas sekalipun. Bukankah kita juga ingin mendengarkan SabdaNya yang penuh kuasa: Pulanglah, dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya! Kalau kita percaya Tuhan dapat menyelesaikan persoalan kita, datang kepadaNya; kalau kita percaya Tuhan bisa melakukan apa yang kita tidak bisa, berserahlah kepadaNya.

  

Refleksi :

Apakah aku  memiliki iman yang mengandalkan Tuhan dalam  menghadapi masalah?

 

Marilah kita berdoa:

Ya Tuhan Engkaulah Allah yang Mahabaik, sebab Engkau menilai hati orang yang merasa tidak pantas di hadapanMu. Tuhan, aku tidak pantas, tetapi jadilah kehendakMu atas hidup kami. Dan jadilah sandaran bagi hidup kami. Doa ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

  

 

LUMEN NO     :  9252