Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN

(Markus 1 : 7)

“Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Yohanes Pembaptis, mewartakan kedatangan Yesus di hadapan para muridnya. Ia tahu siapa Yesus. Ia mewartakan Yesus sebagai yang diutus Allah untuk membawa keselamatan. Karena itu Yohnes Pembaptis menyadari betapa dirinya sangatlah kecil di hadapan Yesus. Sampai-sampai membungkuk untuk melepaskan tali kasutNya pun ia merasa tidak layak. Menyadari diri dan menerima orang lain , itulah keutamaan dari Yohanes Pembaptis. Ia tahu bahwa Yesuslah Juru Selamat itu. Karena itulah ia mewartakan dan menyiapkan  orang lain untuk mengenal Dia. Belajar dari kehidupan Yohanes Pembaptis, kita dapat menemukan keutamaan yang sangat penting untuk kita hidupi, yaitu kerendahan hati. Yohanes Pembaptis rendah hati di hadapan para muridnya, ia mengaku bahwa ia bukan yang terbesar, tetapi Yesuslah yang terbesar, yang harus mereka nantikan. Sikap ini sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita terjebak dalam kesombongan.  

Saudara-saudari terkasih.

Ada baiknya kita masuk dalam keheningan. Kita sadari betapa dalam hidup sehari-hari ini godaan untuk menjadi yang nomor satu, yang paling terdepan begitu kuat dalam hidup kita. Sering kita merasa yang paling berjasa, paling terkenal, paling baik dan paling benar dibandingkan dengan orang lain. Marilah kita akui dan sadari, betapa banyak dalam hidup ini  pribadi-pribadi yang jauh lebih hebat dan berjasa dari pada diri kita. Belajar untuk menyadari bahwa selain kelebihan, kehebatan serta keunggulan kita. Kita juga memiliki kelemahan, kekurangan, kesalahan dan keterbatasan. Kita ini sering terlalu sombong, kita menilai diri kita sendiri terlalu tinggi. Sifat serta sikap seperti itu semua bukanlah sifat serta sikap Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus agar kepada kita dianugerahkan sikap rendah hati, sederhana dan bersahaja. Dan kita juga memohon agar selalu mampu bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih pada sesama dengan kerendahan hati, kesederhanaan dan kesahajaan. 

Saudara-saudari terkasih.

Merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus, selalu mengingatkan kita akan sebuah kerendahan hati, akan sikap rendah hati. Allah yang sangat mulia mau memasukkan diri pada jajaran kelompok manusia yang lemah dan berdosa. Karena Pembaptisan Yohanes itu adalah baptisan tobat dan Yesus menyediakan diri untuk ikut dibaptis bersama orang-orang berdosa. Karena sikap solidaritasNya serta kerendahan hatiNya itulah, Ia berkenan di hati Bapanya. Selain kerendahan hati, ketaatan, kesetiaan dan penyerahan diri juga adalah jalan untuk menjadi pribadi yang berkenan pada Bapa. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang dikasihi dan yang berkenan di hati Allah, Bapa kita? Sudahkah kita menjadi pribadi yang taat dan setia, yang mau menyerahkan diri sepenuhnya? Kerendahan hati seperti yang dikehendaki oleh Allah, hanya bisa kita capai melalui pelatihan diri untuk taat, berserah dan setia dari hal-hal kecil dalam hidup kita sehari-hari. Dan kelak pada hari kita berhadapan dengan Allah, Ia akan mengatakan kepada kita: "Engkaulah anakKu yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan." Semoga kata-kata Bapa dari sorga itu juga disampaikan kepada kita pada hari kematian kita.

Saudara-saudari terkasih.

Yohanes Pembaptis mengenal Yesus, maka pembaptisan Yesus sungguh mengherankan baginya. Bahkan ia berkeyakinan: "Akulah yang perlu dibaptis olehMu." Namun tujuan pembaptisan Yesus sesungguhnya bukan pertobatan dari dosa-dosa. Yesus adalah Allah, Yesus tidak berdosa. PembaptisanNya adalah tanda penerimaan atas salub dan kematianNya demi dosa-dosa manusia dan kata-kata dari sorga: "Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan" adalah pernyataan BapaNya atas  kebangkitanNya. Yesus berkata kepada Yohanes Pembaptis: "Biarlah hal itu terjadi, karena dengan demikianlah sepatutnya kita menggenapkan kehendak Allah.". Inilah intisari dari semangat dan arah pelayanaan Yesus. Kata-kata Yesus ini membuat Yoihanes Pembaptis tidak berdaya menolak permintaan Yesus. Maka meski pun merasa tidak layak, namun akhirnya Yohanes Pembaptis pun membaptis Yesus. Dengan cara ini ia menunjukkan ketaatanNya atas rencana serta kehendak Allah. Lewat peringatan Pesta Pembaptisan Tuhan ini, kita mengenangkan saat pembaptisan kita, yang telah membuat kita masuk dalam persekutuan dengan Allah Trutunggal: Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.

  

REFLEKSI:

Apakah kita telah menanggapi rahmat pembaptisan kita sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-ajaran Gereja Katolik?

 

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, bimbinglah kami menghayati Sakramen Baptis yang telah kami terima untuk menata hidup yang lebih baik, yang lebih berkenan kepada Bapa dan agar bibir kami tidak mengucapkan kata-kata yang merendahkan martabat kami sebagai saudaraMu dan anak Allah, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, Tuhan dan Pengantara kami, Amin.

 

LUMEN NO     :  9288