Bacaan Hari ini:
Yes.61:1-3a,6a,8b-9
Mzm.89:89:21-22,25,27
Why.1:5-8
Luk.4:16-21
Kel.12:1-8,11-14
Mzm.116:12-13,15-16bc,17-18
1Kor.11:23-26
Yoh.13:1-15
( Kamis Putih )
“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu suapaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Yohanes 13:14-15
Saudara-saudari terkasih,
Tentang Liturgi Tri Hari Suci yang segera kita rayakan mulai malam Perjamuan Kudus, Kamis Putih hingga Vigili Paskah, adalah suatu rangkaian yang tak terpisahkan. Hal itu tampak namun mungkin kita tidak menyadarinya. Bahwa Ekaristi malam ini dibuka dengan “Tanda Salib” tetapi tidak diakhiri dengan berkat penutup. Perayaan Jumar Agung dan penyembahan salib tidak diawali dan ditutup dengan “Tanda Salib”; baru pada malam Vigili Paskah diakhiri dengan berkat Meriah Paskah dengan “Tanda Salib”. Sesungguhnya itulah makna TRI HARI SUCI, karena ketiganya menjadi satu kesatuan perayaan liturgis yang khas dan istimewa untuk memahkotai Paskah KEBANGKITAN, yang merupakan puncak dan pusat iman kekristenan kita. Hari ini kita mengawali perayaan Tri Hari Suci dengan Liturgi Ekaristi Perjamuan Malam Terakhir yang kita kenal dengan hari Kamis Putih.
Saudara-saudari terkasih,
Injil yang diwartakan pada hari ini diambil dari Matius 13:1-15. Menarik untuk diperhatikan bahwa Penginjil Matius mencoba “mendramatisasi” peristiwa “pembasuhan kaki para murid” Yesus. Sosok Petrus ditampilkan sebagai seseorang yang blak-blakan. Ia menghargai Gurunya; lalu ia protes, ia tidak mau dibasuh kakinya. Namun Tuhan Yesus mengingatkan dia, kataNya: “Jikalau Aku tidak membasih engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku.” Petrus yang temperamental itu menjawab : “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Itulah Petrus. Namun intinya adalah yang kita dengar pada hari ini terpusat pada firman Yesus ini: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu suapaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Ada dua hal yang saya temukan: pertama: Betapa Yesus yang adalah Tuhan dan Guru mereka telah merendahkan diri untuk melayani para muridNya; kedua: Yesus menjadikan ini teladan bagi mereka agar mereka juga berbuat seperti Yesus dengan “saling membasuh” kaki, artinya saling mengasihi dan melayani dalam kerendahan hati. Bukankah itu juga yang kita lihat didramatisasikan oleh imam pada perayaan ekaristi Malam Perjamuan Terakhir hari ini?
Saudara-saudari terkasih,
Saya ingin kali ini untuk fokus pada kata “saling membasuh kaki”. Tuhan mencontohkan kepada kita untuk dengan penuh kerendahan hati melayani dengan cinta. Maka dalam renungan kali ini saya mengangkat judul renungan “MENGASIHI SEPERTI YESUS”. Tidak ada gengsi, tetapi penuh dengan kerendahan hati; tidak ada kesombongan status, tetapi menghargai setiap orang tanpa pembedaan. Tuhan Yesus sekalipun Guru mereka, Ia tidak hanya mengajar dengan “mulutNya” tetapi membuktikan dengan “tindakannya”. Kita kenal istilah “the power of word” kekuatan kata-kata, tetapi ada yang lebih powerful yaitu “Tindakan yang membungkam kata-kata”, “the power of action”. Bukan NATO, No Action Talk Only: tanpa tindakan tapi omongan saja, melainkan “No Talk Action Only”; tidak banyak kotbah, tapi dibuktikan agar dialami. Cinta Yesus adalah pengalaman para murid dan mereka merasakan itu. Tugas mereka dan kita melakukan apa yang sudah dicontohkan Yesus: Kasihilah sesamamu, seperti AKU telah mengasihi KAMU.
REFLEKSI:
Apakah aku mau dan sudah melaksanakan apa yang telah dicontohkan Tuhan Yesus?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih bahwa hari ini kami telah disegarkan kembali oleh firman Tuhan untuk meneladan Dia, mengasihi sesama dengan tulus dan rendah hati. Bantulah kami untuk berpegang dan melakukan firmanNya. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.