Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

NASIB SEORANG NABI

(Markus 6 : 4)

Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Kisah Yesus ditolak di Nazaret adalah kisah yang ada di dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Tekanan Injil Markus ada pada soal identitas Yesus yang "dikupas tuntas"  karena mereka mengenal asal usul Yesus. Namun mereka sebenarnya hanyalah mengenal Yesus secara lahiriah saja. Yakni mengenal orangtuaNya dan kerabatNya. Mereka tidak mengenal pribadi Yesus. Mereka tidak melihat bahwa Yesus itu berasal dari Allah. Mereka tidak melihat Yesus sebagi Nabi dan Allah yang hadir di tengah-tengah mereka. Kita pun menilai orang  seperti yang terjadi pada orang-orang Nazaret, menilai penampilan luarnya saja, kita gampang sekali menilai orang dengan kata-kata yang beraroma gossip. Kita tidak menilai lebih dalam lagi, karena kita memang hanya mengenal luarnya saja. Kita seperti orang-orang Nazaret menilai orang dari sisi luarnya saja, karena sejatinya kita irihati, kita tidak suka padanya, kita menolak kehadiranNya. Maka marilah mulai dari sekarang, kita menghargai orang dari tindakannya yang diperlihatkan  pada kita.

Saudara-saudari terkasih.

Di tempat Yesus berasal orang banyak takjub akan ajaranNya dan cara  menyampaikanNya. Masih diperkuat lagi dengan perbuatan-perbuatan kuasa atau mujizat  penyembuhan orang sakit yang dilakukanNya. Namun mereka memper tanyakan semua yang dikatakanNya dan dibuatNya, karena mereka meremehkan, menyepelekan semua itu. Yesus heran atas ketidak percayaan mereka itu. Maka hanya sedikit saja perbuatan kuasa yang dilakukan Yesus di situ. Ketidak percayaan menjadi penghambat dan penghalang utama karya dan sabda Yesus. Acap kali dalam hidup ini, kita dilanda dan didera oleh ketidak percayaan. Ketika menghadapi masalah  keluarga, kesulitan: ekonomi, kesehatan, pekerjaan, pendidikan anak, pergaulan, jodoh, agama. Kita menjadi ragu, kita menjadi bimbang dan kita goyah. Benarkah Tuhan akan membantu kita dan memberikan yang kita minta dalam  doa kita?  Tidak jarang kita melalaikan kuasa Allah. Kita lebih mengandalkan pikiran,  kekuatan, kemampuan dan usaha kita sendiri.

Saudara-saudari terkasih.

Kita sering memvonis, menjatuhkan putusan, kita menghakimi  sendiri apa yang kita rasa tidak mungkin bagi manusia, lalu tidak mungkin pula bagi Allah. Pandangan seperti itu bisa berarti meremehkan kekuatan Allah dan membatasinya menurut akal budinya sendiri. Haruskah pandangan yang tidak sejalan dengan iman Katolik ini kita biarkan terus? Ubahlah sikap dan pandangan kita yang semata-mata manusiawi ini, sebab bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang mustahil. Allah itu Mahatahu, Allah itu Mahakuasa dan Allah itu Maha bisa. Marilah kita sempatkan diri kita untuk menyisihkan waktu barang sejenak, kita rasakah kehadiran Yesus pada diri kita dan pada tempat kita berada. Kita bayangkan kegembiraan orang yang disembuhkan penyakitnya, diampuni dosanya. Betapa mereka berterimakasih kepada Yesus, karena Yesus sangat memperhatikan mereka, Tuhan Yesus mengabulkan permohonnya, mereka dibebaskan dan dilepaskan dari penderitaannya. Betapa mereka bersyukur atas kebaikan hati Yesus. Hal yang sama bisa terjadi pada diri kita yang juga memiliki berbagai penyakit.

Saudara-saudari terkasih.

Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya sendiri. (Markus 6:4.) Nabi adalah utusan Allah, penyampai kehendak Allah. Nabi mendapat tugas dari Allah yang luhur dan mulia. Dewasa ini masihkah ada nabi? Kiranya dalam agama Katolik, profesi atau panggilan  nabi tidak jauh berbeda dari panggilan dan tugas  Pastor atau Romo. Beliau dipanggil Allah secara istimewa, melalui pendidikan yang khusus dan diurapi, ditahbiskan dalam liturgi pentahbisan imam. Pendeknya untuk menjadi seorang imam, Pastor atau Romo adalah jalan yang panjang dan tidak mudah. Memakan waktu  sembilan sampai sebelas tahun. "Banyak yang dipanggil, tetapi hanya sedikit yang dipilih." Namun setelah resmi menjadi Pastor atau Romo dan berkarya ada yang meragukan dan meremehkan. Karena mereka itu mengenal keluarganya. Pantaskah kita orang Katolik bersikap begitu pada gembala rohani kita?

 

REFLEKSI:

Apakah selama ini, kita masih saja jatuh pada dosa dan kelemahan insani kita, bersikap kasar dan marah-marah?

 

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami dan bantulah kami untuk keluar dari persoalan hidup kami. Yang mudah jatuh pada kelemahan insani: merendahkan, menghina dan bersikap kasar pada anggota keluarga kami: orangtua, suami, isteri, anak, menantu dan cucu kami, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

 

 

LUMEN NO     :  9407