Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MEMBERITAKAN INJIL

BC - 10024L | Rabu, 15 Januari 2020

Bacaan Hari ini:
1 sAM.3:1-10,19-20
mRK.1:29-39

Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Yesus lalu mengajak para murid pergi ke kota-kota lain supaya disana Ia juga memberitakan Injil.      
Markus 1: 34 – 35, 38

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Sekeluarnya dari rumah ibadat, Yesus pergi ke rumah Simon dan Andreas bersama dengan Yakobus dan Yohanes. Pada waktu itu, ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segara memberitahukannya kepada Yesus. Ia lalu menghampiri perempuan itu. Sambil memegang tangannya, Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Terlepas dari beban penyakitnya, ibu mertua Simon kemudian melayani mereka dengan hati ringan. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Saudara-saudari terkasih.
Mengapa Yesus tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara bahwa Dia adalah Mesias? Mari kita bayangkan bilamana kita adalah salah satu dari orang banyak yang berkerumun di rumah ibu mertua Simon, lalu  mendengar pernyataan lantang bahwa Yesus adalah Mesias, bagaimana reaksi kita? Bukankah pikiran kita akan terpengaruh? Melihat Yesus menyembuhkan orang, kita mudah menyetujui pernyataan Yesus memang Mesias. Kita mungkin juga langsung tergerak menyebarkan pernyataan itu ke mana-mana. Apakah itu kehendak Allah Bapa? Rupanya bukan demikian. Pernyataan kita bahwa Yesus adalah Tuhan, karena kita diberitahu lingkungan, dan bukan karena mengalaminya sendiri, sifatnya sekedar isi pikiran dan bukan keyakinan iman. Isi pikiran akan mudah berubah bila tidak disertai keyakinan iman. Allah Bapa ingin manusia sungguhan percaya berserah hidupnya ke dalam penyelenggaraan Ilahi, bukan sekedar berusaha percaya sesuai pengetahuan yang diajarkan.               

Saudara-saudari terkasih.

Setelah sepanjang senja hingga malam, Yesus menyembuhkan seluruh penduduk kota yang berkumpul di rumah ibu mertua Simon, pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Bagaimana Yesus menanggapi pernyataan tersebut? Yesus tidak bangkit dan menemui orang banyak yang mencariNya. HatiNya lepas bebas, tidak terikat pada norma kebaikan untuk memenuhi permintaan orang. Tindakan Yesus tidak reaktif mengikuti stimulus di luar diriNya. Namun beginilah jawab Yesus: “Marilah kita pergilah ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitahukan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitahukan Injil dalam rumah-rumah ibadat dan mengusir setan-setan. Yesus sadar akan tujuanNya hidup di dunia, dan Ia bertindak sesuai tujuan hidupNya tersebut.

Saudara-saudari terkasih.
Apakah pernyataan tujuan hidup Yesus bahwa Ia datang untuk memberitakan Injil perlu menjadi tujuan hidup kita juga? Adalah seorang pemudi yang menganut agama Katolik sejak kecil. Ketika kuliah, ia mulai tertarik dengan ajaran agama-agama lain. Ia juga mulai mempertanyakan apakah Yesus benar-benar Tuhan? Ia ragu dan takut sudah menyembah tuhan yang keliru. Kondisi batin pemudi ini dalam psikologi disebut sebagai pencarian identitas diri dalam bidang agama. Pemudi ini kemudian eksplorasi mempelajari ajaran agama-agama lain. Sampai ia mengalami berulang-ulang dalam hidupnya, bahwa ketika ia bersedia menanggung beban hidup, tidak menolak beban, tidak mengupayakan segala cara untuk meniadakan beban, ataupun tidak menghindari beban, ia lalu mengalami kebahagiaan yang langgeng. Melalui pengalaman hidupnya itu, ia sadar bahwa memikul salib merupakan jalan keselamatan. Ia memilih untuk setia bertobat setiap hari dan terus belajar memikul salibnya.                                                


REFLEKSI:
Bersediakah saya memohon rahmat untuk mengalami perjumpaan langsung dengan Yesus dalam hidup sehari-hari? 

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu pada hari ini. Kami sadar, pikiran kami mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Kami mudah merasa takut dan terburu-buru bertindak menyelesaikan masalah semu untuk menghilangkan ketakutan kami. Kami belum bertindak memberitakan Injil. Demi Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami.. Amin.