Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

JADILAH ENGKAU TAHIR

BC - 10019H | Jumat, 10 Januari 2020

Bacaan Hari ini:

1Yoh.5:5-13

luk.5:12-16


Pada suatu kali Yesus berada  di sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah dan memohon: “Tuan, jika  Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Lukas 5 : 12.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta. Menariknya, penyembuhan ini terletak pada doa awal yang dimohonkan oleh orang yang sakit kusta itu; “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Orang kusta itu merasa tidak layak berhadapan dengan Yesus sebagai Guru. Orang kusta adalah orang najis, tidak boleh berhadapan langsung dengan seorang Guru. Kita perlu meniru sikap dari orang kusta itu. Memohon kepada Yesus, dan membiarkan Yesus sendiri yang memutuskannya untuk kehidupan kita. “Jika tuan mau...” Kadang kita memaksa Tuhan Yesus untuk meluluskan doa kita. Kita marah. Kita menyalahkan Tuhan Yesus. “Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mencintai aku. Aku sudah berdoa berkali-kali, sudah meminta berkali-kali. Tapi, Tuhan tidak mau mengabulkan doaku.” Doa yang benar adalah doa yang diletakkan ke pangkuan Tuhan Yesus. Dan membiarkan Tuhan Yesus memberikan yang terbaik buat kehidupan kita. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita, lebih dari pada diri kita, tahu diri kita. Bayangkanlah kita sedang sakit, maukah kita berseru seperti orang kusta itu: “Tuan, jika Tuan mau. Tuan dapat menyembuhkan aku.”    Tuhan  pasti menyembuhkan kita.

Saudara-saudari terkasih.
Selain derita fisik yang dialami para penderita kusta, derita yang terberat ialah bentuk pengucilan yang dilakukan masyarakat kepada mereka. Mereka dianggap najis, penyakit kusta dalam masyarakat Yahudi dipandang sebagai kutukan Tuhan. Pada jaman Tuhan Yesus, para penderita kusta juga mengalami nasib serupa. Mereka diasingkan, berpakaian compang camping, menutupi muka sambil berseru: “Najis, najis, najis...” Sembari membunyikan “bel”, disiang hari, pada malam hari membawa “lentera.” Mereka dijauhkan dan dibenci masyarakat pada umumnya. Hingga akhirnya mereka juga membenci dirinya sendiri. Maka kita bisa membayangkan rasa lega. Dan sukacita si kusta, ketika Tuhan Yesus tidak mengusirnya, tetapi justru mengulurkan tanganNya dan menjamahnya, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Kesem buhan pun terjadi, bukan hanya secara  fisik, tetapi juga secara batin. Barangkali di sekitar kita pun tinggal orang-orang yang tersisihkan dan dianggap sebagai sampah, disingkirkan dan dibuang. Mereka adalah citra Allah. Jangan kita menambah luka mere ka, sebab mereka punya hak menerima uluran tangan dan jamahan kasih Allah. Tidakkah sebagai murid Yesus, kita diundang untuk berbagai kasih serta milik dengan  mereka, “penderita kusta”.

Saudara-saudari terkasih.
Perkataan orang sakit kusta kepada Yesus sungguh menunjukkan sikap imannya yang benar. Dia memang ingin sekali sembuh, dia beserah diri kepada Yesus. Manusia menginginkan, tetapi Tuhan yang menentukan. Ungkapan ini kiranya tepat dipakai pada kutipan hari ini. Orang kusta  bukan saja menderita karena sakit kustanya,  tetapi juga menderita karena disingkirkan, dibuang dari masyarakat. Mereka dinilai sebagai barang kotor oleh masyarakat. Jangan sampai orang berdekatan dengan mereka, jangan pula sampai menyentuhnya. Oleh karena itu sungguh aneh bahwa Yesus mau mengulurkan tanganNya dan menjamah orang kusta itu. Kita dapat membayangkan betapa sungguh beruntung orang itu. Yesus rela menjadi kotor dan siap-siap ketularan sakit kusta. Iman yang besar orang kusta itu ternyata mendapat balasan berupa rahmat penyembuhan lewat tangan Yesus. Betapa bahagianya orang kusta itu ketika sembuh seketika. Kutipan Injil hari ini, dapat menajdi renungan bagi kita, tentang pribadi Yesus murah hati dan penuh belaskasih. Sebagai pengikut Yesus, kita diundang untuk melakukan hal yang serupa kendati dalam situasi kita yang serba terbatas. Kita perlu peka, kita perlu memperhatikan dan peduli pada saudara-saudari kita yang sakit, yang cacat dan yang dibuang dan disingkirkan oleh masyakarat, karena dinilai kotor, najis, menjijikkan dan berdosa.

Saudara-saudari terkasih.
Dewasa ini, ada berbagai hal yang ditakuti oleh banyak orang. Misalnya sakit: kanker,  hipertensi, diabetes, kolesterol dan stroke. Belum lama ini, datang kepada saya seorang ibu, berbagi cerita sehubungan dengan kegiatan pelayanan yang ditekuninya. Dia aktif dalam pelayanan orang sakit. Karena dia adalah seorang Prodiakon, dalam kunjungan orang sakit dia sekalian menerimakan Komuni. Tentu juga berdoa, memohon kesembuahan. Diceritakannya, suatu hari dia mengunjungi seorang gadis, mahasiswi, cantik lagi simpatik. Dia menjadi lumpuh serta kehilangan memorinya gara-gara “dijambret”  dan jatuh, kepalanya terbentur aspal di jalan. Melihat penderitaan gadis itu, ibu Prodiakon itu mengeluh dalam hatinya: “Tuhan Yesus engkau ada dimana? Mengapa tidak Engkau selamatkan gadis ini dari penjembret itu?? Ibu Prodiakon itu berdoa: “Tuhan jika Engkau mau, Engkau bisa menyembuhkan gadis ini.”  Mendengar doa ibu Prodiakon itu, gadis itu meneteslah air matanya, dia tersentuh,  mendengar doa ibu itu. Namun sayang, dia tidak bisa berkata, bibirnya lumpuh, kena stroke. Doa penuh iman, adalah relasi personal dengan Tuhan. Relasi itu berbuah  ke- sembuhan fisik dan psikis.

REFLEKSI:
Apakah selama ini kiita sudah memohon kepada Tuhan Yesus agar disembuhkan dari sakit jasmani dan rohani?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, jadikanl;ah kami seorang yang memiliki hati yang peduli dan perhatian pada sesama yang tidak bisa menolong dirinya sendiri. Bangkitkanlah semangat cinta dalam diri kami, untuk mencintai orang-orang yang disingkirkan, dijauhkan dan dibuang dari masyarakat, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.