Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

KEHENDAK TUHAN

BC - 9619G | Kamis, 06 Desember 2018

Bacaan Hari ini:
Yes.26:1-6
Mzm.118:1,8-9,19-21,25-27a
Mat.7:21,24-27

”Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.”
Matius 7:21

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,
Dalam sebuah kesempatan kami bertemu seorang bapak yang sepuluh  tahun lebih tua dari aku.  Kami memiliki kesibukan berbeda. Kasmi masih berkegiatan di luar rumah, sedangkan temanku ini “profesi barunya” adalah MC: Monong Cucu. Setiap pagi ia ke gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi, tidak peduli hujan atau cuacanya cerah. Satu hal yang menggelitik hati kami ketika ia berkata kepada kami: “Saya sedang mempersiapkan hari kematian saya. Saya berusaha dekat dengan Tuhan, ya barang kali besok Tuhan memanggil  saya.” Padahal orang ini sehat-sehat secara fisik. Apakah  yang dimaksudkan oleh teman saya ini? Namun yang menggelitik kami lebih lagi adalah sabda Tuhan Yesus: “Melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga, akan  masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Saudara-saudari terkasih,
Hal masuk ke dalam Kerajaan Sorga, bukan soal seruan dan permohonan atau banyaknya doa yang diangkat, melainkan sebuah keputusan tegas untuk berpihak pada kehendak Allah. Tuhan menghendaki kita melakukan kehendakNya. Dengan perumpamaan Tuhan Yesus menjelaskan: “Setiap orang yang mendengar perkataanKu dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Sesungguhnya tujuan hidup setiap orang kristen adalah hidup untuk Allah di dunia ini dan berharap dapat meneruskannya memuliakan Allah kelak di sorga. Karena itu di tempat lain Tuhan Yesus berkata: Hendaklah engkau kudus! Kudus berarti dikhususkan untuk Allah, yang artinya hidup untuk memuliakan Tuhan dalam tutur kata dan tindakan. Seorang Kristen harus menata hidupnya dengan mendengarkan  Sabda Allah,  memahami, merenung kannya,  dan melakukannya dalam hidup sehari-hari. Seorang kristen harus menyata kan dirinya sebagai Alter Christus:  memberikan penghiburan kepada yang bersusah,  memberikan pengharapan kepada yang putus asa.

Saudara-saudari terkasi.

Identitas seorang kristen, bukanlah orang yang berseru-seru: Tuhan, Tuhan!, melainkan orang yang setia dan taat melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Maka seorang kristen disebutkan sebagai Terangdunia, Garam dunia. Seorang kristen adalah terang yang memberikan penerangan agar orang lain  tidak tinggal di dalam kegelapan. Terangnya tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dibagikan pada sesamanya. Seorang kristen adalah garam yang memberikan rasa nikmat dan semangat untuk orang lain. Seperti garam mengawetkan makanan, demikian seorang kristen harus menjadi harapan bagi saudaranya yang mulai lesu dan berbeban berat. Singkat kata, seorang kristen harus menjadi “berkat” untuk orang lain. Ia tidak puas karena sudah dicintai Tuhan, sebab kebahagiaanya adalah kalau orang lain juga dapat merasakan kasih Allah itu. Ia tidak hanya mendengarkan sabda Tuhan, tetapi juga menghayatinya dalam kesehariannya.

Saudara-saudari terkasih,
Masihkah ingat  slogan ini: ”Ora et Labora?” Berdoa dan Bekerja? Dalam pengertian tertentu kami menanggapinya begini: orang kristen itu tidak boleh puas hanya dengan berdoa, memuji-muji Tuhan dalam baitnya yang kudus, melainkan harus keluar dari kenyamanan yang dialami, lalu menemui saudara-saudaranya yang menderita. Mereka tidak hanya dikenyangkan oleh sabda dan roti ekaristi, tapi dia juga harus menerapkan sabda yang didengarnya dalam Perayaan Ekaristi kepada orang yang dijumpainya. Bapa Suci Fransiskus  menegaskan agar gereja mulai terlibat dan berkotor-kotor dengan kehidupan nyata dalam masyarakat, sehingga wajah Kristus dapat ditemukan dan dialami oleh semakin banyak orang. Bukankah setiap kali kita selesai merayakan perayaan Ekaristi di Gereja, kita diutus untuk kembali ke kehidupan sehari-hari. Imam berkata: “Misa sudah selesai, pergilah, kita diutus!” Diutus untuk berbuat apa? Untuk berbagi kebaikan pada  sesama! Berbagi kasih dan milik. Benar  apa yang kita dengar hari ini: ”Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.” Marilah kita  melakukan kebaikan dengan berbagi kasih dan milik pada sesama yang kita jumpai setiap hari.

 

Refleksi :
Apakah aku sudah tekun mendengarkan sabda Tuhan dan setia melaksanakannya?

Marilah kita berdoa:
Bapa kami bersyukur karena Tuhan Yesus telah mendidik kami agar tidak menjadi orang-orang yang munafik, melainkan menjadi pengikutNya yang tekun mendengarkan sabdaNya dan setia pula melaksanakannya. Doa ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.