Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

DAMAI SEJAHTERA

BC - 10142H | Selasa, 12 Mei 2020

Bacaan Hari ini:
Kis.14:19-28
Yoh.14:27-31a

Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejkahteraKu Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Yohanes 14 : 27

†Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
“Damai Sejahtera” menjadi salam utama yang disampaikan oleh Yesus setelah kebangkitanNya. Dalam ungkapan ini, terkandung sebuah situasi yang sungguh men dalam, yakni “damai.” Yesus adalah Sang Damai itu sendiri dan sekarang Ia sendiri bersama manusia melalui penyertaanNya yang tidak tampak mata. Setiap orang yang menerima dan mengimani Yesus, dia akan hidup dalam damai itu. Yesus mengatakan dan melakukanNya kepada manusia yang mendambakan damai dan hidup bahagia. Maka kehadiran kita, seharusnya adalah kehadiran yang memberikan damai dan kesejukan bagi siapa saja. Memang hal ini tidaklah mudah dilakukan. Maka awalilah dengan membuka diri dan menerima damai dari Yesus. Ia akan tinggal di dalam diri dan hati kita,  dan selanjutnya Ia akan menyejukkan diri dan hati kita, dan itu akan memancar bagi semua orang. Pada waktu sekarang ini, rasanya damai amat sulit dirasakan. Namun  demikian, sebagai seorang Kristiani, damai tetap menjadi milik kita, sesulit apa pun situasi dan kondisinya. Maka sudah menjadi panggilan hidup kita, untuk membagikan damai sejahtera yang Yesus tinggalkan dan diberikan kepada kita. Marilah kita giat berbagi damai dan kesejukan kepada sesama kita. Kita jadikan diri dan hidup kita berkat bagi sesama. Kita jadikan milik kita berkat bagi sesama kita yang lebih memerlukannya. Oleh karena itu dalam hidup ini kita perlu selalu siap berbagi, mem beri  dimana pun berada.

Saudara-saudari terkasih.
Damai sejahtera yang ditinggalkan Yesus menunjukkan kehadiranNya sendiri yang selalu membawa damai. Sesudah bangkit, Yesus selalu menyapa murid-muridNya dengan “damai sejahtera”. Damai adalah buah dari hidup rukun dan saling mengasihi. Di jaman kita sekarang ini, semakin terdengar pengharapan agar terjadi damai sejah tera. Sebenarnya hal itu bisa terwujud, apalagi Yesus  telah meninggalkan dan mem berikan damai itu kepada kita. Yang  menghambat adalah cara hidup kita yang  tidak hidup rukun dan saling mengasihi. Kita ini sering terlalu emosional dalam hidup ini, apa saja bisa membuat kita marah, apa saja bisa membuat kita tersinggung, apa saja bisa membuat kita sakit hati, apa saja bisa membuat kita merasa dihina dan tidak dihormati. Apa maunya kita, apa yang kita inginkan? Kita merasa yang paling baik, paling benar, paling hebat, tidak punya salah, tidak punya dosa! Begitukah yang kita inginkan? Begitukah yang kita kehendaki agar orang berbuat kepada kita? Agar Tuhan berbuat itu untuk menuruti mau kita!

Saudara-saudari terkasih.
Saya masih sangat ingat, ketika saya dipeluk oleh ayah saya , sambil membisikkan kata kepada saya: “Pergilah, jangan terlalu memikirkan ayah dan ibumu. Jangan sedih...” Melihat mata saya meneteskan air mata, ayah segera memeluk saya. Dan ibu terisak sambil mencium dahiku... Semua yang saya sedihkan terasa sirna oleh pelukan ayah dan ciuman ibu saya. Hati sedih, hati geliash, hati takut menjadi sirna. Saya sungguh bangga mempunyai ayah dan ibu seperti mereka, peka merasakan apa yang sedang saya rasakan, meski saya tidak mengatakan kepada mereka. Ada berapa banyak orang dewasa ini,  sendirian dalam kesunyian, kesepian dan kesedihan. Berapa banyak orang hidup serumah, tetapi terasa jauh. Dekat tapi jauh. Betapa banyak pula orang yang sesungguhnya menyembunyikan jeritan dan teriakan ingin disapa, diperhatikan dan dipedulikan, dikasihi, dianggap ada. Bahkan ada berapa banyak orang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak berarti, yang menajauhkan diri dan menutup diri, takut, kuatir dan kehilangan harapan. Yesus yang telah bangkit dari kematian, mengajak kita menjadi manusia Paskah yang membangkitkan harapan, melalui kehadiran, sapaan, peneguhan yang menyejukkan dan menenteramkan hati serta mendamaikan batin. Mari kita membiasakan membawa kata-kata yang mene guhkan, membesarkan hati, berita baik, kabar baik, Injil Yesus kepada orang-orang yang selama ini masih hidup dalam tekanan, paksaan, ketakutan, kebimbangan, merasa lapar serta haus akan cintakasih Yesus. Tuhan Yesus bersabda: “Kamu harus memberi mereka makan!”

Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata perpisahan. Kita bisa merasakan susana sedih, Yang ditinggalkan dan diberikan Yesus kepada mereka bukan uang, bukan tanah, bukan rumah, bukan mobil, bukan perhiasan emas. Melainkan damai sejahtera, bukan damai seperti yang diberikan oleh dunia. Melainkan hubungan baik atas dasar cintakasih serta hidup rukun: saling mengasihi, melayani dan mengampunmi. “Tuhan Yesus gerakkanlkah bukan saja tangan kami untuk bekerja, melainkan juga jiwa, hati, pikiran kami, untuk makin teguh mengimaniMu.  Dan membagikan damai sejahtera Tuhan Yesus kepada sesama yang hidup tanpa dasar kepastian Tuhan Yesus.” Kirannya doa itu bisa kita panjatkan kepada Tuhan Yesus, sebagai ungkapan niat hati kita serta kecintaan kita pada Tuhan Yesus dan sesama kita. semoga doa itu tidak  sebagai doa saja, melainkan menjadi kenyataan yang kita lakukan, yang kita wujudkan dalam hidup kita sehari hari.


REFLEKSI:
Apakah  kita sudah berusaha dengan sungguh membagikan damai sejahtera Tuhan Yesus kepada sesama?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, semoga misteri Paskah yang Engkau alami memberikan kekuatan setiap kali kami menghadapi tantangan, bahkan penderitaan dalam hidup sehari-hari. Bantulah kami untuk selalu membawa damai sejahteraMu kepada sesama yang mendambakan damai. Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin