Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

YESUS MATI UNTUK SELURUH BANGSA

BC - 9747C | Sabtu, 13 April 2019

Bacaan Hari ini:
Yeh.37:21-28
Yoh.11:45-56

” Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada Bangsa Yahudi: "
Yohanes 11:49-50

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Banyak di antara orang-orang Yahudi, yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada Yesus. Namun, ada di antara orang Yahudi itu yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Namun, Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Dan mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh  Yesus.


Saudara-saudari terkasih.
Mengapa Bangsa Yahudi begitu bernafsu membunuh Yesus? Siapakah Yesus itu bagi Bangsa Yahudi? Apakah seluruh Bangsa Yahudi benar-benar tidak menghendaki kehadiran Yesus? Yang jelas, Yesus tidak pernah melakukan pelanggaran seperti diperintahkan Nabi Musa di dalam Sepuluh Perintah Allah. Yesus sangat menaati Hukum Bangsa Israel. Bukankah Yesus malah banyak berbuat kebaikan bagi Bangsa Yahudi: menyembuhkan orang lumpuh, membukakan mata orang buta, menghidupkan orang mati, mengusir roh jahat dari tubuh seseorang, menggandakan roti dan ikan, menyampaikan kabar sukacita, mempertobatkan orang berdosa. Mata hati orang Yahudi sudah tertutup rapat dengan kebencian, keirihatian, dendam. Jadi, segala kebaikan yang dilakukan Yesus menjadi tidak ada. Bagi kaum Imam bangsa Yahudi, Yesus menjadi penghalang kekuasaan para Imam yang menjadi perantara antara bangsa Yahudi dengan Allah. Bagi kaum Farisi, Yesus seperti menelanjangi kemunafikan mereka, Yesus mempermalukan mereka, karena mereka menaruh kuk yang berat, padahal mereka tidak mau memasangkan kuk itu di pundak mereka sendiri. Mereka marah kepada Yesus.


Saudara-saudari terkasih:
Salah satu orang kudus yang dirayakan Gereja hari ini adalah Santo Martinus. Orang kudus ini menjadi Paus selama 7 tahun. Perhatiannya terhadap nasib kaum miskin sangat besar, sehingga ia sendiri pun hidup serba kekurangan. Martinus menolak Kaisar Konstantin II. Para serdadu berusaha membunuh Martinus, tetapi gagal. Martinus yang sudah tua dan sakit-sakitan itu ditangkap dan diasingkan ke pulau Naksos. Martinus ditawan dengan penderitaan yang mengerikan. Hukuman mati ditangguhkan dan diganti dengan pembuangan ke sebuah tempat sunyi hingga kematiannya pada tahun 655 sesudah empat tahun menderita sakit dan kelaparan. Santo Martinus ingin meneladan hidup Yesus. Ia mengalami penderitaan karena kekuasaan. Ia pun akhirnya mengalami kematian dalam kesendirian seperti Yesus wafat di kayu salib. Namun, kematian Yesus dan Santo Martinus bukanlah kematian yang sia-sia. Darah yang mereka kucurkan menjadi penyubur tumbuhnya iman banyak orang di segala bangsa dan zaman.


Saudara-saudari terkasih:
Kematian bukanlah peristiwa yang asing dalam kehidupan manusia. Siapapun akan meninggal, karena berbagai sebab. Ada yang karena umur tua, sakit, bencana alam, kecelakaan, pembunuhan, bahkan bunuh diri. Hanya manusia yang berniat membunuh dirinya sendiri dan orang lain. Namun, ada pula orang yang meninggal, justru karena hendak memberikan dirinya kepada orang lain. Tindakan pertama yang harus disebut adalah seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan anaknya. Bukankah memang ada ibu-ibu yang meninggal ketika melahirkan anaknya? Tindakan kedua dilakukan oleh para anggota regu penolong, entah pemadam kebakaran, atau badan SAR (search and rescue) Nasional, yang karena panggilan kemanusiaan mempertaruhkan hidupnya untuk mendaki gunung, menyelam di laut, menerobos kebakaran agar orang lain selamat. Kita sepakat bahwa kita semua akan meninggal pada waktunya. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan sebelum waktu itu datang? Menjadikan waktu hidup dan diri kita berharga! Bagaimana caranya? Dengan memberikan dirinya bagi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Apa yang kita berikan? Segala sesuatu yang kita punya. Berapa pun jumlahnya. Bagaimanapun kualitasnya. Dengan bekerja tekun dalam pekerjaan sehari-hari, dengan menyiapkan berbagai keperluan rumah tangga kita, dengan menghadiri pertemuan lingkungan, dengan menyapa setiap orang yang kita temui, dengan memberi derma bagi orang miskin, dengan memelihara lingkungan kita.


REFLEKSI:
Apakah kita sudah memberikan diri kita bagi orang lain? Apakah kita sudah memberi makna bagi waktu hidup kita? Memberikan diri bagi orang lain, melayani dan menjalani hidup kita sehari-hari dengan sebaik-baik?


MARILAH KITA BERDOA:
Ya Tuhan, kami masih mengisi waktu bagi kenikmatan kami sendiri. Ajarlah kami untuk memberikan hidup kami bagi orang lain, seperti yang dilakukan Yesus dan Santo Martinus. Engkaulah Penebus kami. Amin.