"...sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan."
Sudah menjadi sifat manusia tidak puas dengan apa yang ada atau dimilikinya. Sifat tidak puas terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum ,bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dan rasa-rasanya tradisi tidak punya malu ini sudah kian mewabah di berbagai kalangan.
Itulah sebabnya sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut dan juga para prajurit "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Luk. 3:14b).
Mari belajar dari sikap hidup Rasul paulus yang di segala keadaan tetap bisa mengucap Syukur. Mengapa Paulus tetap bisa puas dan bersyukur? Karena bagi Paulus kepuasan bukan lagi ditentukan oleh kekurangan atau kelebihan, melainkan menerima dengan sukacita berapa pun porsi berkat yang Tuhan tetapkan untuk kita.
Ketidakpuasan yang tanpa batas dalam diri seseorang akan membawa kepada keserakahan dan ketamakan. Meski telah mengecap pertolongan dan kebaikan Tuhan, bangsa Israel tidak pernah merasa puas sehingga yang keluar dari mulutnya hanyalah keluh kesah dan persungutan. Maka, mari belajar untuk mengucap syukur di segala keadaan!
Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar." (1 Tim.6:6-7).