Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

BELAS KASIHAN

(Matius 15: 31 - 32)

.... Orang banyak memuliakan Allah. Lalu Yesus berkata kepada para murid: “HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan”.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Belas kasihan.... Bagaimanakah Yesus berbelas kasihan? Yesus menyatakan, ada gerakan di hatiNya. Ada perasaan kuat yang muncul. Ada keterpanggilan yang menarik tindakan untuk mengasihi. Ia melihat, bagaimana orang banyak takjub melihat orang-orang buta, lumpuh, dan sakit disembuhkanNya kembali seperti sedia kala dan bersukacita memuliakan Allah. Apakah mungkin Yesus tersentuh oleh sukacita mereka memuliakan Allah? Kemungkinan itu adalah bayang-bayang buah pikiran manusia, yang terbiasa melihat hubungan sebab-akibat secara sempit, atau tidak menyadari gerakan kasih berpamrih yang muncul di hatinya. Belas kasihan Yesus, tidak begitu. Ia menyatakan bahwa Ia tidak mau menyuruh orang banyak tersebut pulang dengan lapar. Bukan karena terharu atas sukacita dan syukur mereka kepada Allah, bukan juga karena khawatir mereka akan menghujat Allah akibat Allah membiarkan mereka kelaparan. Bukan karena itu, tapi Yesus khawatir mereka nanti pingsan di jalan.                   

Saudara-saudari terkasih.

Yesus menilai situasi di hadapanNya secara objektif. Ia menyatakan bahwa sudah tiga hari mereka mengikuti Dia dan mereka tidak mempunyai makanan lagi saat ini. Ia menilai orang-orang tersebut sekarang ini lapar, padahal mereka masih perlu tenaga untuk berjalan pulang. Kenyataan objektif mengenai kesusahan sesama di hadapanNya inilah yang menggerakkan hatiNya berbelaskasihan. Yesus bukan sedang mengasihani diri sendiri secara tidak sadar, atau bukan sedang merasa diri berlebih bila dibandingkan dengan sesama di hadapanNya. Belas kasihan Yesus murni, bukan pencemaran luka batin. Hal inilah yang sering kali membedakan kualitas kita berbelas kasihan dengan teladan Yesus berbelas kasihan. Kita perlu menyadari ini, agar kita dapat sungguhan belajar, dan tidak mengatasnamakan teladan belas kasihan Yesus sebagai pembenaran kita.       

Saudara-saudari terkasih.

Ada seorang bapak yang bekerja di luar kota, berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Ia mengisi rasa sepi dan rindunya dengan menjalin komunikasi intensif melalui beberapa media sosial yang ada. Hubungan bapak dan keluarganya dengan demikian tetap terjaga dengan baik. Di kantor, ia dekat dengan seorang rekan perempuan. Rekan perempuan ini hidup sendiri merantau, belum berkeluarga, dan tidak ada kawan dekat. Sang bapak kemudian merasa berbelas kasih kepada rekan perempuannya itu. Ia menemani rekannya saat akhir minggu, dan menyatakan kepada keluarganya bahwa ia lelah, sedang banyak pekerjaan, dan butuh istirahat, sehingga tidak bisa setiap minggu pulang. Lambat laun terbangun hubungan saling ketergantungan antara bapak dengan rekan perempuannya. Ia tinggal 1 kamar kos dengan rekannya saat akhir minggu. Ia menjadualkan giliran menjenguk keluarga di luar kota dengan menemani rekannya tersebut, masing-masing setiap dua minggu sekali. Menurut pemikiran Bapak, ia berperilaku baik dan adil, karena ia berbelas kasih kepada sesama, dan tetap menjaga keluarga. Ia tidak terganggu dengan ketidaksesuaian perilakunya bila disandingkan dengan norma agama, karena ia menganggap pertanggungjawaban perilakunya hanyalah kepada Allah saja.  

Saudara-saudari terkasih.

Mari kita simak juga cerita lain berikut mengenai belas kasihan. Ada juga seorang bapak yang sudah lama menduda. Ia bersahabat karib dengan sepasang suami istri. Persahabatan terjalin sejak mereka masih sama-sama SMA, hingga kini sudah menjadi opa oma. Suatu hari, suami meninggal. Istrinya menjanda. Istri sangat kehilangan, karena sudah hidup bersama sekian lama. Sang bapak duda kasihan. Sesekali, ia mengiyakan ajakan sahabat perempuannya tersebut untuk pergi ke gereja bersama. Ia juga beberapa kali membantu kesulitan ekonomi sahabat perempuannya. Namun ia menjaga hubungannya tetap sebatas sahabat, tidak berlanjut pada ketertarikan untuk hidup bersama, meski sebetulnya, mereka berdua dapat saja tinggal bersama dengan menikah lagi karena masing-masing sudah ditinggal wafat oleh pasangannya. Ia melakukan belas kasihan berdasarkan kondisi objektif dari sahabatnya. Tidak ada yang ditutupi, sebagaimana belas kasih Yesus.  

  

REFLEKSI:

Sungguhkah saya berbelas kasih? Ataukah belas kasih saya tidak tulus? 

  

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, terima kasih, atas ajaranMu pada hari ini. PerilakuMu yang apa adanya, membuat kami menyadari adanya kekeliruan dalam pemahaman dan perilaku kami selama ini. Terima kasih Yesus, Engkau tidak menghakimi kami. Bimbing kami bertobat yang sungguh, dan tuntun kami melakukan perbaikan. Amin.

 

LUMEN NO     :  9254