Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

PERCAYA

BC - 9620G | Jumat, 07 Desember 2018

Bacaan Hari ini:
(PW St.Ambrosius)
Yes.29:17-24
Mzm.27:14,13-14
Mat.9:27-31

Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepadaNya. Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Jawab mereka: “Ya Tuhan, kami percaya”. Yesus pun menjamah mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut
Matius 9: 28 - 29

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Ketika Yesus sedang meneruskan perjalananNya, ada dua orang buta mengikutiNya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud’. Bayangkanlah! Sepanjang Yesus berjalan bersama rombonganNya, dua orang buta itu terus berseru-seru minta dikasihani! Ada rasa percaya berserah dari dua orang buta ini kepada Yesus, meski permintaan mereka tidak langsung dikabulkan oleh Yesus. Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, barulah kedua orang buta itu bisa datang menemui Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Jawab mereka: “Ya Tuhan, kami percaya”. Yesus tidak menyebutkan secara konkrit permintaan mereka, melainkan hanya melakukan sesuatu sesuai harapan  mereka. Kedua orang buta tadi pun langsung menanggapi Yesus dengan menjawab pasti, “Ya Tuhan, kami percaya”. Maka Yesus menjamah mereka, kataNya: “Jadilah kepadamu menurut imanmu”. Dan mereka pun melihat!                                         

Saudara-saudari terkasih.
Thomas Kempis menulis Firman tersebut di atas secara puitis sebagai berikut: “Percayalah kepadaKu dan berharaplah kepada belas kasihanKu”.   Firman hari ini menunjukkan kepada kita beberapa hal. Pertama, kebesaran Yesus menggugah orang buta untuk minta tolong disembuhkan dari kebutaanNya. Kedua, ketergugahan dirasa  sungguhan  kuat,  sehingga mereka setia minta tolong terus meski permintaan tidak langsung dikabulkan.  Ketiga, harapan mereka jelas, meski tidak eksplisit dinyatakan. Keempat, iman mereka bulat bahwa Yesus dapat mengabulkan harapan mereka. Kelima, manakala harapan yang diimani manusia tidak bertentangan atau sejalan dengan kehendak Bapa, pada akhirnya Yesus menerima iman dan pengharapan mereka. Demikianlah polanya: tergugah-setia berupaya-pengharapan jelas-iman bulat berserah-terjadilah. Apakah pola  ini kita alami juga dalam kehidupan sehari-hari?                    
Saudara-saudari terkasih.
Kita semua ibarat orang buta. Apa buktinya? Kita percaya, apapun yang diberikan Tuhan di hadapan kita sekarang adalah berkat terbaik. Namun sering kali, yang kita lihat di hadapan bukanlah berkat, melainkan masalah, atau... pun bila kita melihat berkat, tetap masih ada yang kurang. Mata kita tidak melihat berkat sepenuhnya. Kita semua juga menyadari adanya Tuhan atau kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Secara naluriah, kita bersandar pada Sang Kekuatan tersebut. Saat kita bingung, lemah, atau butuh pertolongan, kita berteriak meminta bantuan dari Sang Kekuatan. Misalnya, selesai melakukan satu aktivitas, sebelum lanjut melakukan aktivitas berikutnya, kita sering melakukan jeda sejenak, untuk memulihkan tenaga-konsentrasi-fokus-semangat, sehingga kita siap bekerja secara prima kembali. Macam-macam cara orang melakukan jeda. Ada yang snack break, chat via medsos, hening, relaksasi musik, olahraga ringan, doa, dan sebagainya.    

Saudara-saudari terkasih.
Thomas Kempis menulis fenomena tersebut secara puitis sebagai berikut: “Datanglah kepada Tuhan apabila tidak baik keadaanmu. Apa yang banyak menghalangi hiburan surgawi adalah karena kamu terlalu lambat memanjatkan doa. Karena sebelum kamu berdoa dengan semangat kepada Tuhan, kamu telah mencari bermacam-macam hiburan dan kesenangan dalam barang-barang dunia. Oleh karena itu, apa yang kamu lakukan itu hanya menolong sedikit, sampai kamu insaf bahwa Tuhanlah penolong mereka yang berharap kepadaNya, bahwa di luar Tuhan tidak ada pertolongan yang kuat, dan tidak ditemukan nasihat yang berguna, dan juga tidak ada obat penawar yang tahan lama. Apakah ada yang sulit bagi Tuhan? Atau apakah Tuhan itu sanggup, tetapi tidak berbuat apa-apa? Dimanakah kepercayaanmu? Teguhkanlah hatimu dan tetaplah tekun! Tuhan tidak ingin kita mencari kegembiraan sementara, melainkan untuk berjuang keras; tidak mencari kehormatan, tapi untuk menerima hinaan. Maka sabarkanlah hatimu, pupuklah keberanianmu! Tunggulah Tuhan, Dia akan datang menyembuhkanmu! Hiburan akan datang padamu pada saatnya”.                                      


REFLEKSI:
Percayakah saya kepada Tuhan? Mengapa saya masih mengandalkan kekuatan sendiri dan belum sepenuhnya bersandar pada pertolonganNya? Takutkah saya? 

 MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu pada hari ini. Kami percaya kepadaMu. Namun ketika menghadapi pencobaan, kami masih mudah takut dan bingung. Kami khawatir akan kesusahan, atau terlalu antusias dengan hal di kemudian hari, yang semuanya itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Berilah kami rahmat untuk mensyukuri berkatMu sekarang ini, dan setia percaya kepadaMu saja. Amin.