; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Yesus dan para murid-Nya duduk bersama-sama dengan pemungut cukai, adalah orang2 yang paling tidak diinginkan oleh masyarakat pada saat itu. Para ahli Taurat, terutama Farisi, segera melontarkan pertanyaan sinis, Mereka mencari tahu alasan mendasar apa yang membuat Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama dengan para pemungut cukai dan pendosa.
Namun, dalam jawaban-Nya, Yesus merangkum esensi misi-Nya dengan kata-kata yang penuh kebijaksanaan, “Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk mengumpulkan orang benar, melainkan orang berdosa.” Yesus menunjukkan bahwa kasih-Nya melampaui batasan-batasan sosial yang sempit. Menentang konsep yang cenderung memecah belah kesatuan.
Dalam momen tersebut, Yesus tidak hanya menyatukan pemikiran dan menyamakan konsep kasih yang peduli, tetapi juga merajut benang kasih di antara patahan batasan sosial yang sempit. Seolah-olah, Dia membangun jembatan ketidak-pahaman untuk menyamakan persepsi.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga berjuang seperti Yesus untuk menyelamatkan yang hilang dan berdosa?
Dalam perjalanan hidup ini, kita dihadapkan dengan kesempatan untuk menjadi terang bagi yang terhilang dan berdosa. Dengan tindakan dan kata-kata yang memancarkan cahaya kasih, menuju kebenaran. Sebagai perjuangan rohaniah, kita memiliki kesempatan untuk mempersembahkan kebaikan, mengembangkan belas kasihan, dan merajut kisah penyelamatan bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari.