Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MENGANGGAP DIRI BENAR

BC - 11924G | Sabtu, 29 Maret 2025

Bacaan Hari ini:
Hos.6:1-6
Luk.18:9-14

“Dan kepada beberapa orang yang menanggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa: yang seorang adalah Farisi, dan yang lain pemungut cukai.”
Lukas 18:9-10

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Ijinkanlah saya mengutip kata-kata artis kocak yang bernama Dorce Gamalama. Ia berkata: “Kesempurnaan itu milik Allah. Ketidaksempurnaan  itu milik kita.” Kepada pasangan suami isteri yang berkunjung ke rumahku, kira-kira setahun sebelum kunjungan Sri Paus Fransiskus ke Indonesia, saya katakan kepada mereka: Kita itu berkeluarga, masing-masing dengan latar belakang yang berbeda. Kita disatukan oleh Allah untuk saling melengkapi, karena tidak seorangpun di antara kita adalah orang sempurna. Suamimu tidak sempurna, kamu juga bukan isteri yang sempurna; kalau mau sempurna, menikalah dengan “malaikat”, gurauku kepada mereka. Hal itu juga ditegaskan oleh bapa suci: bahwa suamimu, isterimu, anak-anakmu  bukanlah orang yang sempurna. Jangan menganggap dirimu paling benar. Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu. Tuhan Yesus menemukan “orang-orang” yang merasa dirinya sudah benar dan sudah sempurna. Dan sepertinya yang menjadi sasaran “tembak” Tuhan Yesus adalah orang-orang Farisi, yang mengucilkan orang berdosa seperti “para pemungut cukai”.

Saudara-saudari terkasih,
Dalam perumpamaan ini dikatakan seperti ini: Orang Farisi itu berdoa, katanya: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu. Karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan juga bukan seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan spersepuluh dari segala penghasilanku.” Tetapi beginilah doa orang yang lain, yaitu seorang pemungut cukai, katanya: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” Ia mengucapkan doanya dengan menunduk dan sambil menebah dadanya. Lalu Tuhan Yesus mengatakan bahwa doa pemungut cukai itu yang dibenarkan, sebab dia merendah di hadapan Allah; tetapi orang farisi itu meninggikan diri dan menyatakan bahwa dia adalah orang yang sudah sempurna melaksanakan hukum-hukum Allah. Apakah Allah tidak tahu, sehingga ia harus membuat ”litani” tentang apa yang telah diperbuatnya? Orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan, kata Yesus.

Saudara-saudari terkasih,
Dalam kehidupan kita dewasa ini, kita mengenal istilah “Sok Suci”; itulah pertunjukkan yang ditampilkan oleh orang Farisi itu kepada Tuhan ketika ia berdoa di dalam Bait Suci; fatalnya lagi, dalam doanya itu dia telah menghakimi “si pemungut cukai” yang disebut pendosa; bahwa dia tidak seperti orang itu. Orang yang menjilat penjajah, dan sering disebut sebagai orang yang memperkaya dirinya dari cukai yang dipungutnya. Mereka disamakan dengan “pengutil” uang yang bukan miliknya, sehingga disebut orang berdosa. Dan orang ini dalam doanya membutuhkan belaskasihan dari Tuhan, sehingga ia berkata:Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa! Apa yang sesungguhnya dapat kita banggakan dan kita megahkan di hadapan Tuhan tentang hidup kita? Bahwa kita sebagai orang beriman dipanggil untuk menjadi “orang kudus”, itu benar dan itu harus diusahakan. Namun apakah kita sudah sempurna melaksanakan perintah-perintah Tuhan? Santo Yohanes dalam suratnya mengatakan : “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1:8-10)  Maka benarlah apa yang dikatakan bapa suci: tidak seorang pun sempurna: suami, isteri dan anak-anakmu bukanlah orang sempurna. Kamu semua dipanggil oleh Yesus untuk “menjadi sempurna seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).

Saudara-saudari terkasih,
Merasa diri sudah benar dan sempurna, ditambah lagi kecenderungan untuk menghakimi orang lain, adalah tanda-tanda keterpurukan seseorang. Bahaya menggosip dan menguliti “kekurangan” orang lain, semoga tidak menghampiri kamu yang sedang mendengarkan renungan pada hari ini. Memang mungkin benar “seloroh” ini: Gosip itu semakin digosok semakin “siiiiipppp”. Namun “kebiasaan buruk” seperti itu jangan sampai menghampiri diri kita, seolah-olah diri kita adalah pribadi yang sudah paling benar dan sempurna. Tuhan Yesus tidak hanya sedang menegur orang-orang yang merasa dirinya paling benar, yaitu para pemuka agama Yahudi, termasuk orang-orang Farisi, tetapi Ia sedang menegur kamu, kalau kamu memiliki kecenderungan dan watak seperti yang dimiliki orang-orang Farisi ini. Yang dibenarkan oleh Yesus adalah mereka yang merasa dirinya “tidak pantas” di hadapan Allah. Kalau kita menghadap Tuhan jangan pamer kesucian; rendahkanlah diri dan mohonlah belaskasihanNya  agar Dia memberkati dan menguduskan kita. Tuhan, kasihanilah aku,  orang  berdosa ini.


REFLEKSI:
Apakah aku menyadari kedosaanku di hadapan Tuhan yang Maharahim?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, berilah kami hati yang baik dan rendah hati. Bantulah kami untuk menjauhi dosa dan membantu sesama kami yang tersesat untuk bertobat. Jauhkan kami dari gossip dan menghakimi orang lain. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.