Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

YESUS DI DALAM BAPA

BC - 9746C | Jumat, 12 April 2019

Bacaan Hari ini:
Yer.20:10-13
Yoh,10:31-42

Yesus bersabda: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."
Yohanes 10:37-38

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Karena Yesus mengucapkan kalimat: “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya" sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah? Sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan? Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."  Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”

Saudara-saudara terkasih:
Yesus dan Yohanes adalah dua orang yang hadir pada masa terakhir zaman kenabian Bangsa Israel. Mereka memang bersaudara dalam darah, tetapi mereka disatukan terlebih karena panggilan dari Allah sendiri. Mereka dipanggil oleh Allah untuk mewartakan kabar gembira  dari Allah. Mereka dipanggil untuk mewartakan akan Allah sebagai kasih. Namun, mereka juga disatukan oleh penderitaan yang harus ditanggung diakhir karya keselamatan mereka. Yesus pada akhirnya meninggal melalui sengsara di kayu salib oleh para imam Yahudi. Yohanes Pembabtis pada akhirnya meninggal dengan kepala terpenggal oleh Herodes.

Saudara-saudara terkasih:
Yesus dan Yohanes adalah dua utusan Allah yang karyanya diberkati dengan kematian. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Apakah Allah tidak berkenan dengan pengorbanan ke dua putra yang dikasihi-Nya itu? Apakah Allah tidak berbelaskasih kepada putra mengasihi-Nya? Mengapa Allah tidak menolong Yesus dan Yohanes dari penderitaan mereka? Apa kehendak Allah? Apa panggilan Allah? Allah memerlukan pewarta-pewarta yang unggul untuk menyampaikan kabar gembira akan kasih Allah kepada manusia. Kabar gembira itu berbunyi demikian, bahwa Allah mengasihi manusia, karena itu Allah tidak berkenan seorang manusia pun akan mati di dalam dosa, sehingga Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi silih atas dosa-dosa manusia. Silih itu dilakukan dalam wujud sengsara dan wafat di kayu salib. Tentu saja tindakan silih ini tidak mudah. Hanya seorang Allah Putra saja yang akan mampu menanggungnya. Yesus adalah Allah Putra. Hanya di dalam Allah Bapa, Allah Putra akan mampu menanggung beratnya beban tugas. Jadi, Yesus tidak menghujat ketika menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah Putra. Orang-orang Yahudi tidak mampu memahami hal ini, sehingga mereka menghujat Yesus.

Saudara-saudara terkasih:
Bagaimana dengan Yohanes Pemandi. Yohanes adalah nabi terakhir di Israel. Ia mendapatkan tugas istimewa untuk mewartakan akan datang Sang Juru Selamat, Sang Imanuel, yaitu Yesus Kristus. Jadi, Yohanes bukanlah pelaku utama Karya Keselamatan, tetapi menyiapkan jalan bagi datangnya Sang Juru Selamat. Sebagai seorang nabi Yohanes tentu saja mendapatkan anugerah istimewa dari Allah. Dari Kitab Suci kita tahu, bahwa Yohanes Pemandi mempersiapkan diri di padang gurun. Hanya makan belalang dan madu hutan. Sungguh kehidupan yang keras. Sementara padang gurun sering dimaknai sebagai tempat kematian, karena tiada air, tiada pepohonan, tiada manusia lain. Pewartaan Yohanes berakhir dengan terpenggalnya kepalanya oleh Herodes. Kita pun diundang untuk menjadi pewarta kasih Allah, seperti Yesus dan Yohanes. Pasti berat jalan yang harus kita tempuh.  Namun, bukankah menjadi pewarta kasih adalah panggilan dari Allah sendiri? Artinya, Allah yang menugaskan kita, pasti Allah akan memberi kita bekal, berkat dan rahmat agar kita mampu bertahan dalam tugas pewartaan itu. Jadi, yang kita wartakan bukanlah diri kita sendiri, tetapi Allah sendiri yang kita wartakan. Kalau kita mewartakan diri kita sendiri, dan bukan Allah sendiri yang kiita wartakan maka akan sia-sialah dan gagallah karya keselamatan kita.  Dan kita tidak akan bertahan.

 

REFLEKSI:
Apakah kita sanggup menjadi pewarta kasih Allah? Apakah kiutra bersedia menderita demi kesetiaan iman kepada Allah Bapa kita?

MARILAH KITA BERDOA :
Ya Tuhan, kami ingin meneladan Yesus dan Yohanes yang bersedia menjadi pewarta kasih Allah. Walaupun berat dan berakhir dengan kematian mereka tetap taat pada panggilan-Mu. Bantulah kami agar juga menjadi pewarta yang handal. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.