“Sebab itu kami tidak tawar hati; tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari.”
Apa yang Paulus tulis pada ayat tersebut tidak lahir dari situasi yang nyaman, melainkan dari pengalaman hidup yang penuh tekanan, penderitaan, dan ketidakpastian. Paulus tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa tubuh bisa melemah, keadaan bisa memburuk, dan masa depan tidak selalu jelas. Namun ia memilih untuk tidak tawar hati, karena ada karya Allah yang terus berlangsung di dalam dirinya-pembaruan batiniah yang tidak bergantung pada situasi luar.
Memasuki bulan demi bulan kita juga tidak bisa memprediksi, firman ini mengingatkan kita bahwa kekuatan iman tidak terletak pada kepastian keadaan, melainkan pada kesetiaan Allah yang memperbarui kita setiap hari. Dunia boleh berubah, rencana bisa gagal, dan banyak hal berada di luar kendali kita, tetapi Tuhan tetap bekerja di ruang terdalam hidup kita. Ketika manusia lahiriah kita merasa lelah, cemas, atau rapuh, manusia batiniah justru dapat diteguhkan oleh pengharapan di dalam Kristus.
Renungan ini mengajak kita melangkah ke masa depan bukan dengan keyakinan pada kemampuan diri, tetapi dengan iman kepada Allah yang setia membarui. Di situlah harapan kita berdiri: bukan pada apa yang kita ketahui tentang masa depan, melainkan pada siapa yang memegang masa depan itu.
Di tengah ketidakpastian yang kita hadapi, bagian mana dari hidup kita yang perlu diserahkan agar Tuhan memperbarui batin kita hari ini?