Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

PERGI UNTUK BERDOA

BC - 9653H | Rabu, 09 Januari 2019

Bacaan Hari ini:
Yoh 4:11-18
Mzm 72:1-2.10-11.12-13
Mrk 6:45-52

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-muridNya naik ke parahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.  
Markus 6 : 45 - 46

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Setelah Yesus memberi makan lima ribu orang dan menyuruh orang banyak pulang, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa. Yang dilakukan oleh Yesus itu mengingatkan kita semua, untuk menyadari bahwa sebagai orang beriman, kita hendaknya selalu mengisi waktu kita untuk karya-karya baik di mana pun kita berada, baik dalam keluarga, pekerjaan, dalam masyarakat dan dalam Gereja. Namun di sisi lain, Yesus juga meng ingatkan bahwa karya baik saja tidaklah cukup. Satu hal yang tetap diharapkan kita lakukan adalah berdoa, kita kembali pada Allah. Ada tiga hal perlu kita ketahui. Pertama: apa pun yang kita lakukan kita kembalikan kepada Tuhan. Kedua: kita selalu menimba kekuatan dan isnspirasi dari Tuhan. Melalui doa, kita menyadari bahwa kekuatan kita ada batasnya dan pikiran kita juga tidak sempurna. Ketiga: doa juga menjadi kesempatan kita untuk menyadari sikap kita. Saat kita mempunyai kelebihan, jangan kita menjadi sombong. Pada saat kekurangan hendaknya dengan rendah hati, memohon belas kasihan Tuhan.

Saudara-saudari terkasih.
Sering kita kurang menyadari, bahwa karya-karya baik kita itu sesungguhnya merupakan partisipasi kita dalam karya Allah. Kita telah ikut berperan serta dalam karya-karya Allah di dunia ini. Maka sungguh selayaknyalah dan sepantasnyalah kita  mensyukurinya, karena Allah memperkenankan kita ikut serta dalam karya kesela matanNya, kita dipakai oleh Allah sebagai alat di tanganNya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasih Allah di dunia ini. Oleh karena itu sesibuk apa pun kita, hendak nya kita bersedia meluangkan waktu, menyerahkan tenaga dan menggunakan pikiran untuk berkerja dan untuk berdoa. Seperti telah diteladankan oleh Tuhan Yesus, sepan jang hari Ia berkarya mewartakan Kasih Allah, Ia melakukan perbuatan kasih: menyem buhkan orang sakit, menguatkan orang lemah, mengusir setan dan memberi makan. Ketika orang banyak sudah pulang, Yesus pergi ke bukit untuk  berdoa, untuk mengungkapkan kasihNya pada BapaNya.  

Saudara-saudari terkasih.
Santo Yohanes dalam suratnya yang pertama menyatakan betapa bahagianya tinggal di dalam kasih Allah. Yohanes mengalami Allah lebih dahulu mengasihinya. Dia juga mengalami Yesus sebagai Juruselamat dan Roh Kudus sebagai penghibur dan penolong. Maka ia[un menyerukan dan mengajak agar setiap orang hidup di dalam kasih Allah. Dia juga membenarkan  bahwa di dalam kasih, tidak ada ketakutan. Sebaliknya, di dalam kasih ada: pelayanan, pengertian, pengampunan, kelemah lembutan, damai, pengorbanan dan  saling melayani. Dalam kasih, orang berani mengakui kesalahan, bisa bekerjasama, ada dialog, ada komunikasi dan ada kesetiakawanan. Kita pun juga mengalamni kasih yang sama. Buktinya Allah memberikan kehidupan, kesehatan, memberi saudara-saudari sekandung, tetangga, sahabat dan kenalan.  Dengan berbuat kasih, orang menjadi saudara, sahabat, bahkan menjadi kekasih, suami, isteri dan anak. Ada baiknya kita renungkan kasih Allah pada kita, saat kita Ulang Tahun kelahiran, hari pernikahan, ulang tahun perkawinan, melahirkan anak dengan selamat dan mendapat anak yang sehat. Kita disembuhkan dari sakit dan dihibur ketika kita berduka cita.

Saudara-saudari terkasih.
Seorang ibu dan puterinya, yang masih kecil. Sedang bersiap-siap untuk berdoa sebelum tidur. Ketika itu, ibunya lupa menutup pintu jendala, tampak di luar terang karena bulan bersinar terang. Puterinya bertanya: “Mami, apakah bulan itu lampunya Tuhan?” Jawab ibunya: “Iya! Bulan adalah lampunya Tuhan.” Tanya puterinya lagi: “Apakah lampunya Tuhan pernah mati?” Jawab ibunya: “Lampunya Tuhan tidak pernah mati!” Tanya puterinya lagi: “Kenapa malam hari gelap? Apakah Tuhan tidur?” Jawab ibunya: “Tuhan tidak pernah tidur!!” Tanya anaknya: “Kenapa mami tidur? Mami tidak seperti Tuhan!!” Jawab ibunya: “Karena mami sayang sama kamu. Agar besuk kamu bisa bangun pagi dan bisa masuk sekolah.” Jawab puterinya: “Mami  sayang pada aku ya?” Jawab ibunya: “Iya, mami sayang kamu! Ayo, kita berdoa, terus tidur!! “Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.”


REFLEKSI:
Bagaimanakah kita telah membiasakan anak-anak kita berdoa: sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah tidur?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus Kristus, kami mengucap syukur dan mengucap terimakasih, Engkau pakai untuk berbuat yang baik atas namaMu. Kami mohon semoga kami selalu dikuatkan untuk mewujudkan kebaikanMu serta mengerjakan pekerjaan-pekerjaanMu di dunia ini, ya Yesus.... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.