Demikian juga Bapamu yang disurga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang”.
Suatu ketika seorang Pastor singgah disuatu rumah umat tempat ia bertugas di sebuah paroki. Ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung dengan berjalan kaki. Setelah membaur dalam kebersamaan, ia berbisik dan bertanya:”rasanya sebagian orang2 ini tidak saya kenal”. Ternyata jawabannya semakin membuat malu, ada yang menjawab, “Benar sekali pastor, kami tidak pernah lagi ke Gereja. Kadang kalau mau ke Gereja, yang paling berat adalah perasaan malu nanti ditertawai oleh yang lain”.
Banyak umat yang kita jumpai dan tidak pernah lagi ke Gereja bukan pertama-tama karena malas tetapi karena malu. Sebab dan akibat dari semua ini, karena penghakiman kita terhadap mereka tanpa kita sadari telah membuat saudara2 kita semakin menjauh. Sesungguhnya mereka adalah domba yang tersesat, yang perlu dicari dan dibawa kembali ke dalam kawanan.
Itulah gambaran “domba yang tersesat dari kawanan-nya . Mereka berada dizona kenyamanan diluar area, dan tidak lagi mendengar arahan dan tuntunan gembalanya. Saudara-saudariku yang terkasih, bahwa kita juga perlu memiliki sifat seorang gembala; “mencari yang hilang dan bersukacita bila menemukan yang hilang” ,dan bukan sebaliknya: bersikap acuh, nyinyir, memberi pandangan sinis, meremehkan, menolak, dsbnya. Mari kita membangun sikap pertobatan dengan merangkul dan mereka yang memerlukan perhatian kita.