Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MENJADI PENJALA MANUSIA

BC - 11849G | Monday, 13 January 2025

Bacaan Hari ini:
lbr.1:1-6
Mrk.1:14-20

“Ketika Yesus sedang berjalan menyusuri danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedan menebarkan jalanya di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia.”
Markus 1:16ab & 17

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Baik penginjil Markus, Matius dan Lukas, sepakat tentang pesan ini: Yesus memanggil para murid yanf pertama untuk menjadikan mereka sebagai “Penjala Manusia”. Ungkapan ini dengan mudah diserap oleh mereka, sebab sebelum mengikuti Yesus mereka adalah “Penjala ikan”. Mengumpulkan ikan dana atau mengumpulkan manusia, tentu saja suatu pekerjaan yang gampang-gampang susah. Hanya penginjil Lukas yang mendetailkan kisah panggilan rasul-rasul pertama Yesus. Dilukiskan bagaimana Simon dan Andreas yang seorang nelayan itu “tidak mendapatkan” apa-apa setelah semalaman mencoba menangkap ikan. Yesus hadir untuk meminta mereka melemparkan jala lagi ke sebelah kanan perahu mereka.  Meskipun Petrus protes, ia tetap melemparkan jala, dan mereka mendapatkan banyak ikan, sehingga jala mereka nyaris koyak. Petrus merasa tidak layak; tetapi Tuhan Yesus melayakkan mereka dan mengatakan: mereka tidak lagi menjadi penjala ikan, tetapi “penjala manusia”.

Saudara-saudari terkasih,
Sungguh menarik, para nelayan ini segera mengikuti Yesus. Pengalaman mereka dan suka-duka mereka dalam menangkap ikan menjadi pelajaran berharga ketika mengikuti Yesus untuk “menjala manusia”. Pekerjaan ini tidak mudah. Sekalipun mereka adalah “ahlih”-nya menangkap ikan, tetapi faktanya mereka mengalam kegagalan, bahkan “tak seekor” ikan pun mereka tangkap setelah berjuang semalam-malaman. Tetapi ketika Yesus memerintahkan membuang jala lagi dan mereka taati, mereka mendapat banyak ikan. Menjadi pengikut Yesus, pertama-tama adalah berani menanggapi tawaran Yesus; engkau mau atau tidak. Kalau tidak, pergi, kalau ya ikutlah Aku! Versi Matius dan Markus menegaskan hal itu; tetapi menurut Lukas, para penjala ini merasa dirinya lebih ahli dari Yesus; wajar saja bukan. Tetapi ketika Yesus menyatakan diriNya dengan perintah kepada mereka sebagai seorang “ahli kelautan”, mereka malu dan merasa tidak pantas “bersaing” dengan Yesus. Mereka merasa tidak pantas. Mereka lalu mengikuti Yesus dan mulai mengandalkan perkataanNya kepada mereka.

Saudara-saudari terkasih,
Apakah kita pernah mendengar lirik lagu ini? “Aku mau ikut Yesus, aku mau ikut Yesus, untuk selama-lamanya. Meskipun aku susah, menderita dalam dunia, aku mau ikut Yesus sampai selama-lamanya.” Lagu yang dipopulerkan oleh Herlin Pirena ini mengandung pesan yang kita temukan dalam perikop hari ini, khususnya ketika kita membaca paralelnya pada injil Lukas. Mengikuti Yesus itu ternyata bukan hanya sekedar percaya dan dibaptis dan selesai. Ikut Yesus itu pertama-tama adalah mengikuti Yesus, bukan mendahului Yesus; belajar dari Yesus, bukan merasa lebih pintar dari Yesus; menderita bersama Yesus dan mengikuti jalan salibnya.  Inilah firman Yesus kepada orang banyak dan juga kepada para muridNya: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” (Markus 8:34) Kalau mau menjadi pengikut Yesus, seseorang harus “melupakan” banyak hal tentang kehebatannya, kemampuannya, kebisaannya; bahkan dia harus melupakan bahwa dirinya itu penting. Ia harus menyangkal dirinya, menganggap dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Yang terpenting adalah Yesus. Ia harus siap menderita seperti Yesus, memikul salib dan penderitaan karena memilih ikut Yesus. Ingat lirik tadi? “Meskipun aku susah, menderita dalam dunia, akum au ikut Yesus, sampai selama-lamanya!” Ini penting. Dan terakhir adalah “mengikuti Yesus”, artinya menaati apa yang difirmankan Yesus, menaari apa yang menjadi kehendak Yesus, bukan mengutamakan kehendak sendiri.

Saudara-saudari terkasih,
Orang-orang yang dipanggil dan dipilih serta ditetapkan secara khusus untuk mengikuti Yesus, seperti para imam, biarawan dan biarawati, dan rasul awam. Mereka – saya percaya – mengetahui benar “syarat-syarat” untuk mengikuti Yesus secara khusus. Bahwa menjadi imam dan biarawan-biarawati itu, bukanlah perkara yang mudah. Mereka harus siap “menyangkal diri” dan “memikul salib” serta “taat” kepada Yesus yang diabdinya. Dalam kondisi yang berbeda, kita, para awam kristiani juga harus memiliki karakter yang sama. Sebab setiap orang yang menyebut dirinya orang Kristen, itu berarti bahwa dia adalah seorang “pengikut” Kristus. Artinya apa? Kita, saya dan anda, juga harus memiliki karakter yang dituntut oleh Yesus dalam Ke-awam-an kita. Apakah seorang awam harus bisa menyangkal diri? Harus! Apakah dia juga harus memiikul salibnya setiap hari? Harus! Apakah dia juga harus mengikuti Yesus? Harus! Tidak ada yang membedakan orang awam dari biarawan dari klerus. Mereka dipangil untuk menjala manusia dengan cara hidup mereka; dengan menguduskan diri setiap hari. Mendengarkan Yesus, mentaati firmanNya dan bersaksi tentang kasih Allah.


REFLEKSI:
Apakah aku sadar, sebagai pengikut Yesus aku harus mengikuti dan taat kepadaNya?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, mempukanlah kami menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus dalam kesetiaan. Semoga kita rajin bersaksi tentang kasih Yesus kepada semua orang. Tuhan dan pengantara kami. Amin.