Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

HUKUM YANG TERUTAMA

(Markus .12:29-30 )

Yesus bersabda: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia...

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Saudara-saudari terkasih.

Hukum kasih yang diajarkan Yesus sangat dihidupi oleh Santa Fransiska dari Roma. Orangtuanya Fransiska adalah bangsawan yang kaya raya. Mereka mengajarkan untuk menaruh perhatian pada sesama dan mengamalkan hidup Kristiani yang saleh. Fransiska berdoa setiap hari dan melakukan matiraga bagi Gereja Yesus yang menghadapi banyak pencobaan pada masa itu. Fransiska mengunjungi mereka yang miskin dan merawat mereka yang sakit. Ia membawakan makanan dan juga kayu bakar bagi orang-orang yang membutuhkannya. Fransiska bertekun dalam doa. Ia semakin akrab bergaul dengan Yesus dan Maria dalam hidup sehari-hari. Fransiska adalah orang-orang yang penuh belas kasih. Mereka tahu bagaimana rasanya menderita. Hal ini menjadikan mereka lebih peka terhadap kebutuhan mereka yang menderita.

Saudara-saudari terkasih.

Anak-anak zaman sekarang semakin susah untuk memilih mana yang utama dan mana yang sampingan. Menurut ilmu psikologi kehidupan anak-anak ditentukan oleh apa yang diinginkannya. Itulah yang utama. Apa yang mereka inginkan? Segala sesuatu yang  menyenangkan mereka, yaitu ketika mereka bebas melakukan hal tersebut. Tanpa tuntutan yang harus ditanggung, tanpa aturan yang mengikat, tanpa tanggungjawab yang harus dilaporkan.  Bahkan ketika bermain dengan alat-alat tertentu anak-anak sering meninggalkannya begitu saja setelah selesai, tanpa membereskannya terlebih dulu. Belajar dan membaca buku  bukanlah yang utama. Kalau perlu tidak usah membuka buku pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru. Sayang sekali, cara pikir ini juga dimiliki orang-orang dewasa. Bekerja mencari uang adalah tugas utama seorang dewasa. Mereka harus menghidupi dirinya sendiri atau keluarganya. Ternyata, tidak semua orang dewasa menyadari hal ini. Banyak orang dewasa yang tidak mau bekerja. Mereka hidup enak-enakan. Seringkali, mereka masih tergantung pemberian orang tuanya.

Saudara-saudari terkasih

Memang tidak mudah bagi manusia sekalipun untuk memahami dan kemudian memilih melakukan yang utama. Dalam kehidupan beragama pun demikian. Banyak orang mengira bahwa melakukan aturan-aturan agama itulah yang terpenting. Ada pemikiran umat bahwa jika saya sudah melakukan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya sesuai ajaran agama, saya sudah hidup suci. Kalau saya menunjukkan kepada orang lain bahwa menjalankan aturan agama, saya sudah menjadi orang baik. Hidup beragama tidak lebih dari sekedar menjalankan hukum agama. Apakah salah perilaku beragama ini? Tentu saja tidak! Yang lebih penting adalah jiwa dari aturan tersebut. Misalnya, jika ada untuk perintah untuk mengikuti perayaan ekaristi pada hari Minggu, itu bukan berarti bahwa secara fisik kita berada di gedung gereja dan mengikuti proses ibadat yang terjadi di dalamnya. Jika demikian permaknaannya, ada orang yang lalu mengatakan: "saya sudah pergi ke gereja". Bukan ke gerejanya atau bukan mengikuti perayaan ekaristinya yang penting, tetapi bagaimana melalui perayaan ekaristi tersebut kita mempersatukan korban kita dengan korban Kristus di kayu salib. Demikian juga dengan perintah untuk berpuasa. Bukan bahwa kita mampu menahan lapar dan haus yang penting, tetapi bahwa kita bertobat atas dosa-dosa kita. Dan di atas semua hukum dunia maupun hukum agama, hukum kasih kepada sesama dan kepada Tuhan, itulah yang terutama.

 

REFLEKSI:

Apakah kita menjalankan kehidupan beragama hanya sebatas mengikuti aturan dan menjauhi larangan yang diwajibkan?

 

MARILAH KITA BERDOA:

Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memahami ajaran kasih-Mu lebih daripada aturan agama agar kami memahami apa perintah-Mu yang utama. Engkaulah Tuhan kami yang penuh kasih. Kini dan sepanjang masa. Amin.

 

LUMEN NO     :  9347