Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

ORANG YANG MERENDAHKAN DIRINYA

(Lukas .18:14)

Yesus bersabda: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Saudara-saudari terkasih.

Manusia memiliki anggota tubuh yang beragam. Masing-masing memiliki bentuk, fungsi, dan cara bekerja yang khas sesuai pesan yang ingin dikomunikasikan. Setiap bangsa memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda.Kepala yang mengangguk tentu saja berbeda makna dengan kepala yang menggeleng. Mata yang mengeluarkan air mata bisa berarti bahagia, juga bermakna kesedihan yang sedang dialami. Gerakan tubuh ada menyampaikan pesan negatif, seperti tangan yang menggenggam ke arah orang lain yang menandakan kemarahan, mata yang melotot tajam yang menyampaikan amarah, memalingkan wajah dan memberi punggung yang bermakna ketidaksukaan. Namun, banyak pula gerakan tubuh yang menandakan hal-hal baik, seperti mulut yang tersenyum, mata yang berbinar-binar, tangan yang bersalaman, badan yang berpelukan. Kita harus mampu memahami berbagai bahasa tubuh tadi agar kita tidak salah memaknai apa yang akan dikomunikasikan orang lain kepada kita dan agar kita mampu membalas komunikasi tersebut dengan benar dan baik. Untuk itu bergaul dengan sebanyak mungkin orang dari berbagai budaya akan memperkaya pengetahuan kita akan bahasa tubuh. Barangkali bahasa tubuh lebih kaya daripada bahasa yang diucapkan melalui mulut kita atau bahasa tulis yang dicetak.

Saudara-saudari terkasih.

Berbagai upacara dalam gereja Katolik pun memakai bahasa tubuh. Ketika masuk ke gereja kita mengambil air suci dan membuat tanda salib. Ketika imam mengangkat Sakramen Mahakudus kita mengatupkan tangan dan mengangkatnya sebagai tanda menghormati Sakramen Mahakudus. Telapak tangan kita buka kebatas ketika akan menerima komuni. Demikian juga kita akan berjabat tangan dengan umat di sekeliling kita ketika memberikan salam damai. Bisa dikatakan bahwa gerakan tubuh yang sebelumnya hanya untuk berkomunikasi antar manusia diangkat menjadi perlambangan iman kita kepada Tuhan. Ada gerakan tubuh yang bisa diterima semua agama, seperti tangan terkatup, mata tertutup, posisi duduk atau berlutut, mengucapkan kata Amin. Bacaan pada hari  ini antara lain menyinggung tentang sikap tubuh ketika sedang berdoa di tempat ibadat. Diceritakan tentang seorang Farisi yang merasa dirinya benar. Dia berdiri di bagian terdepan Bait Allah dan menyatakan segala hal baik yang sudah dia lakukan sesuai aturan agama, yaitu berpuasa dan membagikan penghasilannya. Namun, dia memegahkan dirinya dengan menyatakan bahwa dirinya sudah benar, tidak seperti pezinah, pemungut cukai, dan orang lalim. Sebaliknya, ada seorang pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri.

Saudara-saudari terkasih

Bahasa tubuh yang dipakai orang Farisi itu adalah berdiri di bagian terdepan Bait Allah. Orang yang berdiri di bagian depan sebuah tempat umum berarti orang tersebut adalah orang penting, yang memiliki kekuasaan tinggi di dalam masyarakat, dan harus dihormati. Orang Farisi itu menganggap dirinya sudah pantas di hadapan Allah. Hal sebaliknya terjadi pada pemungut cukai yang berdiri di bagian belakang Bait Allah. Dia tidak berani menengadah ke atas. Dia sadar bahwa dirinya tidak pantas di hadapan Allah, maupun di hadapan masyarakat Yahudi pada masa itu. Dia merasa sangat malu atas apa yang sudah diperbuatnya. Lebih daripada sekedar ketidakpantasan secara etika, pemungut cukai itu menyatakan dirinya sebagai orang berdosa. Sikap tubuh orang Farisi itu sesuai dengan sikap batinnya, yaitu sombong. Sedangkan, sikap tubuh pemungut cukai itu sesuai dengan iman yang dimilikinya, yaitu rendah hati dan menyatakan dirinya berdosa. Orang Farisi itu tidak berkenan bagi Allah. Sementara pemungut cukai itu diterima Tuhan. Hanya kepada manusia yang merendahkan dirinya ,Tuhan akan berkenan melimpahkan rahmat-Nya.

 

REFLEKSI:

Apakah kita masih menyombongkan diri kita di hadapan Allah? Apakah kita sudah merendahkan diri kita dan memohon ampun karena dosa-dosa kita?

MARILAH KITA BERDOA:

Ya Tuhan, betapa sombongnya diri kami karena merasa sudah pantas di hadapan-Mu. Ajarlah kami untuk berendah hati dan memohon ampun atas dosa-dosa-Mu. Engkaulah Tuhan kami yang berkenan atas mereka yang merendahkan dirinya. Kini dan sepanjang masa. Amin.

 

LUMEN NO     :  9348