Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MENGIKUTI YESUS

BC - 10023L | Senin, 13 Januari 2020

Bacaan Hari ini:
1Sam 1:1:8
MRK.1:14-20

Saat Yesus meneruskan perjalananNya, dilihatNya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka, dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.    
Markus 1: 19 - 20

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
 Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kataNya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Bilamana kita adalah salah satu di antara orang banyak yang mendengar perkataan Yesus, bagaimana kita akan menanggapiNya? Mungkin kita akan merasa berdebar-debar. Di satu sisi, kita merasa takut akibat penangkapan Yohanes Pembaptis. Di sisi lain, harapan kita tumbuh oleh pernyataan bahwa waktunya telah tiba sekarang, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kita mungkin akan tergerak mengikuti ajakan Yesus untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Pada malam harinya, Yesus berdoa sepanjang waktu malam. Keesokan paginya, Ia menyusuri Danau Galilea. Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon, sedang menebarkan jala.

Saudara-saudari terkasih.
 Yesus berkata kepada Simon dan Andreas: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalananNya sedikit lagi, dilihatNya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka, dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. Bilamana kita ada dalam posisi Simon, Andreas, Yakobus, ataupun Yohanes, di mana kita sedang mengerjakan aktivitas pekerjaan kita, lalu kita dipanggil untuk mengikuti Yesus, apakah kita juga akan langsung meninggalkan aktivitas pekerjaan kita, harta benda yang kita miliki, ataupun orang tua kita dan kehidupan yang mapan? Ya, mungkin hati kita akan tergerak sebagaimana mereka juga. Dalam situasi kehidupan sekarang, bagaimana kita mengenali panggilan Yesus?KerajaanAllahsudahdekat? .

Saudara-saudari terkasih.
Adalah seorang ibu, yang berdoa membatin kepada Allah Yang Maha Rahim, memohon pekerjaan sebagai trainer. Doa ibu itu segera terkabul. Sore harinya, ia diminta bergabung dalam tim training ternama, dan langsung mulai terlibat memfasilitasi pelatihan kelas manager ke atas dua hari kemudian. Tak disangka, lokasi pelatihan satu kota dengan rumah orang tuanya. Sang ibu gembira, karena ia dapat bekerja sesuai panggilan, sekaligus berkesempatan menjenguk orang tuanya. Setahun berjalan. Jadual pelatihan semakin padat. Ibu mulai merasa tidak nyaman meninggalkan keluarganya berlama-lama. Keadaan keluarga dan rumah tampak kurang terurus saat ibu tugas pelatihan ke luar kota. Ibu juga kurang nyaman beramahtamah terlalu sering dengan istri baru ayahnya. Ibu mulai menginginkan pekerjaan tetap di kota tempat tinggalnya. Maka ibu mulai kembali berdoa membatin kepada Allah Yang Maha Rahim. Beberapa bulan kemudian, datanglah panggilan untuk bekerja di sebuah universitas, tak jauh dari rumah tinggalnya. Ibu menyambut pekerjaan itu dengan hati gembira.

Saudara-saudari terkasih.
Buah-buah rahmat datang. Ibu belajar menggerus egonya sebagai seorang tenaga profesional, melalui interaksi dengan atasan yang lebih muda dan lebih rendah strata pendidikannya. Ibu belajar disiplin dalam menggeluti aktivitas harian, sehingga lambat laun kehidupan di rumahnya pun lebih konsisten terurus. Ibu lega bisa memenuhi pesan ayahnya untuk membangun kehidupan di kota tempat tinggal. Bisnis bersama suaminya pun berkembang. Aktivitas pelayanan suaminya di keuskupan juga berkembang. Meskipun demikian, ibu masih khawatir, karena pendapatan minim atau pas-pasan. Ibu mulai tergoda untuk melepaskan pekerjaan tetapnya di universitas, dan kembali menggeluti profesinya yang lama. Godaan itu surut seiring kekhawatirannya akan finansial mengendap. Muncul lagi keinginan yang lain, yaitu total membaktikan diri kepada suaminya, dengan mendukung penuh pengembangan bisnis bersama. Hanya saja, ibu takut tidak siap, melakukan hunjuk bekti seutuhnya pada suaminya.


REFLEKSI:
Maukah saya menyadari intensi dari keputusan dan tindakan saya? Maukah saya mengakui emosi negatif selama ini?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu pada hari ini. Adakah Engkau memanggil saya, Yesus? Kalau kusadar panggilanMu itu, tentu akan kujawab langsung “Ya, Ya, Ya”. Namun sering kali, ketakutanku dan kelekatan hatiku lebih dominan, sehingga panggilanMu samar-samar kurang kudengar. Sudilah menuntun kami untuk bertobat dan mendampingi kami. Amin