Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

YESUS DITOLAK DI NAZARET

BC - 11534G | Monday, 04 March 2024

Bacaan Hari ini:
2 Raj.5:1-15b
Mzm.42:2.3;43:3.4
Luk.4:24-30

“Dan kataNya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Lukas 4:24, 29-30

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Ketika merenungkan Injil yang diwartakan oleh liturgi gereja hari ini, aku merasa heran dengan “penolakan” yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi “asal” Tuhan Yesus yaitu Nazaret. Menurut pendapatku: seharusnya mereka itu bangga akan kehadiran “nabi” Yesus di antara mereka; salah seorang dari warga kampong Nazaret menjadi sosok yang dikagumi dan dihormati orang-orang Yahudi dari berbagai tempat; tetapi mengapa Yesus justeru ditolak orang-orang sekampungnya? Orang-orang dari kota Blitar,bangga pada sosok Soekarno, presiden pertama Indonesia; mereka bahkan memberikan hormat yang besar setelah dia wafat. Orang Pacitan, bangga punya seorang Presiden SBY; orang Makasar bangga pada sosok Habibie; orang Solo bangga pada Presiden Jokowi. Jadi wajar saja kalau saya heran pada sikap orang-orang Nazaret yang menolak kehadiran Yesus. Ternyata alasan mereka adalah agar Yesus juga melakukan mujizat yang dibuatnya di berbagai tempat di tempat asalnya, agar mereka yakin. Namun Yesus tidak ingin memenuhi keinginan mereka.

Saudara-saudari terkasih,
Seorang nabi memang dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya. Karena mereka meragukan tentang  jatidirinya. Hal itu juga terjadi di masa sebelumnya. Elia nabi besar itu justeru tampil untuk seorang janda dari Sarfat, yaitu perempuan bukan dari orang-orang Israel; Elisa menyembuhkan dan mentahirkan seorang Naaman, penderita kusta; dia saja yang ditahirkan oleh Elisa, padahal di Israel ada banyak orang yang menderita kusta. Tuhan Yesus mau mengingatkan mereka, bahwa Allah bertindak menurut kehendakNya, supaya orang melihat karyaNya dan memuliakan Dia. Orang-orang Nazaret itu tahu dan mendengar segala sesuatu yang sudah dikerjakan oleh Yesus; bukannya bangga karena “saudara” mereka disanjung dan dipuja serta dihormati banyak orang, melainkan mereka malah “meragukannya”; mereka menuntut pembuktian yang sama supaya dilakukan Yesus di tempat asalNya. Bukankah Dia “hanya” seorang anak tukang kayu? Bagaimana hal itu bisa terjadi padanya?

Saudara-saudari terkasih,
Menarik untuk kita perhatikan, bahwa awal dari penolakan terhadap perutusan Yesus ke tengah-tengah bangsaNya Israel bermula di kota asalnya, Nazaret. Nazaret adalah sebuah kota di wilayah Galilea. “Apa yang dapat diharapkan dari sini?” Natanael, salah seorang muridNya mengatakan hal itu ketika baru pertama kali dia berjumpa dengan Yesus. Apa mungkin ada nabi dari Galilea? Itulah pokok utama pertanyaan Natanael; itulah keraguan yang hidup di benak dan pikiran orang-orang yang hidup di Nazaret, tempat Yesus dibesarkan oleh Yusuf dan Maria. Ketika Tuhan Yesus menyindir ketegaran hati mereka dengan mencontohkan apa yang dilakukan oleh Elia dan Elisa, bukan untuk orang-orang pilihan Yahweh, yaitu bangsa Israel, melainkan kepada “orang asing”, mereka marah kepada Yesus. “Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.” Orang-orang sekampungnya terlihat sangat marah, mereka ingin mencelakai Dia, bahkan mau membunuhNya; tetapi Yesus “berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi .” Hal itu mau mengatakan kepada kita bahwa “waktu-Nya” belum tiba (Yohanes 7:6); bahwa Yesus diutus untuk wafat dan menebus dosa umat manusia.

Saudara-saudari terkasih,
Ketika kita diundang oleh gereja untuk merefleksikan dan merenungkan Sabda Yesus dalam Kitab Suci, kita dibukakan pikiran dan hati kita untuk mengenal Yesus dengan baik dan secara pribadi. Hari-hari ini kita diajak untuk mengenal Yesus secara personal, apakah kita menerima Yesus sebagai nabi, dan juga sebagai Juruselamat kita? Kita mungkin sudah membaca Injil dan merenungkannya juga; atau setidak-tidaknya kita mendengarnya dalam pewartaan gereja ketika kita merayakan perayaan Ekaristi pada hari Minggu; tetapi apakah “ada perubahan” yang menguatkan iman kita kepada Yesus, yang kita imani selama ini? Apakah kita bukan menjadi orang-orang yang menolak Yesus karena tidak melakukan mujizat di tempat asalnya? Apakah kita juga mengharapkan Yesus melakukan mujizat dalam kehidupan kita? Tuhan, sudah lama aku mengikuti Engkau dan percaya kepadaMu, mengapa hidupku biasa-biasa saja? Mengapa Engkau tidak mengubah nasib kami? Apakah Engkau tidak bisa melakukan mujizatMu untuk keluarga kami?  Dan kita menjadi orang Kristen yang mulai meragukan “kebesaran” kuasa Yesus dan menuntut apa yang kita inginkan, dan bukan apa yang menjadi keputusan Tuhan yang harus terjadi. Apa bedanya kita dengan orang-orang yang menolak Yesus itu? Beriman artinya pasrah; beriman berarti mengharapkan kehendak Tuhan yang terjadi, bukan memaksakan kehendak kita.


REFLEKSI:
Apakah aku  percaya kepada Yesus dan membiarkan Dia bertindak dalam hidupku?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, kami percaya bahwa Yesus adalah PuteraMu yang Kauutus untuk menebus kami orang yang berdosa ini. Tambahkanlah iman kami kepadaNya. Kuatkanlah percaya kami akan dia yang Kauutus. Dialah Yesus Tuhan kami. Amin.