Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

PERINTAH ALLAH

BC - 9688G | Selasa, 12 Pebruari 2019

Bacaan Hari ini:
Kej 1:1-19
Mrk 6:53-56

“Percuma mereka beribadat kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
Markus 7 : 7 - 8.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menyoroti sikap para murid Yesus yang makan dengan tangan tidak dibasuh lebih dulu. Menurut mereka , tindakan itu tidak sesuai dengan adat-istiadat nenek moyang. Sesungguhnya, Yesus pun tidak membenarkan perbuatan para muridNya yang makan tidak membasuh tangan terlebih dahulu. Yesus mengajak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk memahami hal yang mendasar, yang lebih mendalam akan Allah dan perintah-perintah Allah. Yesus mengajak mereka untuk selalu mendahulukan perintah Allah, dari pada aturan-aturan manusia. Yesus menginginkan agar adat-istiadat terarah kepada Allah. Dalam hidup sehari-hari, adat-istiadat sering lebih kita utamakan dari pada perintah Allah.  Padahal yang lebih penting adalah melaksanakan perintah Allah. Itu  tidak boleh ditunda, itu tidak boleh ditangguh- kan, itu tidak boleh diurungkan. Melaksanakan perintah Allah, lebih penting dari pada melaksanakan perintah manusia.

Saudara-saudari terkasih.
Semua peraturan dibuat dengan tujuan demi kepentingan dan kebaikan manusia. Karena itu, maka setiap peraturan bahkan termasuk peribadatan kepada Allah, tidak boleh mengorbankan kebaktian kepada orangtua, sedemikian  pun  sebaliknya: Kebak tian kepada orangtua, tidak boleh bertentangan dengan kehendak Allah. Allah mencip takan segala sesuatu dengan baik, Allah menciptakan manusia dengan “amat” baik, segambar dengan Allah. Pemahaman inilah yang  kurang diperhatikan dan dimengerti oleh para Ahli Taurat dalam memahami dan membuat peraturan. Dengan keras Yesus menegur sikap fanatik para ahli Taurat: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadat kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Semoga dalam setiap upaya serta usaha kita untuk menepati peraturan, selalu berdasar demi kepentingan dan kebaikan manusia  seturut dengan kehendak Allah.

Saudara-saudari terkasih.

Hati yang tulus melahirkan kebaikan, tapi hari yang akal bulus melahirkan kejahatan. Bukankah dunia kita penuh kejahatan ketika hukum dipermainkan dan ketulusan dikesampingkan. Bonum et malum, Kebaikan dan kejahatan. Tampaknya selalu berdampingan, beriringan. Bahkan ada yang mengatakan: “Kalau mau bicara tentang kebenaran, bicarakanlah tentang ketidak benaran!” Mencari kekurangan dan kesalahan orang baik, sama halnya dengan mencari kelebihan dan prestasi orang jahat. Yesus menjadi orang yang realistis, yang asli bersaksi tentang kebenaran, yang berani membuka makna sebuah hukum, yang mengajarkan kebenaran dan keadilan, yang menjalankan cintakasih, yang hadir untuk memberi teladan hidup yang dikehendaki  Allah, BapaNya dan juga Bapa kita yang ada di sorga. Bagi Yesus yang menajiskan bukan makanan yang masuk ke dalam tubuh, melainkan  rasa-prasangka, niat buruk, keinginan jahat, yang keluar dari hati, pikiran dan mulut  kita. Kata munafik, bisa kita artikan: Mulutnya sangar, Nalurinya iri, Pikirannya negatif. Semoga saja, kita bukanlah “pribadi-pribadi” yang seperti itu.

Saudara-saudari terkasih.
Kita bisa dengan cepat dan mudah tertarik pada penampilan lahiriah dan yang tampak mata. Kita tergoda pada penampilan yang menarik, yang apik, yang cantik, yang simpatik. Tubuh yang gagah, wajah yang rupawan, tutur kata yang sopan dan senyum yang menawan. Itulah kita, itulah manusia. Namun tak jarang pada ujung-ujungnya kita tertipu, kita menyesal dan kita kecewa. Yang tertampil dan yang terlihat, tidak selaras dengan yang sebenarnya, yang aslinya. Memang, melihat gadis manis lagi cantik, kulitnya halus dan mulus, rambutnya lembut siapa tidak kepencut?  Begitu pula melihat lelaki gagah, tampan, punya rumah dan mobil mewah, siapa tidak ingin ikut? Tidak mudah menemukan orang jujur, tulus dan setia. Situasi dan kondisi hidup, sering memaksa kita untuk bersikap munafik: berbohong dan berdusta. Yesus sangat mem- benci orang yang  bohong. Namun apakah kita harus mengalah terhadap sikap hidup yang sangat “dibenci” oleh Yesus?

 

REFLEKSI:
Apakah kita  dalam hidup sehari-hari masih dikuasai sikap suka berbohong, yang meru gikan dan menyusahkan orang lain?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, syukur kepadaMu atas segala teguran yang boleh kami terima lewat sabdaMu. Semoga teladan, pengajaran dan ketulusan hidupMu membuat kami lebih berani menjadi orang yang makin beriman, yang makin taat pada kehendak dan hukum cintakasihMu, ya Yesus… Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.