Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

KARENA YESUS

BC - 9745C | Kamis, 11 April 2019

Bacaan Hari ini:
Kej.17:3-9
Yoh.8:51-59

Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Yohanes 6: 52. 56

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Pada suatu hari Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya: “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." Kata orang-orang Yahudi kepada Yesus: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Saudara-saudara terkasih :
Percakapan di antara Yesus dengan orang-orang Yahudi menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak mengenal siapa Yesus sebenarnya. Mereka mengenal Yesus hanya sebagai manusia. Ayahnya adalah seorang tukang kayu di Nazareth. Mereka heran ketika Yesus  mengucapkan kalimat, “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Siapakah Yesus itu sih, kok sampai berkata tentang maut, bahkan menentukan diri-Nya sebagai penentu hidup atau matinya seseorang? Apakah Yesus itu menganggap diri-Nya sejajar dengan Abraham, Bapa semua orang Yahudi yang sudah meninggal? Bagaimana mungkin seorang Yahudi biasa lebih besar daripada Abraham? Bahkan Yesus menyamakan diri-Nya adalah Allah? Untuk memperjelas siapakah diri-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham.  Yesus telah ada sebelum penciptaan dunia. Dan bahwa Ia memang berhak atas hidup-mati seseorang, karena Ia adalah Allah Putera yang mendapatkan kuasa itu dari Allah sendiri.

Saudara-saudara terkasih :
Orang kudus yang dirayakan Gereja hari ini adalah Santo Stanislaus. Orang kudus ini mendapatkan kuasa dari Allah untuk membagikan cinta-kasih kepada sesama manusia.  Santo Stanislaus adalah hadiah Allah kepada kedua orangtuanya yang sudah berusia senja ketika ia lahir. Ibu-bapanya mempersembahkan kembali dia kepada Allah yang telah mengabulkan permohonan mereka. Cita-cita hidupnya menjadi abdi Allah sebagai seorang rahib. Ia melepaskan segala-galanya, termasuk harta warisan orangtuanya. Ia lalu memasuki pendidikan imamat dan ditahbiskan menjadi imam. Kerajinan, kesalehan, dan kepandaiannya membuat dia sangat berpengaruh di seluruh keuskupan Krakow dan Kerajaan Polandia. Ia lalu ditahbiskan menjadi uskup di kota Krakow. Pada masa kepemimpinannya Kerajaan Polandia dikuasai Raja Boles laus. Nafsu kuasanya mendorongnya melakukan perbuatan tidak terpuji di hadapan mata rakyatnya. Ia menikahi dengan paksa isteri seorang prajuritnya. Mendengar berita itu Uskup Stanislaus menegur raja. Boleslaus marah. Uskup Stanislaus yang sedang merayakan misa pada saat itu dibunuh dengan kejam. Uskup Stanislaus digelari kudus oleh Paus Innocentius IV pada tahun 1523.

Saudara-saudara Terkasih:
Kita adalah manusia biasa. Kita harus memilih antara membuka diri terhadap karya Allah dalam diri kita, seperti Yesus dan Santo Stanislaus atau mempertanyakan siapakah Yesus itu, seperti orang-orang Yahudi. Karena Allah adalah kasih, maka Allah memberikan karunia kepada kita masing-masing. Walaupun karunia itu berbeda-beda, tetapi tetap ada satu karunia yang sama, yaitu karunia iman bahwa Allah adalah Tritunggal dan Yesus adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia. Dengan demikian, semestinya kita tidak perlu ragu-ragu akan ke-Allah-an Yesus. Tentu saja, hidup mati kita tergantung kepada kehendak Tuhan. Kita tidak punya peran apapun untuk menentukan waktu dan tempatnya. Hanya kepada penyelenggaraan Tuhan saja kita berpegang. Sebelum saat kematian itu datang apa yang harus kita lakukan? Kita harus meneladan Santo Stanislaus. Bagi orang kudus ini tidak ada satupun yang berharga di dunia, bahwa harta warisan dari orang tua, maupun kedudukan sosial yang terhormat. Semuanya ditinggalkannya. Hanya mengabdi Tuhan saja yang didamba kannya. Bahkan hidupnya berakhir dengan tragis ketika ia dibunuh dengan kejam oleh penguasa pada waktu itu. Inilah panggilan kita sebagai seorang beriman Kristiani, yaitu mengabdi Tuhan dengan setia sampai mati.

REFLEKSI:
Apakah kita masih mempertanyakan siapakah Yesus itu? Apakah kita belum mengimani bahwa Yesus adalah Allah Putera?

MARILAH KITA BERDOA:
Ya, Tuhan betapa tipis iman kami akan Putra-Mu Yesus Kristus. Kami sering mengingkari betapa hidup hanya bergantung kepada Yesus, PuteraMu terkasih. Tambahkanlah iman kami agar selamatlah hidup kami. Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, sebab Engkaulah Tuhan dan Penyelamat kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.