Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

LIMA ROTI DAN DUA IKAN

BC - 9652H | Selasa, 08 Januari 2019

Bacaan Hari ini:
(Hr Biasa sesudah Penampakan Tuhan)
Mzm 118:26-27
Yoh 4:7-10
Mar 6:34-44

Setelah Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat lalu memecah-mecahkan roti itu  dan memberikannya kepada murid-muridNya, supaya dibagi-bagikan kepada semua orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikanNya kepada semua mereka.
Markus 6 : 41

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Dalam kutipan Injil yang kita terima hari ini, Yesus tampak tenang dan tidak mengeluh kendati para murid hanya bisa membawa lima roti dan dua ikan kepadaNya. Padahal ada banyak orang sedang membutuhkan makanan. Atas makanan yang sedikit itu, Yesus tetap bersyukur kepada BapaNya. Karena diiringi rasa syukur dan semangat kebersamaan, rejeki yang tampaknya sangat sedikit akhirnya menjadi cukup dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Kiranya tak jauh dari pengalaman sehari-hari kita. Pagi hari kita berangkat ke tempat kerja, sampai di tempat kerja kita merasa lelah, karena jauh dari rumah, dan menghadapi berbagai macam orang yang semena-mena memacu kendaraannya. Tanpa memikirkan keselamatan orang lain, tanpa ada rasa hormat kepada orang lain. Di tempat kerja, menghadapi rekan kerja lain, yang datang terlambat, yang ngobrol saja di tempat kerja. Sore hari pulang, menemui meja makan yang lauknya hanya yang itu-itu saja. Kita menjadi kecewa, dan kesal. Yesus pun pada waktru itu menemui peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan kita. Namun Yesus tidak kesal, tidak kecewa. Ia tetap bersyukur.

Saudara-saudari terkasih.
Marilah kita menjadi manusia yang selalu ingat bersyukur atas segala hal yang terjadi atau kita terima dalam hidup sehari-hari. Dan marilah kita renungkan, ketika Yesus mengucap syukur atas lima roti dan dua ikan itu. Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat. Yesus memberkati lima roti dan dua ikan. Yesus tahu ada banyak orang yang menantikan untuk mendapatkan roti dan ikan itu. Maka lalu dipecah-pecahkanNya roti dan ikan itu, lalu dibagi-bagikan kepada para muridNya, supaya diberikan kepada semua mereka. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti itu sampai dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. Menakjubkan, mukjijat terjadi hari itu!

Saudara-saudari terkasih.
Suatu hari, sebelum  tidur malam, saya bercerita pada cucu-cucu saya. Saya buka cerita saya itu dengan bertanya: “Apa bedanya antara ayam dan bebek?” Natan, cucu pertama saya menjawab: “Bebek bisa berenang, ayam tidak bisa berenang!” Betul! Bebek bisa berenang, ayam tidak bisa berenang. Niko menjawab: “Ayam bisa terbang, bebek tidak bisa terbang!” Betul. Ayam bisa terbang, bebek tidak bisa terbang. Kemudian Neri, yang masih kecil, yang masih di TK menjawab: “Telor bebek besar, telor ayam kecil!” Betul, telor bebek besar, telor ayam kecil. Lalu kata saya: “Jawaban kalian: Natan, Niko dan Neri benar! Seratus untuk kalian. Tapi yang mau Eyang ceritakan, bagaimana kalau ayam mencari makan? Ayam setelah mendapat makan ayam minum. Lalu ia mengangkat kepalanya ke atas, baru kemudian ia mencari makan lagi. Tapi kalau bebek, mencari makan terus. Tidak pernah mengangkat kepalanya ke atas. Ayam bisa bersyukur dan berterimakasih. Bebek mencari makan terus. Bebek tidak pernah bersyukur dan berterimakasih.

Saudara-saudari terkasih.
Mungkin saja cerita saya kepada Natan, Niko dan Neri, ketiga cucu saya itu kurang pas bahkan tidak pas. Namun setidak-tidaknya, ada baiknya saya sampaikan kepada mereka. Saya yakin, pasti mereka pun senang mendengar cerita itu dan akan mengingatnya sampai besar nanti, bahwa kita ini harus bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan, atas apa pun yang telah kita terima. Dan saya pun yakin, sebagai orangtua, sebagai kakek dari cucu-cucu saya yang masih kecil, perlu kita berikan cerita-cerita yang berkaitan dengan keyakinan iman dan ajaran agama kita. Bahkan sangat penting pula kita ceritakan kisah-kisah yang terdapt dalam Kitab Suci, istimewanya Injil. Ada banyak kisah Tuhan Yesus yang menarik dan baik kita ceritakan kepada anak cucu kita. Mereka bukan saja membutuhkan makan jasmani, yang bergisi dan sehat. Namun mereka juga memerlukan makanan rohani yang bergisi dan sehat pula. Semoga sebagai orangtua dan yang sebagai yang dituakan di dalam keluarga, jangan kita lupa akan tugas kita itu!


REFLEKSI:
Apakah selama ini kita juga memperhatikan bukan saja kehidupan jasmani anak cucu kita, tetapi juga kehidupan rohaninya?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, bantulah kami untuk selalu bersyukur dan berterimakasih atas pengalaman hidup kami hingga hari kini. Ingatkanlah pula kami untuk selalu bersyukur dan berterimakasih atas rejeki yang kami terima hari demi hari, itu semua karena kemurahanMu kepada kami, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.