Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

JANGANLAH GELISAH

BC - 10499L | Selasa, 04 Mei 2021

Bacaan Hari ini:
Kis.14:19-28
Yuk.14:27-31a

Yesus berkata: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”         
Yohanes 14: 27

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Yesus menjanjikan Penghibur kepada para muridNya. Ia berkata: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaKu, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”                                                  

Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus menyatakan dua penghiburan kepada kita dalam Firman hari ini. Pertama, saat kita menghadapi situasi hidup yang mengancam dan menyerang kita, Yesus paham bahwa kita refleks akan merasa gelisah serta terdorong untuk berpaling dari tujuan awal untuk mencari jalan keselamatan. Padahal sering kali jalan lain yang kita anggap akan menyelamatkan kita dari bahaya kasat mata, malah akan menjerumuskan kita ke dalam lubang penderitaan abadi, yaitu arah hidup kita ditentukan oleh hati kita yang penakut. Kita akan bersembunyi dari satu tempat pelarian ke tempat pelarian yang lain sepanjang hidup kita sampai maut menjemput dan kita tak berkuasa mengelak lagi. Kita seolah mengalami perkembangan dalam hidup. Padahal sesungguhnya jiwa kita diam di tempat, yaitu berada di bawah kekuasaan sang penderitaan. Oleh karena itulah Yesus menegaskan bahwa damai sejahtera telah Ia tinggalkan bagi kita. Hanya saja, damai sejahteraNya secara kasat mata tidak seperti damai sejahtera ala dunia,  yang berupaya untuk mengatasi atau pun meniadakan penderitaan.      .      

Saudara-saudari terkasih.
Saat Yesus pergi kepada Bapa dengan cara wafat di kayu salib, kita tidak langsung bisa menerimanya secara bulat. Ada kalanya kita menggugat dan berandai-andai. Andai saja Pilatus berani mengambil keputusan tegas mengikuti suara hatinya, tentu Yesus tidak harus disalibkan. Andai saja Yesus mau berkompromi dan beradaptasi dengan orang Farisi dan imam kepala, tentu Ia dapat mengajak mereka juga untuk bertobat kepada Bapa dan mendukungNya. Andai saja para rasul dan semua orang banyak bersatu mendukung Yesus, tentu tentara Roma, orang Farisi, dan imam kepala tidak dapat begitu saja menyalibkan Yesus. Dan seterusnya, dan seterusnya. Semua pengandaian kita manusia mengharapkan keselamatan yang kita anggap sejati, yaitu terbebas dari penderitaan. Padahal keselamatan yang kita anggap sejati ini ternyata adalah belenggu ketakutan yang bersembunyi di balik ide indah mengenai keselamatan nan sejati. Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu.” Ya, apakah kita dapat merasakan sukacita akan kepergian Yesus kepada BapaNya melalui cara disalibkan? Kita sulit menerimanya!        

Saudara-saudari terkasih.
Sikap Yesus yang diam menerima jalan hidup disalibkan dapat coba kita pahami melalui pernyataanNya: “Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang, dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaKu, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.” Yesus ingin kita semua paham bahwa Ia mengasihi Allah, dan melakukan segala sesuatu yang dikehendaki Allah atas diriNya, yaitu untuk bangun dan pergi meninggalkan dunia yang dikuasai oleh penderitaan. Mengikuti jejak hidup Yesus artinya kita terbuka menerima penderitaan. Saat penderitaan datang, kita tidak terburu-buru berupaya meniadakannya, melainkan menyambutnya sebagai rahmat  untuk kita alami. Kita menyambut penderitaan seperti kita menyambut kebahagiaan. Kesadaran baru ini membuat kita seperti terbangun dari mimpi atau bayangan menderita yang ada di kepala kita.                           

REFLEKSI:
Maukah saya menanggalkan interpretasi penderitaan dan siap menyambut rahmat?      

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas FirmanMu hari ini. Kami sadar, sering kali cepat menghakimi rahmat kejadian dari kehidupan sebagai bahagia atau derita. Kacamata pandang kami masih bersifat  sepihak pada satu sisi saja. Tanpa sadar,  kami terus berlari saat derita datang menghampiri. Kami seolah berjuang, padahal kami tidur. Yesus, bangunkanlah kami. Amin.