Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BERBUAT YANG TERBAIK

BC - 9717G | Kamis, 14 Maret 2019

Bacaan Hari ini:
Est.4:10a,10c-12,17-19
Mat.7:7-12

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Matius 7:12

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Do ut des. Saya memberi supaya engkau memberi saya. Peribahasa kuno Latin ini mungkin sudah lama tidak saudara dengar, namun gema dari pesan sepertinya masih kita jalankan atau setidaknya kita rasakan. Almarhum ibuku mempunyai sebuah buku berisi catatan yang rapi. Isi buku tersebut adalah nama orang di bagian kiri dan nilai uang dalam rupiah di sebelah kanan. Pada suatu hari saya bertanya kepada ibu:” Bu, itu catatan apa to? Kok isinya nama orang dan jumlah uang.” Ibu menjawab pendek: “Biar mama tidak lupa!” Saya bertanya lagi: “Biar tidak lupa apa, ma?” Ibuku menjawab singkat sambil tersenyum: “Biar tidak lupa pada orang-orang yang menyumbang dan memberikan perhatian pada waktu ayahmu meninggal!” “Maksudnya apa, ma?” “Supaya kita juga tidak lupa akan kebaikan orang lain. Kita harus membalasnya jika kelak mereka berkesusahan!” Aku diam, tidak berani bertanya lagi. Ternyata ibuku  mempunyai perhatian yang sangat mendalam bagi sesamanya. Sabda Tuhan hari ini memberi catatan penting pada peribahasa dan contoh yang aku kemukakan yaitu supaya melakukan apa yang kita harapkan dilakukan orang kepada kita. Itulah inti dari Kitab Taurat dan kitab para nabi. Kita harus berbuat kepada orang lain,  kalau kita ingin hal itu dibuat orang lain untuk kita.

Saudara-saudari terkasih,
Apa yang diajarkan oleh Hukum Taurat dan kitab para nabi adalah warisan untuk kehidupan. Inti dari padanya terungkap dalam hukum kasih yang berbunyi: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap jiwamu; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tentang itu Tuhan Yesus berfirman:” Tidak satu iota atau satu titik pun dari Kitab Taurat ini boleh ditiadakan”. Namun demikian Tuhan menyempurnakan apa yang sudah dijelaskan oleh kitab-kitab Perjanjian Lama itu. Dan kepada para muridNya Tuhan menegaskan: “Kalau hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Dalam kotbah di bukit kita bisa melihat dan menemukan hal itu. Salah satu sabda Yesus: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Saudara-saudari terkasih,
Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat tidak harus menerima terjadinya interaksi sosial di antara kita. Bahkan seorang filsuf bertutur begini: “Saya tidak bisa menyebut diri sebagai “aku” jika tidak ada engkau, kamu dan mereka.” Keberaadaan kita sedikit banyak juga ditentukan oleh kehadiran orang lain. Nilai diri kita juga sangat ditentukan bagimana kita bermanfaat bagi orang lain. Berguna untuk orang lain tidak perlu disebarkan lewat media cetak, layar kaca atau media social atau internet, melainkan dapat dirasakan oleh mereka yang berada paling banyak orang dapat mendengar, mengetahui atau membacanya. Perbuatan kecil jika dikerjakan dengan cinta yang besar dan tulus serta suci, bukan untuk mencari ketenaran atau pujian orang, itu lebih “amazing” dibanding tindakan besar yang digembar-gemborkan, diumumkan apalagi dilabel “sumbangan ini diberikan oleh bapak “X” atau perusahaan “Y”. Mana yang lebih diutamakan, orang yang mau ditolong atau promosi kebaikan orang per orang atau suatu label usaha tertentu. Maka perlu disadari ketika kita melakukan perbuatan baik. Yang penting bukan apa yang sudah kita kerjakan, melainkan harus ditanyakan apakah yang telah kita perbuat itu ada manfaatnya bagi mereka yang kita bantu dan kita perhatikan. Juga perlu direnungkan apakah yang kita kerjakan itu dimaksudkan agar suatu hari kelak kita mendapat manfaat dari amal kasih yang kita perbuat.” Saya member supaya engkau memberi. Saya membantu supaya anda memilih saya. Bukan kah itu  namanya ada pamrih?

Saudara-saudari terkasih,
Sebagai murid-muridNya, Tuhan Yesus mengutip kaidah emas yang inti dari Perjanjian Lama. Tuhan Yesus menambahkan, “Kalau engkau mengasihi orang yang mengasihimu apa lebihnya kamu dari hidup orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat?” Hidup kekristenan kita harus lebih sempurna dari itu. Mengasihi dan membantu siapa saja tanpa membedakan jenis kelaminnya, suku, budaya bahkan apapun iman atau kepercayaan. Maksudnya jelas dan itu harus diwartakan: Beginilah cara orang Kristen mengasihi sesamanya. Kita perlu mencontoh  untuk mengasihi sesama seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati; tidak menantikan balasan, melainkan menjadi bahagia karena melihat orang lain bahagia. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, kata hukum, tetapi Tuhan mau ini: “Kasihilah sesamamu manusia seperti Aku telah mengasihi kamu. Aku menjadi manusia seperti kamu, tidak meng hitung-hitung kesalahanmu dan menyerahkan nyawaKu untuk kamu.” Tugas kita memberikan yang terbaik untuk sesama kita, seperti Kristus Yesus memberikan hidup Nya untuk menyelamatkan kita.

Refleksi :
Apakah aku sudah meneladan Yesus berkorban untuk sesamaku?

Marilah kita berdoa:
Bapa, kami sering berbuat baik untuk diri sendir, tapi sekarang kami ingin untuk berbuat  lebih baik untuk kebahagiaan sesama. Bantulah kami untuk mewujudkan itu  lebih sungguh, ya Bapa. Amin.