"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku."
Dalam perjalanan hidup, adakalanya kita merasa bahwa Tuhan terasa jauh dan seolah-olah meninggalkan kita sendirian. Kita berseru-seru kepada-Nya meminta pertolongan, tapi seolah-olah seruan kita terhalau angin lalu. Tuhan serasa diam saja, tak bergeming sedikit pun dan membiarkan kita begitu saja. Daud juga pernah mengalami dan merasakan hal yang sama, di mana Tuhan serasa berada jauh dari kehidupannya. Ayat nas di atas tentunya juga akan mengingatkan kita akan apa yang Kristus alami saat Ia berada di puncak penderitaan-Nya di atas kayu salib.
Dalam situasi seperti ini kita seringkali terjebak dalam pemikiran yang salah! Saat semuanya seperti tidak ada harapan, kita berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalau Tuhan itu ada pasti Dia akan menolong kita. Ketika pertolongan dan mujizat yang kita harapkan sepertinya tidak terjadi, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Sekalipun sepertinya Tuhan berada di tempat yang teramat jauh dan seolah-olah Ia tidak melakukan apa-apa untuk kita, jangan sekali-kali kita kecewa dan marah kepada Tuhan.
Marilah kita belajar memahami kehendak Tuhan, karena apa yang kita kehendaki itu belum tentu menjadi kehendak-Nya, dan waktu kita juga bukanlah waktu-Nya, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9).