Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

HARI KEMERDEKAAN R.I

(Matius 22:17-18)

Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Orang-orang Farisi bersekongkol hendak menjerat Yesus dengan pertanyaan: "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Pikiran mereka dipenuhi dengan irihati, dengki dan benci kepada Yesus. Pikiran negatif telah memenuhi otak  mereka, bahkan telah membungkam suara hati mereka. Sikap orang-orang  Farisi merupakan sebuah teguran untuk kita yang hari ini merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau hati kita masih diliputi rasa iri hati, dengki dan benci itu pertanda bahwa kita  kita belum hidup merdeka. Merdeka berarti sikap batin yang bahagia, penuh syukur dan  kasih. Keteguhan hati yang demikian inilah yang akan menular secara positif kepada orang lain dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita. Maka dari itu sangatlah penting dan perlu kita senantiasa berusaha mendekatkan diri pada Yesus. Agar hidup kita menjadi tenang, tentram dan damai. Selain itu penting dan perlu pula kita mendoakan para pamong masyarakat, Ketua RT, RW, Lurah, Camat, dan seterusnya. Agar mereka dikaruniai rahmat kebijaksanaan dalam memim pin serta melayani setiap warganya.

Saudara-saudari terkasih.

Hari ini kita merayakan Hari Raya Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Bacaan Injil hari ini berisi pertanyaan jebakan orang-orang Farisi kepada Yesus. Perlu atau tidak membayar pajak kepada Kaisar? Jawaban apa pun dari Yesus, akan dapat menjadi persoalan dan dipersoalkan oleh orang-orang Farisi mau pun oleh pengikut Herodes. Ada perlunya kita sadar bahwa ada tanggungjawab kepada negara dan tanggung jawab kepada Gereja. Orang Katolik adalah warga negara dan sekaligus warga Gereja seratus prosen. Ada tuntutan yang harus dipenuhi sebagai warga negara dan juga ada tuntuan yang dipenuhi sebagai warga Gereja. Sebagai warga negara wajib membayar pajak dan kewajiban lain. Sebagai warga Gereja kita harus bijak dalam bersikap dan menjalani hidup ini.

Saudara-saudari terkasih.

Pada Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ini, sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak memisahkan antara hidup keagamaan dan hidup harian kita. Sebagai umat yang taat kepada Tuhan, kita juga harus taat kepada pemerintah, kepada negara.  Teristimewa dalam hal membayar pajak, terlibat dalam kegiatan membangun masyarakat yang lebih baik, lebih adil, sejahtera dan ikut menjaga persatuan sebagai warga dengan beragam perbedaan. Ribuan pulau, ratusan suku, adat dan bahasa. Beragam agama dan golongan, kekayaan dan budaya. Kita wajib hidup penuh kasih, saling menghargai perbedaan. Semoga kita dimampukan bekerja sama dengan siapa pun untuk menjadi pembawa damai dan sejahtera. Kita Bhineka. Kita Indonesia. Mari kita bersyukur atas jasa para pahlawan yang telah mengantar kita menjadi bangsa yang bebas dari penjajahan bangsa lain dan telah menghantar kita pada Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Saudara-saudari terkasih.

Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Di keluarga, masyarakat, organisasi, golongan, partai, pemerintah bahkan agama. Tidak ada yang sempurna, karena semuanya masih ada di dunia. Contoh dalam keluarga: Tidak ada orangtua yang sempurna. Tidak ada anak yang sempurna. Tidak ada saudara yang sempurna. Diri kita tidak sempurna. Yang ada: kita saling mengeluh,  menduduh dan menyalahkan. Merasa dirinya yang baik dan benar, yang lain salah, yang lain jelek. Kita terpanggil untuk saling memaafkan dan  mengampuni. Memaafkan dan mengampuni akan melepaskan kita dari segala macam penderitaan, baik pikiran, perasaan, perkataan dan aneka macam penyakit. Oleh karena itu sangatlah perlu kita saling meminta maaf dan memberikan maaf, bila ternyata ada kesalahan. Bahkan lebih dari itu, kita perlu untuk saling mendoakan satu sama lain. Kekuatan doa sungguh luar biasa, kuasa doa menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang buruk menjadi baik, yang benci menjadi cinta, yang memusuhi menjadi mengasihi.

 

REFLEKSI :

Apakah kita sudah hidup penuh kasih dan saling menghormati   satu sama lain sebagai warga Negara dan warga Gereja yang baik?

MARILAH KITA BERDOA :

Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas rahmat yang Kauberikan kepada kami, Bangsa Indonesia. Terimakasih atas ribuan pulau, ratusan suku, adat dan bahasa, berbagai golongan dan agama. Ajarilah kami hidup bersatu, rukun, penuh kasih dan saling menghormati. Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

 

LUMEN NO     :  9508