Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MEMULIAKAN TUHAN

BC - 9620G | Rabu, 05 Desember 2018

Bacaan Hari ini:
Yes.25:6-10
Mzm.23:1-3a,3b-4,5,6
Mat.15:29-37

”Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah.”
Mat 15:31

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,
Dewasa ini kita hidup dalam era komunikasi serba canggih. Orang yang jauh tidak merasakannya, karena bisa bertatap muka melalui video call. Orang tidak kekurangan informasi apa saja dengan media internet. Apa yang terjadi di Amerika atau di Rusia dan bahkan di Cina, dapat diketahui di Indonesia pada waktu bersamaan. Orang bisa menangis melihat kengerian yang diakibatkan oleh gempa di Lombok dan Palu beberapa bulan yang lalu. Orang juga bisa bersimpati pada orang yang dianiaya oleh majikannya di negeri sebrang, karena informasi di televisi atau di internet. Pada waktu Yesus yang tampil di tengah umat Yahudi sebagai guru baru yang sanggup mengadakan mujizat-mujizat, mengundang rasa takjub orang-orang yang ada di sekitarNya. Yesus mengerjakan mujizat “orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat”. Kalau hal itu terjadi dewasa di sini, dapat dipastikan akan berdatangan karena ingin tahu. Karena yang seperti ini tidak kita jumpai dalam keseharian dan di luar kewajaran.

Saudara-saudari terkasih,
Penginjil Matius mencatat reaksi para “pelihat” mujizat Yesus itu begini : “Mereka memuliakan Allah.” Apa yang mau dikatakan Matius kepada kita hari ini. Bahwa orang terpesona! Orang terperangah!! Tetapi bagaimana dengan kita yang hari ini mendengarkan kesaksian sang penginjil.  Coba kita berhenti sejenak dan membayang kan. Saudara kita adalah orang buta, dan kita  menjaga dan menuntunnya setiap hari, lalu datang seorang lelaki muda dan menyembuhkan saudara kita itu. Apa reaksi kita? Jika saja saudara kita adalah seorang yang lumpuh itu, bisa berjalan lagi ketika Yesus menyembuhkannya. Apakah yang kita rasakan? Bahagia? Kecewa?? Mendengar kisah dan mengalami kejadian itu  secara pribadi ada dua hal yang tidak sama dan sangat berbeda. Ada perasaan yang muncul dalam hati kita, karena sangat bahagia, sebab sebuah masalah dalam hidup kita  telah diakhiri  dengan mukjizat, perbuatan kuasa Yesus: “Saudara kita bisa melihat!”

Saudara-saudari terkasih,
Catatan Matius yaitu “mereka memuliakan Allah.” Apakah  kita sudah memuliakan Tuhan ketika aku menerima anugerah dan berkat dalam kehidupan kita dari ke hari. Hal yang selalu  kita kerjakan adalah “memuliakan Allah” begitu kita terjaga dari tidur kita di pagi hari. Kami yakin anda juga sudah melakukan “doa pagi” setiap hari. Ada alasan yang paling mendasar yang membuat kita  melakukan aktivitas pagi hari ini. Kami tidur di malam hari, dan kami masih bisa melihat dan terbangun lagi. Kami  masih hidup, aku masih bernafas, kami masih bisa berjumpa dengan orang-orang yang kami kasihi: suami, isteri, anak, sahabat-sahabatku. Apakah ini berlebihan untuk disharing kan kepada anda? Justru karena hal ini sudah sangat biasa, sehingga kita tidak merasakannya atau bahkan beberapa dari antara kita tidak “memuliakan” Allah di pagi hari. Bangun pagi, mungkin kesiangan, takut terlambat masuk kantor, takut ditegur atasan dan menerima sangsi.

Saudara-saudari terkasih,
Kalau kita orang-orang yang mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya, mengapa kita sendiri tidak melakukan hal yang sama kepada Tuhan yang telah memberkati hidup kita dari waktu ke waktu. Apakah kita juga adalah orang tua yang mengajarkan kepada anak-anak kita untuk berdoa sebelum tidur dan setelah bangun tidur? Bagaimana kita bisa melakukan dan mengajarkan itu kepada mereka, kalau kita sendiri tidak pernah melakukannya? Catatan Matius “untuk memuliakan” Tuhan merupakan ayat yang menarik perhatian kami untuk kubagikan kepada anda hari ini. Hidup kita di dunia ini adalah hidup untuk memuliakan Allah dan tidak ada tujuan lain yang lebih baik dari motif itu. Kesadaran ini harus dibangun: kalau kita berbuat baik kepada sesama kita, bukan karena kita itu baik, tetapi karena Tuhan memampukan kita menemukan DiriNya di dalam orang-orang yang kita kasihi: “Sebab segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukanNya untuk Aku.” Kita sudah menerima berkat dari Tuhan, maka kita juga harus berbagi berkat dengan sesama kita. Selain berdoa memuliakan Tuhan, kita juga harus memuliakan Allah dengan mengasihi sesama kita.


Refleksi :
Apakah aku menyadari bahwa hidupku adalah karunuia Tuhan yang harus kusyukuri? Apakah aku memuliakan Tuhan dengan cara mengasihi sesamaku?

Marilah kita berdoa:
Bapa, Engkau telah mengutus Yesus ke dunia untuk menunjukkan kebaikanMu. Ajarilah kami untuk selalu memuliakan Dikau. Doa ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.