Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

YESUS MEMBAGIKAN DIRINYA

BC - 9748C | Minggu, 14 April 2019

Bacaan Hari ini:
Yes.50:4-7
Flp.2:6-11
Luk.22:14-23;56
( Hari Minggu Palma)

Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
Lukas 22:19

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.Pada suatu hari Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah." Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang." Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan. Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. Namun, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!" Lalu mulailah mereka mempersoalkan, siapa di antara mereka yang akan berbuat demikian.

Saudara-saudari terkasih.
Mengapa Yesus ingin makan bersama para Rasul? Bukankah makan bersama itu dilakukan karena ada sebuah peristiwa penting yang sedang diperingati atau hendak dirayakan? Bukankah para Rasul sudah bersama Yesus dalam seluruh perjalanan pewartaan-Nya di Israel? Apakah Yesus hendak meninggalkan para Rasul? Ataukah Yesus tidak menghendaki para Rasul mengikuti-Nya lagi? Nampaknya, perjamuan Yesus dengan para Rasul bukanlah perjamuan besar, seperti Perjamuan kawin di Kana. Mereka hanya makan malam biasa di rumah orang biasa. Jika demikian, apa istime wanya? Seluruh pertanyaan di atas terjawab ketika Yesus mengambil roti, mengucap doa syukur, memecahkannya, dan membagikan kepada mereka. Katanya, “"Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Yesus hendak menyampaikan tentang tubuh jasmaninya yang tidak akan dilihat lagi oleh para Rasul dan digantikan dengan roti, yang setelah diberkati menjadi Sakra men Maha Kudus. Yesus hendak memberi tugas agar para Rasul membagikan dirinya pada orang lain. Seperti Yesus yang membagikan hidup-Nya bagi para murid dan pengikut Nya. Demikianlah pula kita pun hendaknya.

Saudara-saudari terkasih.
Orang kudus yang dirayakan Gereja hari ini adalah Santa Lidwina. Orangtuanya dikenal sebagai orang beriman yang saleh dan taat agama. Dalam keluarganya ia adalah anak wanita satu-satunya. Ia cantik sekali. Sering ia merasa terganggu oleh kecantikannya, dan karena itu ia meminta kepada Tuhan untuk mengurangi kecantikannya. Pada musim dingin tahun 1395-1396 ia menderita sakit keras, tetapi segera sembuh ketika ia bermain ski dengan teman-temannya. Namun, ia terjatuh dan patah tulang rusuknya. Ia menjadi lumpuh dan selama 38 tahun hanya hidup dari komuni kudus saja. Dokter tidak mampu menyembuhkan penyakitnya. Lidwina sendiri masih jauh dari panggilan hidup sucinya dan menginginkan kesembuhan seperti anak-anak lain. Cahaya hidup baru terbit ketika pastor Yohanes Pot mengunjunginya secara teratur. Pastor itu memberinya satu nasehat, supaya Lidwina mempersatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus. Sejak itu ia berusaha merenungkan sengsara Kristus. Setelah tiga tahun ia terpanggil, ia mulai bermatiraga. Tidurnya di atas sebuah papan keras. Dari luka-lukanya keluarlah bau harum. Walaupun kamarnya tidak diterangi lampu, tetapi terang benderang, karena cahaya ajaib dari surga. Santa Lidwina dianugerahi gelar kesucian, karena seperti Yesus Ia rela membagikan diriNya, kasihNya serta  milikNya bagi orang lain.

Saudara-saudari terkasih.
Jika kita tidak punya sesuatu yang berlebih, bagaimana mungkin kita membagikan diri? Untuk makan sehari-hari kita hanya mampu makan dua kali sehari, bagaimana bisa kita membagikan makanan itu. Jangan-jangan kita malah tidak bertenaga untuk bekerja, atau bahkan jatuh sakit. Jika sehari-hari kita berangkat dari rumah sebelum fajar menyingsing dan masuk ke rumah setelah matahari terbenam, bagaimana mungkin kita menghadiri pertemuan lingkungan? Jika kita harus mengurusi tiga anak yang masih kecil-kecil, bagaimana mungkin kita mengikuti bakti sosial di panti asuhan? Dari ungkapan di atas nyata terlihat bahwa kita enggan untuk berbagi, karena justru dari kekuranganlah kita berbagi. Ingat perikop tentang janda miskin yang menyumbangkan derma dari sedikit uang yang dimilikinya. Kita akan cenderung berkata demikian, makanya Tuhan beri aku kelebihan, kekayaan, kemakmuran agar aku bisa berbagi. Nampaknya, Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan ini. Tuhan hanyalah   memerintahkan untuk membagi diri kita  kepada sesama. Apapun yang kita miliki. Tuhan tidak menuntut jumlah. Tuhan lebih memperhatikan hati yang tulus untuk berbagi, memberikan kasih dan milik kita.

REFLEKSI:
Apakah kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang berlimpah? Apakah kita rela mem bagikan kasih dan milik pada sesama kita?

MARILAH KITA BERDOA:
Ya Tuhan, Engkau sudah melimpahi dengan berbagai rahmat dan anugerah. Namun kami sering tidak mau membagikan kepada sesama yang membutuhkannya. Tuntunlah iman kami untuk terus menerus berbagi pada sesama. Engkaulah Tuhan kami, Yang Mahakasih kini dan sepanjang masa . Amin.