Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

DIAM, KELUARLAH !

BC - 10023L | Selasa, 14 Januari 2020

Bacaan Hari ini:
1 sAM.1:1-8
Mrk.1:14-20

Orang banyak takjub mendengar pengajaran Yesus, sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli Taurat. Pada waktu itu, ada seorang yang kerasukan roh jahat berteriak: “...Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Yesus menghardiknya: “Diam, keluarlah daripadanya!”      
Markus 1: 22 - 25

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Bagaimanakah cara mengajar sebagai orang yang berkuasa? Jelas ada kekuatan yang dirasakan, seperti kebenaran mutlak, tak terbantahkan. Ditunjang oleh laku hidup pengajarnya. Berbeda dengan cara mengajar ahli pengetahuan. Isi pengajaran berupa paparan teori lengkap. Ada keangkuhan atas keluasan wawasan yang dibagikan, sekaligus sikap merendahkan kepada mereka yang pengetahuannya tidak sebanyak mereka. Ahli Taurat merasa dirinya pintar, meski perilakunya belum tentu sesuai dengan pengetahuan yang ia ajarkan. Ahli Taurat ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya. Maka orang banyak pun takjub mendengar pengajaran Yesus. Pada waktu itu, di dalam rumah ibadat, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: “Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”                                            

Saudara-saudari terkasih.
Tetapi Yesus menghardiknya, katanya: “Diam, keluarlah daripadanya!” Sebagai Anak Manusia, yang berpusat kepada kehendak Allah BapaNya, percaya dan hidup berserah penuh ke dalam penyelenggaraan Allah, Yesus tidak gentar menghadapi roh jahat. ImanNya mengatasi semua ketakutan yang mungkin sempat muncul. Dan sebagai Anak Manusia, yang tujuan hidupNya hanyalah untuk memuliakan Allah BapaNya saja, Ia pun tidak terpengaruh oleh sanjungan dari roh jahat. Dengan tegas, Yesus menghardik roh jahat untuk diam dan mengusirnya pergi. Yesus peka menangkap intensi murni di balik ucapan dan perilaku, baik dari roh jahat, orang lain, maupun diriNya sendiri. Yesus menempatkan segala intensi yang ada di bawah kehendak Allah BapaNya. Bagaimana Yesus dapat dengan jelas memilah kehendak Allah BapaNya dari  yang lain?           

Saudara-saudari terkasih.
Kerelaannya pergi meninggalkan Ibunda Maria dan menyerahkan diriNya untuk dibaptis oleh Yohanes membuatNya berkenan di hadapan Allah. PuasaNya 40 hari di padang gurun membuatNya dapat menundukkan hawa nafsu dan kelekatan tidak teraturNya sebagai manusia, mengalahkan godaan dan roh jahat, dan malaikat-malaikat Allah melayaniNya. Mungkin kita pun ingin seperti Yesus, tertarik untuk mengikuti jejak hidup Kristus, agar dapat menjadi baik dan benar. Hasrat untuk menjadi pribadi yang baik, benar, mengutamakan nilai-nilai luhur, dan mengupayakan kesucian ini dikenal sebagai libido adorandi, salah satu dari tiga hawa nafsu dan kelekatan tidak teratur, yang perlu kita murnikan agar tidak berdampak destruktif. Tanpa pemurnian, libido adorandi akan mendorong kita menjadi seperti orang Farisi dan ahli Taurat, yang belajar dan menguasai pengetahuan luas, berupaya hidup baik sesuai pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada para pendosa.       

Saudara-saudari terkasih.
Bagaimana caranya memurnikan keinginan untuk menjadi baik dan benar dengan mengikuti jejak hidup Kristus? Pertama-tama, fokus tujuan kita semata-mata menggenapi kehendak Allah Bapa, Allah Bapa dimuliakan semakin besar, sementara harga dari diri kita justru sebaliknya menjadi semakin kecil. Bilamana muncul rasa keberatan karena harga diri kita turun dan dikecilkan, maka sadarilah libido adorandi kita belum murni, karena masih mengejar harga diri pribadi. Seperti ibu yang menghadapi desakan anaknya untuk dibelikan mainan, di mana ibu dengan tegas tidak mengikuti desakan anak, sekaligus setia menemani anak hingga raungannya reda, demikian jugalah kita perlu menyikapi libido adorandi yang muncul. Saat terdorong untuk dinilai baik, kita justru perlu tegas berdiam dan tidak langsung mengikuti dorongan untuk berupaya dinilai baik. Hardiklah desakan yang merongrong. Setialah mengupayakan laku diam hingga desakan reda. Berdoalah memohon rahmat Tuhan untuk dapat bertahan dalam diam dan mencapai titik netral. Sadarilah bisikan kehendak Ilahi!       

                                      

REFLEKSI:
Saat desakan melakukan sesuatu muncul, bersediakah saya menghardiknya untuk diam dan menungguinya reda? 

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu pada hari ini. KuasaMu memikat hati kami untuk hidup mengikuti jejakMu. Kami sering kali tertipu oleh keinginan pribadi untuk menjadi diri yang baik dan benar, yang sebenarnya mengejar harga diri, bukan murni mengutamakan kehendakMu di atas keinginan kami sendiri. Demi Kristus Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.