Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

AKU DALAM DIRI SESAMAMU

BC - 9714G | Senin, 11 Maret 2019

Bacaan Hari ini:
Im.19:1-2,11-18
Mat.25:31-46

“Dan raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”  
Matius 25:40


† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada akhir jaman, Anak Manusia akan datang untuk menghakimi semua orang. Yesus adalah Raja Semesta Alam. Ia akan datang kembali menilai apakah manusia ciptaan ini pantas atau tidak layak untuk masuk ke dalam rumahNya. Dalam kisah Pengadilan yang terakhir yang kita dengar hari ini, Tuhan memisahkan domba dari kambing, orang benar dari orang yang tidak benar. Ternyata hanya ada satu saja tolok ukur yang digunakan oleh Tuhan Yesus dalam memisahkan orang-orang itu ketika Ia mengadili mereka. Tolok ukur itu adalah bagaimana mereka sudah hidup bersama saudaranya di dunia ini. Apakah ada kepedulian yang diberikan untuk sesamanya dan apakah ada cinta yang dibagikan untuk saudaranya yang membutuhkan perhatian mereka. Itulah sebabnya Ia berkata ketika Aku lapar kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus kamu member Aku minum, ketika Aku telanjang, kamu member Aku pakaian, ketika Aku di penjara kamu melawati Aku. Cinta dan kepedulian yang diberikan untuk orang lain itu sesungguhnya adalah cinta dan kepedulian untuk Tuhan sendiri. Karena setiap orang adalah gambar Allah. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Saudara-saudari terkasih.
Rasul Yohanes, menulis dalam suratnya tentang pemahamannya atas firman Yesus ini sebagai berikut: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya.” Sesungguhnya penafsiran Yohanes ini sangat tepat dan sungguh benar. Inilah yang dicontohkan Tuhan Yesus  dalam perumpamaan “Orang Samaria” yang baik hati. Ia menolong orang yang dirampok di jalan dari Yerusalem menuju Yerikho. Dengan tulus dan penuh tanggungjawab ia membantu, merawat dan menyayangi orang yang menjadi pesakitan. Ini tidak dilakukan oleh Orang Lewi dan Imam yang melewati tempat kejadian itu. Mereka terhambat oleh peraturan keagamaan, sebab mereka akan dinilai “salah” jika menolong orang itu, sebab mereka baru selesai beribadah. Kasih macam apa itu?!

Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus menegaskan bahwa orang yang percaya kepadaNya harus mengerjakan pekerjaan kasih dengan tulus hati. Tidak boleh ada hambatan apa pun yang membatalkan para muridNya untuk mengasihi sesamanya yang membutuhkan kasihnya. Kalau ada orang yang lapar, kita harus memberi mereka makan, kalau peluang dan kemungkinan itu ada pada kita. Ingatkah kita pada sabda Yesus ketika orang banyak, sekira 5000 orang laki-laki, mengikuti Yesus dan mendengarkan Dia? Ketika para murid meminta Yesus agar rang laki-laki, mengikuti Yesus dan mendengarkan Dia? Ketika para murid meminta Yesus agar Yesus menyuruh mereka itu pergi, Yesus mengatakan begini: Tidak perlu mereka pergi. Kamu harus member mereka makan! Masalah muncul, dan para murid bingung. Inilah kata mereka: Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun mereka mendapat sepotong kecil saja! Tapi ada seorang anak yang mempunyai lima roti dan dua ikan yang dapat menyelamatkan. Tuhan Yesus memberkati roti dan ikan itu, dan merekapun makan kenyang  dan masih ada sisanya. Jadi kalau kita iklas memberi Tuhan akan memberkati. Maka benarlah firman ini: Yang memberi tidak akan kekurangan, dan yang menerima tidak akan berkelebihan. Sebab Tuhan merestui setiap tindakan  yang tulus hati.

Saudara-saudari terkasih,
Masihkah kita ingat akan lirik lagu berikut ini: “Kukasihi Dikau dengan kasih Tuhan, kukasihi Dikau dengan kasih Tuhan. Kulihat di wajahmu keagungan Tuhan, kukasihi  adalah kegiatan mengasihi sebagai habitus dan peradaban baru dalam bersosialisasi dengan orang lain. Yang kedua dan menarik adalah “dengan kasih Tuhan!” Kita diingatkan untuk mengasihi dengan tidak mengandalkan kemampuan kita sendiri. Jangan karena kita punya uang lalu kita bisa membagi-bagikan untuk dipamerkan. Yang kita cari bukan kemuliaan Tuhan tapi membesarkan nama kita, bukan? Kalau kita mempunyai kesanggupan untuk untuk berbagi berkat dengan sesama kita, janganlah menghitung untung rugi atau siapa yang akan kita bantu. Jangan ada perkataan pilih-pilih: Dia kan tidak seiman dengan kita? Dia kan bukan orang kita, ngapain kita repot-repot pakai ngurusin dia??  Orangnya malas, tidak usah dibantu, bisanya cuma ngre potin saja! Jangan, begitu. Lakukanlah dengan kasih Allah dan perlakukanlah sesa mamu seperti engkau mengasihi Allah. Alasannya sesungguhnya sederhana saja: Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Refleksi :
Apakah  aku telah mengasihi sesamaku sebagai bukti cintaku kepada Tuhan?

Marilah kita berdoa:
Bapa, bantulah kami untuk berbuat kasih dan melakukan amal kasih di masa prapaskah ini, sebagai buah dari pantang dan puasa yang kami kerjakan. Jauhkanlah kami dari sikap pilih-pilih dan mengasihi hanya orang tertentu saja.Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.