Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

KAMU HARUS MEMBERI MAKAN

BC - 10953G | Senin, 01 Agustus 2022

Bacaan Hari ini:
Yer.28:1-17
Mzm.119:29,43,79,80,95,102
Mat.14:13-21
( PW S Alfonsus,Maria De Liguori )

“ Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi. Kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Jawab Yesus: “Bawalah ke mari kepadaKu.”
Matius 14:16-18

 Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Kisah mujizat penggandaan roti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk memberi makan lima ribu orang ini, dapat kita temui dalam ke-empat Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Hampir dapat saya pastikan tidak seorang Kristen pun yang belum pernah mendengar salah satu versi dari kisah penggandaan lima roti dan dua ikan tersebut. Konteks dari mujizat penggandaan roti ini adalah bahwa orang yang banyak itu datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Tuhan Yesus tergerak hatiNya dan menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka sangat terpesona pada sosok Yesus dan mendengarkan Dia, sampai hari menjelang malam, mereka tetap setia berada dekat dengan Yesus. Para murid Yesus melihat situasi ini dan minta kepada Yesus mereka dipulangkan saja agar mereka bisa mengisi perut mereka. Tetapi ternyata Tuhan Yesus meminta supaya para muridNya “memberi mereka makan”. Para murid itu berkata dengan polos, bahwa yang mereka punya hanya “lima roti dan dua ikan”. Di luar perkiraan mereka, Yesus meminta apa yang mereka punya itu, dan memberkatiNya.

Saudara-saudari terkasih,
Setelah memberkati “milik mereka”, Tuhan Yesus minta para muridNya untuk membagi-bagikan roti yang dipecah-pecahkanNya. Para murid itu melakukan persis yang diperintahkan oleh Yesus, guru mereka. Penginjil mengatakan bahwa “mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, termasuk perempuan dan anak-anak. Sulit saya membayangkan bahwa dari lima roti dan dua ikan, Tuhan Yesus bisa memberi makan “hingga kenyang” orang sebanyak ini; bahkan ada tersisa potongan-potongan sebanyak 12 bakul penuh. Kesan pertama yang muncul di hatiku saat membaca perikop lengkap dari Injil Matius ini adalah “Di dalam tangan Tuhan tidak ada yang mustahil; Tuhan bisa melakukan apa yang ia kehendaki dan bahwa apapun yang kita punya, kalau kita mohon kepada Tuhan untuk memberkati, pasti mendatangkan “berkat”  dan “manfaat” yang teramat dahsyat. Kecemasan para murid tentang orang-orang yang “kelelahan” mengikuti dan setia mendengarkan Tuhan Yesus, telah terbayar lunas dengan memberi kesempatan para murid untuk “memberi makan” dengan membagi-bagikan roti yang telah diberkati.

Saudara-saudari terkasih,
Dalam hidup kita setiap hari, kita sering juga mempunyai pengalaman-pengalaman yang tidak kalah sulitnya untuk memecahkannya. Kesulitan atau masalah yang kita hadapi bisa bermacam dan beragam; tingkat kesulitannya pun terkadadang membuat kita nyaris putus asa, lalu mengambil keputusan yang tergesa-gesa, sebagaimana yang dilakukan oleh para murid Tuhan Yesus itu. Mereka dengan “ringan saja” berkata kepada Yesus: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Surulah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Sebagai “tuan rumah” Tuhan Yesus tidak mau “lepas tangan”; mereka harus memberi mereka makan. Masalahnya semakin rumit, di samping tempat itu jauh dari desa, hari sudah malam, bekal yang mereka punya hanya “lima roti dan dua ikan”. Untungnya mereka tidak berdiam diri, tetapi berkata “jujur” kepada Yesus bahwa yang ada pada mereka hanya lima roti dan dua ikan; mereka pasti mengatakan itu karena “apakah artinya” ini untuk orang-orang sebanyak itu. Untuk mereka sendiri dan Yesus saja rasanya “pas-pasan”. Kejujuran mereka itu disambut dengan baik oleh Tuhan Yesus; Ia meminta apa yang ada pada mereka dan memberkati, maka “terjadilah” mujizat penggandaan roti tersebut.

Saudara-saudari terkasih,
Kita hidup bukan tanpa masalah. Orang lain juga memiliki masalahnya sendiri. Tiap-tiap orang, tiap-tiap keluarga mempunyai “salibnya” sendiri. Orang banyak itu datang kepada Yesus. Ada yang membawa orang sakit di antara mereka. Karena tergerak hatiNya, Tuhan menyembuhkan mereka yang sakit. Mereka juga  ingin mendapatkan siraman “rohani” dari perkataan Tuhan Yesus sendiri. Mereka datang kepada Yesus dengan kesungguhan hati, sehingga baik Yesus maupun mereka “tenggelam” dalam sukacita rohani; mereka tidak mengira bahwa mereka bisa bersama-sama hingga malam pun datang menjelang. Tuhan Yesus tidak ingin sukacita itu berhenti begitu saja; maka Ia melengkapi kegembiraan mereka dengan “menjamu” mereka dari apa yang masih ada pada mereka: lima roti dan dua ikan. Lengkaplah sudah sekarang: mereka mendapat santapan rohani dari Firman Yesus dan mereka dikenyangkan dengan santapan jasmani. Maka tugas para murid dan juga tugas kita: bukan saja mengenyangkan orang dengan kotbah dan homili, melainkan dengan memberikan apa yang  mereka butuhkan agar hidup layak sebagai manusia. Sebagai orang Kristen kita dipanggil bukan hanya untuk  berbagi  iman, melainkan juga menyatakan iman itu dalam perbuatan kasih dari “sedikit” yang kita miliki untuk diberkati Tuhan, dan  menjadi berkat yang dahsyat yang dapat menyelamatkan dan membahagiakan sesama kita.


REFLEKSI:
Apakah aku adalah orang Kristen yang peduli pada kesusahan sesamaku? Apakah aku juga sudah menjadi berkat untuk orang lain, sekalipun aku punya kesusahan juga?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih karena kami boleh  terlibat  dalam karya pelayanan Yesus. Ajarilah kami tidak sibuk dengan kesulitan kami sendiri, tetapi peduli pada kesusahan orang lain juga. Sebab Dialah  Kristus, Tuhan dan pengantara kami, Amin.