Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

IMAN YANG LUAR BIASA

BC - 9655P | Jumat, 11 Januari 2019

Bacaan Hari ini:
Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.

Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Lukas 5:12a.13

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Bacaan Injil pada hari ini menceritakan bahwa : “Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika orang kusta itu melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang kusta itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang kusta itu memberitahukannya kepada siapa pun juga. Dan setelah orang kusta itu sembuh, Yesus berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.  

Saudara-saudari terkasih,
Orang yang menderita sakit kusta dalam kisah Injil hari ini mempunyai sebuah pengetahuan dan keyakinan iman bahwa Yesus dapat membuat dia sembuh dari sakit kusta yang dideritanya. Persoalannya cuma satu, yaitu apakah Yesus mau menyembuhkan dia atau tidak. Kalau Yesus mau, maka dia pasti sembuh. Sebaliknya, kalau Yesus tidak mau, maka dia tidak akan bisa sembuh. Hal ini menjadi tanda dan bukti bahwa orang kusta itu memiliki iman yang luar biasa. Dalam keadaannya sebagai orang kusta, dia ternyata mempunyai keyakinan akan kuasa Yesus yang mampu menyembuhkannya. Iman yang luar biasa ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Dan iman yang luar biasa itu pula yang mengantar orang kusta itu untuk mengajukan sebuah permintaan yang sederhana kepada Yesus, yakni : “Tuan, jikalau Tuan mau, Tuan dapat menyembuhkan aku.” Dan Yesus tentu sangat tersentuh dengan permintaannya yang sederhana.

Saudara-saudari terkasih.
Orang kusta yang disembuhkan Yesus dalam Injil hari ini tidak hanya memiliki iman yang luar biasa, tetapi juga menempatkan Yesus setara atau sama dengan Allah. Hal ini dapat kita lihat dari sikap dan ucapannya. Maka dari orang kusta ini kita  bisa belajar dua hal penting supaya kita juga memiliki iman yang luar biasa. Pertama, dari sikap orang kusta tersebut. Orang kusta itu mengambil sikap bukan dengan berdiri atau berlutut, tetapi tersungkur di depan Tuhan Yesus. Tersungkur artinya jatuh terjerembab dengan mukanya mengenai atau menyentuh tanah. Selain itu, tersungkur juga berarti jatuh tiarab. Kata tersungkur dalam Kitab Suci adalah sikap merendahkan diri di hadapan Allah yang maha kuasa. Sedangkan hal kedua, yang kita pelajari dari orang kusta itu adalah ucapannya kepada Yesus. Orang kusta itu menyebut Yesus sebagai tuan. Jikalau orang kusta itu menempatkan Yesus sebagai tuan, maka orang kusta itu menempatkan diri sebagai hamba. Tuan adalah sebutan untuk orang yang memiliki kuasa atas hambanya.

Saudara-saudari terkasih,
Kalau kita membaca seluruh Injil, maka kita dapat menemukan bahwa beberapa orang yang disembuhkan Yesus memiliki sikap yang sama yakni mereka tersungkur di depan Yesus. Kita bisa membaca Yairus yang tersungkur di depan Yesus dan seorang perempuan yang disembuhkan Yesus setelah dia menjamah jubah Yesus tersungkur di depan Yesus, termasuk yang kerasukan setan pun tersungkur di depan Yesus. Dengan demikian, sikap tersungkur jadi sebuah sikap iman yang luar biasa. Selain itu, melalui sikap tersungkur kita mau menyatakan bahwa diri kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah yang maha kuasa dan maha besar. Kita tidak lebih dari debu. Maka, kita tidak bisa menyombongkan diri atau membanggakan kehebatan kita. Kesombongan justru membuat kita tidak mampu melihat dan mengalami kasih serta kuasa Allah dalam hidup kita. Dan hal ini menjadi salah satu penyebab sedikit atau berkurangnya mujizat dalam hidup kita. Karena itu, kita perlu belajar dari orang kusta yang memiliki iman yang luar biasa.                                                          


REFLEKSI:
Apakah selama ini kita sudah memiliki iman yang luar biasa seperti yang dimiliki oleh orang kusta dalam perikop Injil pada hari ini?                                                                                              

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus Kristus, Engkau menghendaki kami untuk memiliki iman yang luar biasa seperti yang dimiliki oleh orang kusta dalam Injil hari ini. Bantulah kami agar di tengah perkembangan dunia dan teknologi yang semakin canggih, kami tetap membuka diri untuk terus bertumbuh dalam iman. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.