Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BERBELAS KASIH

BC - 10500L | Rabu, 05 Mei 2021

Bacaan Hari ini:
Kis.15:1-6
Yoh.15:1-8

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa orang itu telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Yesus kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”          
Yohanes 15: 6

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada waktu hari raya orang Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem. Di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba, ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda. Ada lima serambinya. Di serambi-serambi itu, berbaring sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang, dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu, dan menggoncangkan air itu, barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa orang itu telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Yesus kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Yesus  berbelas kasih kepada orang sakit.                                                                 

Saudara-saudari terkasih.
Kalau kita ada di sana, apakah yang akan kita lakukan? Kita mungkin akan mendahulukan kepentingan kita sendiri dulu daripada memperhatikan kebutuhan orang lain. Kalau kita ke sana sebagai orang sakit, kita akan berupaya menjadi yang terdahulu masuk ke dalam kolam agar penyakit kita sembuh. Demikian juga bila kita pergi ke sana untuk menghantarkan anggota keluarga yang sakit. Kita akan fokus membantu anggota keluarga kita untuk masuk ke kolam duluan agar sembuh. Dalam Firman hari ini, orang sakit itu juga menyatakan demikian kepada Yesus: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya, dan berjalan. Sebagai manusia, kita terbiasa hidup dengan mendahulukan pemenuhan kepentingan sendiri. Yesus, sebagai Sang Anak Manusia,  hidup untuk memenuhi kehendak BapaNya.                    .  

Saudara-saudari terkasih.
Di antara anggota-anggota keluarga, kita sering kali menghadapi perbedaan. Misalnya, saat ada yang bersedih karena merasa kehilangan benda kesayangannya, yang lain ada yang menghibur secara langsung, ada yang mendoakan, atau ada juga yang menganggapnya biasa saja. Ketika yang kehilangan lalu terus larut dalam kesedihannya, ada yang bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, ada yang jengkel karena menilainya berlebihan, atau ada yang diam-diam berdoa meminta petunjuk Allah bagaimana ia dapat meringankan beban saudaranya. Perbedaan sikap ada kalanya dapat berkembang menjadi konflik, yaitu ketika ada anggota keluarga yang mulai menuntut untuk diutamakan, atau untuk diikuti. Ia tidak menghormati sikap berbeda dari anggota yang lain. Ia merasa sikapnya yang paling benar, sehingga lalu menyalahkan yang berbeda, bahkan memaksa mereka untuk menghargai dan mengikutinya. Tentu saja ini melanggar area pribadi orang lain dan dapat memancing kemarahan. Kalau setiap anggota yang berbeda lalu bersikeras, maka terjadilah perpecahan. Namun perbedaan dapat menjadi sumber pelengkap dan persatuan jika ada cinta kasih.                  

Saudara-saudari terkasih.
Adalah seorang ibu yang bingung saat diminta untuk berbagi cerita mengenai cinta kasih yang ada di dalam keluarganya. Ia merasa tidak ada cinta kasih yang intens di dalam rumahnya. Anak-anaknya setiap hari ribut-ribut kecil saat tidak ada yang mau mengalah, namun tidak sampai bertengkar hebat atau berkepanjangan. Mereka saling menghibur saat ada yang bersedih, meski lebih suka beraktivitas sendiri-sendiri daripada bekerja sama. Suaminya tidak menafkahi secara sejahtera, namun tidak sampai berkekurangan. Ia setia membantu, meski tidak romantis. Jadi semuanya memang saling menyayangi, namun tidak terasa cinta kasih yang mendalam, sehingga ibu itu terdiam lama dan tidak memberikan jawaban. Dalam keadaan diam, ia teringat perkataan Yesus: “Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah.” Ia lalu terjaga dari lamunannya. Ia sadar ada standar keinginan pribadi yang telah melumpuhkan kaki cintanya. Ia lalu dengan ringan bercerita mengenai cinta kasih di dalam keluarganya.                                                 


REFLEKSI:
Maukah saya berhenti menghakimi dan mulai berbelas kasih kepada sesama?    

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, dalam hidup sehari-hari, kami sering kali terjebak oleh aturan dan ajaran kebenaran, sampai-sampai kami lupa berbuat baik kepada sesama. Atau kami berbuat baik dalam rangka bertindak benar. Padahal Engkau sendiri menegas kan melalui teladan hidupMu bahwa hukum yang mengatasi segala hukum adalah kasih. Berilah kami cintaMu. Amin.