Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

TERGERAK HATI-NYA OLEH BELASKASIHAN

(Markus 6 : 34)

Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Manusia modern mengisi hidupnya dengan berbagai kesibukan. Entah dengan bekerja di kantor selama delapan jam sehari, berbagai kegiatan sosial dari satu tempat ke tempat lain, dengan asyik bermain media sosial dan berbagai teknologi informasi. Tanpa semua kesibukan itu manusia modern seakan kehilangan hidupnya. Situasi ini juga dialami para rasul. Mereka begitu bersemangat menyebarkan ajaran Yesus dan melakukan tindakan cinta kasih. Ketika berkumpul kembali kepada Yesus memberitahukan semua tindakan mereka sikap Yesus tidak seperti yang mereka harapkan. Alih-alih memuji dan menyemangati, Yesus malah mengajak mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Perintah Yesus ini disampaikan karena begitu banyak orang yang datang dan pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba tanpa gembala.

Saudara-saudari terkasih

Jika para Rasul begitu bersemangat menyebarkan ajaran Yesus dan melakukan tindakan cinta kasih dan menganggap tindakan itulah yang paling utama, apalagi kita manusia biasa. Para Rasul  melupakan atau mungkin tidak tahu bahwa bekerja juga memerlukan istirahat, seperti mesin yang menjadi panas sehingga pada suatu waktu harus dimatikan agar menjadi dingin. Namun, mewartakan kabar gembira memerlukan lebih daripada istirahat badan. Pengetahuan akan apa yang kita wartakan perlu ditambah. Semangat untuk mewartakan harus diperbaharui. Cara mewartakan harus diubah. Motivasi untuk mewartakan harus dimurnikan. Mengundurkan diri sejenak dari karya mewartakan sungguh diperlukan. Caranya dengan mengambil jarak dari keramaian. Pada zaman sekarang proses ini dilakukan dengan kegiatan retret dan rekoleksi.    

Saudara-saudara terkasih

Kegiatan retret atau rekoleksi dan sejenisnya di dalam Gereja Katolik, bukan hanya penting, tapi bahkan vital. Artinya, iman kita harus dihidupi dengan penyegaran kembali melalui kegiatan tersebut. Retret atau rekoleksi adalah bagian dari proses formatio. Proses ini umum dilakukan di dalam pendidikan para calon biarawan. Melalui berbagai jenjang pendidikan para calon biarawan dituntun untuk terus-menerus memurnikan motivasi mereka dalam menjawab panggilan istimewa dari Tuhan. Proses formatio bisa dibayangkan seperti proses menyaring sekumpulan benda, misalnya pasir. Pada awalnya berbagai ukuran batu kerikil hingga pasir halus menjadi satu. Tergantung ukuran lubang ayakan yang kita pakai, lama-kelamaan tertinggal pasir halus saja. Pada awalnya berbagai motivasi menggerakkan kita. Ada motivasi yang berdasarkan egoisme, seperti agar kita dihormati, agar kita mendapatkan keuntungan materi, agar kita dikenal. Ada motivasi yang berlandaskan kerohanian, seperti untuk menyucikan kita, untuk memuliakan nama Tuhan, untuk menyebarkan Kerajaan Allah. Melalui proses memundurkan diri dari tugas rutin dan  keramaian hidup, kita akan semakin menemukan motivasi termurni kita dalam hidup merasul. Semestinya, motivasi kita itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Saudara-saudari terkasih

Bagaimana kita mengetahui kehendak Tuhan? Dengan mengenal sifat-sifat Tuhan. Sikap dasar kita dalam mewartakan kabar gembira semestinya sesuai dengan sifat-sifat Tuhan tersebut. Sifat utama Tuhan adalah kasih. Kutipan dari Kitab Suci tersebut menegaskan sifat Tuhan ini. Walaupun engkau bisa memindahkan gunung, memberikan harta bendamu, bahkan mengorbankan nyawamu, semua itu tidak berarti jika tidak disertai kasih. Lebih lanjut ditegaskan sifat-sifat kasih itu: kasih itu lemah lembut, murah hati, sabar, rela berkorban, menahan amarah. Jika sifat Tuhan digambarkan dalam sifat kasih itu, demikian pula sikap kita dalam mewartakan kabar gembira hendaknya penuh kasih. Jika kita datang kepada seseorang, mulut kita semestinya menyunggingkan sebuah senyuman. Jika kita ditolak dalam pewartaan, biarlah lebar pintu maaf kita.

 

REFLEKSI

Apakah kita mewartakan kabar gembira demi kehormatan diri kita atau karena tergerak oleh belas kasihan? 

MARILAH KITA BERDOA

Ya Tuhan, semoga kami mewartakan karya kasih-Mu karena belaskasihan kepada para umat yang membutuhkan gembala, bukan karena kehausan kami untuk mendapatkan kehormatan atau keuntungan pribadi atas harta-benda duniawi. Engkaulah Gembala kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.

  

 

LUMEN NO     :  9482