Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MENGALAMI “DAMAI” YANG SEJATI

BC - 100161G | Minggu, 31 Mei 2020

Bacaan Hari ini:
Kis.2:1-11
1Kor.12:3b-7,12-13
Yoh.20:19-23
(HR Pantekosta)

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.  Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera  bagi kamu!.”
Yohanes 20:19

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Lima puluh hari sesudah Yesus naik ke surga, murid-muridNya bersama Maria berhimpun sambil berdoa dan menantikan pencurahan Roh yang dijanjikan Yesus. Kisah Para Rasul menceriterakan peristiwa kedatangan Roh Kudus dalam bentuk bagaikan suatu tiupan keras dari langit, dan tampaklah bagaikan lidah-lidah api yang hinggap di atas murid-murid Yesus itu. Bukan hanya murid-murid Yesus yang berkumpul di suatu ruang, melainkan aneka suku dan bangsa dari segala jurusan bumi, yang ada di Yerusalem mengalami peristiwa itu. Semua dan setiap orang dapat saling mendengar dan memahami satu sama lain menurut bahasa masing-masing. Singkatnya: pewartaan Kabar Gembira Yesus Kristus ditujukan kepada semua bangsa tanpa perbedaan. Injil Kristus sungguh universal. Injil hari ini menegaskan bahwa “Damai Sejahtera” dicurahkan bukan saja kepada para rasul melainkan untuk sekalian bangsa.

Saudara-saudari terkasih,
Setelah Yesus diangkat ke sorga, para murid masih mengalami trauma dan ketakutan akan ancaman orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka mengunci diri di sebuah ruangan sambil menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Meskipun telah yakin dan sadar, bahwa Yesus sungguh hidup lagi, namun para rasul belum merasa berani dan teguh dalam hati untuk tampil ke masyarakat untuk melaksanakan tugas mereka sebagai saksi-saksi-Nya. Mereka masih merasa belum mampu, dan masih waswas, tertekan sebagai kelompok kecil dalam masyarakat. Hari ini Tuhan Yesus memberikan rasa “damai” dengan menampakkan diri kepada mereka yang ketakutan. Demikian pula Roh Kudus akhirnya memenuhi para rasul yang membuat mereka tidak “takut” lagi, melainkan berani keluar dan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang sudah bangkit. Mereka dipenuhi Roh Kudus dan pewartaan mereka dapat dimengerti oleh bangsa-bangsa lain meskipun mereka berbeda bahasa.

Saudara-saudari terkasih,
Pentakosta adalah suatu pewartaan pemberian Roh Kudus. Tetapi Roh itu bukan hanya diberikan melulu demi kepentingan pribadi perorangan, melainkan bagi kepentingan bersama, demi kepentingan Gereja dan dunia.  Lukas penulis Kisah Para Rasul, menggunakan bahasa alkitabiah. Ia mau mengatakan, bahwa murid-murid Yesus pada waktu Roh Kudus itu datang, mereka, mengalami perubahan batin. Seperti Lukas juga pernah berceritera dalam Injilnya bahwa kedua murid Yesus dari Emaus "hati mereka berkobar-kobar" ketika bertemu dengan Yesus, demikian juga pada saat menerima Roh Kudus, yang digambarkan bagaikan lidah-lidah nyala api, murid-murid Yesus berbicara dengan pelbagai bahasa yang berlainan. Mereka itu masing-masing dan bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka berkobar-kobar dan mencurahkan kegembiraan dalam hati mereka. Petrus dan para murid yang lain tidak lagi memiliki hambatan dan rasa takut, yang selama ini membuat mereka mengurung diri dari jangkauan orang-orang yang telah menyalibkan Yesus, guru mereka.

Saudara-saudari terkasih,
Inilah pesan Pentakosta yang disampaikan lewat Lukas kepada kita sekarang ini, baik sebagai individu perorangan, maupun kepada kita semua bersama sebagai Gereja, yang didirikan Kristus. Artinya kita harus mampu mewartakan dan menerangkan ajaran Kristus dengan bahasa yang dapat dimengerti semua orang. Bahasa itu adalah bahasa kasih! Bukan hanya dengan niat, janji, kata, melainkan dengan sikap hidup dan tindakan nyata! Hanya dengan demikian peristiwa Pentakosta bukan hanya terjadi dahulu dan sekali saja, tetapi setiap kali dapat terwujud kembali dan dapat diaktualisasikan serta dialami kembali sekarang ini juga.  Kebenaran iman atau keyakinan setiap orang, yang merasa dirinya sebagai orang kristiani sejati, meskipun yakin bahwa dirinya merasa memiliki Roh Kudus, namun apabila ia tidak membahasakan dirinya itu dengan bahasa dan tindakan kasih, maka kebenaran atau keyakinan iman yang dimilikinya itu adalah palsu. Kesanggupan untuk membahasakan iman dengan baik akan memberi dampak yang sempurna: Damai Kristus dialami orang-orang yang menerima pewartaan itu sebagai sukacita Injil.


REFLEKSI:
Apakah aku sudah memberikan kesaksian akan imanku kepada banyak orang? Apakah kesaksianku mendatangkan rasa damai kepada mereka?                           

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa yang baik, terimakasih untuk Roh Kudus yang Kaucurahkan ke dalam Gereja dan menyertainya selalu. Semoga Roh Kudus yang kami terima lewat sakramen baptis dan krisma menjadikan kami berani bersaksi bahwa Engkau adalah Bapa yang mengasihi kami dalam Yesus PuteraMu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.