Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

AKU HARUS MAKIN KECIL

BC - 10021L | Sabtu, 11 Januari 2020

Bacaan Hari ini:
1 Yoh.5:14-21
Yoh.3:22-30

Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengarkan suara mempelai laki-laki itu, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.    
Yohanes 3: 29 - 30

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada waktu itu, Yesus dan murid-muridNya pergi ke tanah Yudea. Ia diam di sana bersama-sama dengan mereka, dan membaptis. Pada saat yang bersamaan, Yohanes membaptis juga di Ainon,dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan, dan yang tentang Dia engkau telah memberikan kesaksian, Dia membaptis juga, dan semua orang pergi kepadaNya. Mengapa murid-murid Yohanes berkata demikian? Mungkin orang Yahudi membandingkan Yohanes dengan Yesus, pembaptisan dari siapakah yang lebih menyucikan. Mungkin murid-murid Yohanes merasa goyah, posisi gurunya tergeser oleh Yesus, yang dibaptis juga oleh gurunya.

Saudara-saudari terkasih.
Perbandingan antara diri dengan sesama, biasanya melahirkan perasaan diri lebih tinggi, ataupun sebaliknya, perasaan diri lebih rendah daripada sesama. Yang menjadi pusat perhatian adalah diri sendiri. Bagaimana Yohanes Pembaptis menanggapi pertanyaan murid-muridNya tersebut? Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa Aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi Aku diutus untuk mendahuluiNya. Yang empunya mempelai perempuan ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengarkan suara mempelai laki-laki itu, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes tegas menempatkan dirinya di bawah Tuhan Yesus .    

Saudara-saudari terkasih.
Dalam suatu kesempatan, tim sukses dari perusahaan ternama mengikuti pelatihan tari. Setelah 2-3 jam latihan sekaligus persiapan, mereka langsung diminta tampil di hadapan para petinggi perusahaan. Ada salah seorang ibu, yang sedang hamil besar, mengalami kesulitan dalam mengikuti tempo tarian kelompoknya. Saat gladi resik, ibu hamil itu minta istirahat, dan posisinya digantikan oleh asisten pelatih tari. Dengan asisten pelatih tari, tarian kelompok menjadi lebih kompak, luwes, dan indah dinikmati. Antusiasme semua penari membuncah, energi tarian kelompok terasa klimaks. Tepuk tangan usai gladi resik membahana. Hal ini membuat ibu yang hamil besar menjadi surut keberaniannya untuk tampil. Ia minta posisinya digantikan saja oleh asisten pelatih tari agar tarian timnya lebih prima. Ibu hamil merasa kondisi fisiknya tidak cukup kuat untuk melakukan gerak tari yang cepat, ia akan meng hambat laju tarian kelompoknya.          

Saudara-saudari terkasih.
Namun asisten pelatih tari teringat kembali pada fungsi dan tujuannya bekerja. Ia perlu memfasilitasi para peserta mengalami sendiri secara langsung untuk mendapat manfaat belajar. Meski ia antusias dan suka sekali menari, dan hasil kelompok memang akan lebih baik bila ia yang menari, namun bukan itu tugas pokoknya. Maka asisten pelatih tari berbicara dari hati dengan ibu yang hamil besar. Ia mengarahkan perhatian ibu kembali kepada tujuan utama dan fungsi peran masing-masing, jangan sampai terkecoh dengan mengutamakan hasil akhir saja. Ia meyakinkan ibu hamil, bahwa ibu hamil bisa. Ia menyediakan kesempatan bagi ibu hamil untuk tampil, sementara ia sendiri siap sedia menggantikan bila memang pada saatnya ibu hamil sungguhan tidak sanggup tampil. Dengan dukungan semua pihak, ibu hamil dapat tampil, hasil kelompok prima, dan semua pihak bersorak sorai. Dari pojokan, dalam keheningan, asisten pelatih tari bersukacita secara penuh. Sesungguhnya, tiap insan hanyalah stuntman dari kehadiran Allah, kuasa Allahlah yang bekerja dan patut dimuliakan. Manusia, sebagai stuntman, baiklah rendah hati dan  bersukacita   karena Allah.                                          

REFLEKSI:
Maukah saya menempatkan diri sebagai hamba, melayani sesama dengan segenap hati, demi kemuliaan Allah? 

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu pada hari ini. Kami sadar, bahwa setiap hari, kami masih senang dipuji. Kami lupa, selayaknyalah semua puja puji hanya ditujukan kepadaMu saja. Ampuni kami ya, Tuhan, terima kasih atas rahmat pengampunanMu. Ajari kami untuk rendah hati. Baiklah Engkau semakin besar, dan kami semakin kecil. Amin.