Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

AKU TUHAN, BUKAN HANTU

BC - 10954G | Selasa, 02 Agustus 2022

Bacaan Hari ini:
Yer.30:1-2,12-15,18--22
Mzm.102:16-18,19-21-23,29
Mat.14:22-36

 “Ketika murid-muridNya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Matius 14:26-27

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Setelah Tuhan Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang laki-laki, termasuk perempuan dan anak-anak. Ia menyuruh murid-muridNya berangkat ke seberang melewati danau. Dia sendiri mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Di tengah kesibukan pelayananNya, Tuhan Yesus meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan BapaNya. Sementara itu para muridNya di tengah danau diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Dalam situasi kepanikan mereka itulah Tuhan Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air yang bergelora itu. Gelombang laut, diyakini sebagai pertanda hadirnya kuasa penghuninya, yaitu hantu atau setan. Ketika mereka melihat Yesus datang dengan berjalan di atas air, maka ketakutanlah mereka, sebab mengira Dia adalah penguasa danau tersebut; kata mereka: “Itu hantu! Itu hantu!” Namun Tuhan Yesus segera memastikan bahwa diriNyalah yang sedang mendatangi mereka, kataNya : “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Saudara-saudari terkasih,
Yang menarik, perkataan Yesus itu masih belum memberikan kepastian kepada mereka; Petrus dalam keraguannya berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air.” Dan Tuhan berkata: “Datanglah!” Petrus pun berjalan di atas air dan mendekati Yesus. Namun karena hembusan angin, Petrus merasa takut, lalu mulai tenggelam, ia pun berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Lalu Tuhan menegur Petrus dan teman-temannya yang belum percaya kalau yang datang adalah diriNya, sabdaNya: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke atas perahu, dan angin pun redah. Sudahlah terbutki sekarang bahwa yang datang kepada mereka dalam situasi kepanikan itu adalah Tuhan, bukan hantu. Tuhan itu datang dengan cara yang tidak lazim: Ia berjalan di atas air dan tidak tenggelam; tetapi Petrus tenggelam, karena tidak percaya bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air itu. Kehadiran Yesus di antara mereka segera menjadikan laut yang tadi bergelombang dan membuat mereka ketakutan segera tenang dan angin pun meredah. Tuhan Yesus adalah juga penguasa atas alam semesta, termasuk kuasa alam yang menggelora laut di danau tersebut.

Saudara-saudari terkasih,
Peristiwa redahnya angin dan tenangnya gelombang air danau, merupakan tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan oleh Yesus sebagai Tuhan atas kuasa-kuasa alam semesta. Kalau Tuhan ada, tidak ada yang tidak mungkin terjadi atas kuasaNya. Namun kita terkadang – seperti para rasul – lebih takut kepada hantu dan kuasa-kuasa kegelapan, daripada takut pada Allah dan kuasaNya. Pada saat kita berhadapan dengan berbagai persoalan hidup, kita menjadi takut, kita menjadi kebingungan, kita terkadang juga putus asa. Ada orang-orang kristen yang pergi mencari bantuan “orang pintar”, yang katanya bisa membantu melepaskan dia dari persoalan hidup yang sedang dihadapinya. Mereka mengunjungi para dukun, ahli nujum dan orang-orang yang katanya bisa memberi solusi atas problematika yang sedang mereka hadapi. Untuk mendapatkan pemecahan tersebut, mereka terkadang tidak “ragu-ragu” mengeluarkan sejumlah uang dan harta, bahkan syarat yang diminta dan terkadang terdengar, sangat tidak masuk akal. Orang-orang seperti ini, hidupnya dicemaskan oleh banyak hal, padahal mereka itu orang-orang beriman. Tuhan ada dalam hidup mereka, Allah bersemayan di dalam hati mereka. Sayangnya mereka tidak sanggup menemukannya dan menyadarinya.

Saudara-saudari terkasih,
Orang kristen yang telah dibaptis dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka, dalam hidupnya seringkali “tidak melibatkan Tuhan” dan mohon pertolongannya.  Bahkan hidup mereka sangat “disibukkan” dengan urusan-urusan duniawi. Mereka tidak meluangkan waktu untuk berdoa seperti Tuhan Yesus; Tuhan Yesus mencari waktu  luang : Dia naik ke bukit untuk berdoa seorang diri. Dia berkomunikasi dengan BapaNya. Tidak demikian dengan para murid, mereka sibuk untuk melanjutkan perjalanan tanpa melibatkan Tuhan dalam akitivitasnya. Mereka meninggalkan Tuhan Yesus sendirian. Bahkan dalam situasi sulit, kehadiran Tuhan tidak disambut dengan hangat, malah dianggap sebagai “hantu” pengganggu perjalanan mereka. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah pergi atau meninggalkan kita – sedetik pun tidak – Dia selalu bersama kita dalam situasi apapun; hanya saja kitalah yang sering menganggapNya tidak ada, bahkan kehadiranNya dianggap mengganggu. Ada orang yang meninggalkan aktivitas doa pribadi atau doa bersama, karena mengutamakan kepentingan-kepentingan duniawi. Marilah kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kita dan ijinkanlah Dia menjadi penolong kita; akan tetapi masihkah kita percaya dan mengandalkan Dia? Yesus adalah Tuhan, Dia bukan hantu.

REFLEKSI:
Apakah aku sudah meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa? Apakah aku melibatkan Tuhan dalam setiap langkah hidupku dan persoalan hidupku?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, kami diingatkan oleh Tuhan Yesus untuk mengandalkan Engkau ya Allah dan berharap pada Dia, PuteraMu dan Tuhan kami. Bantulah kami untuk selalu melibatkan Yesus dalam  hidup kami. Sebab Dialah  Kristus, Tuhan  kami, Amin