Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

BELAJAR DARI ORANG SAKIT

(Yohanes 5:8-9)

Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus

Pada suatu ketika sesudah hari raya orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; berbaring sejumlah besar orang sakit: orang buta, orang timpang dan orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.

Saudara-saudari terkasih,

Mendengar perkataan orang yang sakit itu, Yesus berkata kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."

Saudara-saudari terkasih,

Injil Yohanes mencatat bahwa orang yang disembuhkan Yesus itu sudah menderita selama tiga puluh delapan tahun. Selama tiga puluh delapan tahun pula ia mengharapkan kesembuhan. Ini bukanlah perkara yang mudah. Sebaliknya ini adalah perkara yang sangat, sangat, sangat sulit. Penekanan kata sangat sampai tiga kali mau menunjukkan kepada kita betapa lamanya orang itu menunggu disembuhkan. Kalau kita sakit berhari-hari atau sampai berminggu-minggu saja, kadang kita sudah tidak tahan dan tidak sabar untuk segera sembuh. Apalagi sampai tiga puluh delapan tahun. Dan injil Yohanes memiliki tujuan menampilkan kisah orang sakit yang menderita selama tiga puluh delapan tahun. Pertama, dari kisah ini kita belajar untuk tetap setia dalam menghadapi penderitaan. Hidup kita pasti selalu disertai dengan penderitaan atau masalah yang mungkin sulut untuk kita hadapi. Kadang kita bertanya : "Tuhan kenapa saya yang harus menderita?"

Saudara-saudari terkasih,

Hal kedua yang kita pelajari dari orang yang menderita sakit selama tiga puluh delapan tahun adalah bagaiman kita tetap berharap walaupun semua terasa tidak jelas dan gelap. Harapan adalah salah satu keutamaan Kristiani selain iman dan kasih. Harapan mendorong kita untuk tetap bertahan hidup meskipun dalam keadaan yang sangat sulit dan serba tidak menentu. Para petani menanam bibit padi, jagung, kacang atau buah-buahan karena mengharapkan bahwa apa yang mereka tanam itu akan tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Para nelayan berangkat pada malam hari ke lautan lepas karena mengharapkan bahwa mereka mampu menangkap ikan sebagai sumber penghidupan dan penghasilan untuk mereka dan keluarga. Pegawai atau karyawan bekerja keras dan sungguh-sungguh karena mengharapkan gaji akhir atau awal bulan. Demikian pula pengusaha membuat pabrik atau menanamkan modal mereka di sebuah perusahaan karena mengharapkan modal mereka bertambah.

                                                            

REFLEKSI:

Apakah kita mampu belajar setia dan tetap memiliki pengharapan dari seorang yang menderita sakit selama tiga puluh delapan tahun?

                                                                                                         

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah menyembuhkan orang yang sakit selama tiga puluh delapan tahun. Bantulah kami umat-Mu supaya di masa Pra Paskah ini kami tetapi setia dan selalu memiliki pengharapan walaupun situasi yang kami hadapi penuh tantangan dan kadang tidak menentu. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

 

LUMEN NO     :  9351