Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BELAJAR DARI SIKAP PETRUS

BC - 9750G | Selasa, 16 April 2019

Bacaan Hari ini:
Yes.49:1-6
Yos.13:21-33,36-38

“Kata Petrus kepadaNya: “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagiMu!” Jawab Yesus: “Nyawamu akan kauberikan bagiKu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
Yohanes 13:37-38

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada hari Minggu Palma dua hari yang lalu, Gereja kudus menampilkan sikap labil orang-orang Yahudi dalam liturgi Ekaristi. Pada bagian awal mereka mengelu-elukan Yesus sebagai seorang raja yang menunggang keledai dan baginya diserukan: Terpujilah yang datang dalam nama Tuhan. Tapi dalam Injil mereka berseru-seru untuk Yesus: Salibkanlah Dia, salibkanlah Dia! Hal itu terulang kembali  pada diri Petrus murid Tuhan Yesus sendiri. Sedemikian kuatnya cintanya kepada Yesus, ia bertekad untuk membela gurunya yang akan disalibkan. Bahkan ia siap bertaruh nyawa untuk Yesus dan keselamatanNya. Namun orang ini adalah orang yang menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali dan menyatakan bahwa ia tidak mengenal Yesus itu siapa. Itulah watak manusia yang selalu berusaha untuk mencari selamat sendiri dan dengan mudahnya mengingkari komitmen yang sudah mereka ucapkan. Ingkar janji adalah hal yang tidak disukai orang, betul tidak? Namun pertanyaannya, ialah: “Sadarkah Petrus dengan ucapannya itu? Adakah itu hanya emosi saja?? Dalam hari-hari dalam pekan suci ini, Gereja meminta keseriusan sikap dari kita, kita mau berpihak kepada Yesus atau sebaliknya kita mau mengkianati Yesus?

Saudara-saudari terkasih.
Dalam hidup kita setiap hari, kita dapat menemukan kisah-kisah seperti ini. Ada orang yang kecewa pada sahabatnya sendiri yang kepadanya ia mempercayakan hal-hal pribadi kepadanya. Ia kecewa karena ternyata orang yang dipercayayainya  itu mengkianati dan tidak bisa menjaga rahasia yang sangat pribadi. Bagaimana dengan Tuhan Yesus? Ia menyebut kita sahabatNya sebab Ia memberitahukan apa saja yang dikehendaki BapaNya, dan dia tidak lagi menyebut kita hamba. Yesus menantikan komitment kita. Yesus menginginkan kesetiaan dari para sahabatnya, yaitu kita. Ingat kah kita tentang perumpamaan Yesus tentang talenta. Tuhan Yesus meng gambarkan bahwa ada seorang yang akan bepergian jauh mempercayakan  kepada tiga orang hambanya 5, 3 dan 1 talenta untuk dikembangkan.  Kepada hamba-hamba yang menghasilkan, Ia berkata: “Baik sekali apa yang telah kau lakukan hai hambaku yang baik dan setia. Berbahagialah bersama dengan tuanmu.” Semoga sabda itu juga disampaikan Tuhan kepada kita.

Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus bukannya tidak menghargai apa yang akan dilakukan oleh Petrus, tapi Tuhan Yesus juga sungguh mengenal temperamen Petrus. Ia memang sosok yang meledak-ledak dan sedikit nekad. Ia tidak segan-segan menghunus pedangnya dan memotong telinga Malkus, hamba seorang imam agung ketika Yesus hendak ditangkap di dalam taman Getsemani. Petrus sangat bersemangat ketika Yesus menampakkan kemuliaannya di atas gunung bersama Elia dan Musa, ia usul untuk mendirikan kemah untuk ketiganya. Petrus memang murid yang memiliki keistimewaan, Petrus adalah orang yang kemudian ditetapkan oleh Yesus untuk menjadi gembala utama bagi domba-dombaNya, karena Ia terbukti mencintai Yesus lebih dari para murid yang lain. Petrus, Bapa Suci pertama, yang kemudian menjadi martir, saksi imannya kepada Yesus. Ia dibunuh dengan cara disalibkan, tetapi tidak seperti Gurunya, ia disalibkan dengan kepala di bawah. Sesungguhnya Petrus telah mengecewakan Gurunya, tapi Petrus adalah orang yang segera sadar akan kesalahannya dan membuat hati Yesus tertarik kepada  watak Petrus.  

Saudara-saudari terkasih.
Ada dua hal dapat kita temukan hari ini pada diri Petrus. Pertama bahwa Petrus adalah seorang pribadi yang tidak mengada-ada. Ia tampil sebagaimana adanya. Ia adalah seorang pria tua yang menampilkan kepribadiannya apa adanya. Apa yang dipikirkannya itu juga yang dikatakannya, itu juga yang dilakukannya. Ia adalah pribadi jujur yang tidak cari muka, tapi sedikit grusa-grusu. Sisi lain seorang Petrus adalah seorang pribadi yang penuh kasih dan mencoba menjadi pengabdi yang baik. Ia adalah seorang yang segera menyadari kekeliruannya dan segera pula ingin memperbaiki dirinya agar Yesus tahu kalau dia sudah menjadi sosok yang sangat mencintaiNya. Pelajaran yang dapat kita petik dari sosok Petrus hari ini adalah, kalau kita menjadi pengikut Yesus, kita harus serius dan jujur serta apa adanya mengikuti Yesus dengan segala yang ada pada kita. Tidak malu karena kita memiliki kekurangan, dan lebih bersemangat untuk mengikuti Yesus dengan mencoba memperbaiki segala yang belum sempurna yang ada dalam diri kita. Tuhan tahu apa pun tentang kita, termasuk kekurangan kita, tetapi apakah kita siap dibentuk oleh Yesus untuk dijadikan alat di dalam tanganNya seperti Petrus. Jangan takut kalau kita mempunyai kekurangan, kelemahan atau dosa. Ijinkanlah Yesus menegur dan menjadikan kita orang yang baik dan sahabatNya yang setia.


Refleksi :
Apakah kita sudah memper-tanggungjawab-kan iman kita dan mengasihi Yesus dengan sungguh-sungguh? Maukah  aku mengasihi Yesus dengan sungguh?

Marilah kita berdoa:
Bapa, ampunilah kami jika dalam beriman kami kerap tidak setia pada nazar dan janji kami, sehingga mendukakan hati Yesus. Bimbinglah kami seperti Engkau membimbing Petrus untuk menjadi murid yang setia. Ampunilah dosa-dosa kami, agar kami dapat merayakan Paskah dengan hati suci. Demi Kristus Tuhan kami.