Bacaan Hari ini:
Yos.5:9a,10-12
2 Kor.5:17-21
Luk.15:1-3,11-32
“ Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”
Lukas 15:20
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Pewartaan Injil pada hari ini, juga sudah pernah kita renungkan beberapa hari yang lalu. Tepatnya pada hari Sabtu, 22 Maret 2025 yang lalu. Kali ini, saya ingin menarik perhatianmu pada perikop yang lain yaitu Lukas 15 ayat 20. Dalam perumpamaan tentang “Anak yang hilang” saya menemukan hal-hal yang menarik untuk kita perhatikan. Pada masa prapaskah ini, diingatkan oleh gereja kudus agar umat Allah membangun pertobatan. Juga di tahun Yubileum ini, Gereja membuka pintu kerahiman Allah bagi orang-orang beriman yang ingin berdamai dengan Allah. Indulgensi diberikan bagi mereka yang melakukan ulah kesalehan yang ditetapkan baik oleh gereja universal maupun gereja keuskupan. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah berdamai dengan Allah, sesame dan diri sendiri dengan menerimakan sakramen Tobat atau Pengakuan dosa. Perhatikan kalimat yang saya kutip tadi: “Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.” Sebuah keputusan dari seorang anak yang telah terhilang untuk kembali ke rumah untuk mengalami kasih bapanya yang sangat baik. Bertobat, adalah pilihan terbaik yang harus kita bangun di masa Prapaskah ini.
Saudara-saudari terkasih,
Coba perhatikan keterangan yang “luar biasa indah” dari penginjil Lukas tentang reaksi bapa yang tahu anaknya yang pergi dari rumah itu memutuskan untuk pulang: Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Ayahnya yang lebih dahulu melihat “tobat” di hati anaknya; ayahnya yang jatuh cinta lagi kepada anaknya yang telah meninggalkan dirinya. Ia tidak menunggu anaknya datang; perhatikan: ayah itu yang “berlari” menemukan anaknya; ia merangkul buah hatinya itu dan mencium dia sebagai tanda dan ungkapan betapa dia merindukan dan menyayangi anaknya yang telah “terhilang” itu. Ada dua arus yang bergerak: anak yang durhaka mencari kasih Allah dan Allah yang merindukan kepulangan anak yang sangat dicintainya. Kita mau bertobat, tetapi Allah selalu menunggu penuh rindu dan cinta yang luar biasa kepulangan kita kepadanya. Anak itu sangat berarti bagiNya.
Saudara-saudari terkasih,
Judul renungan kita hari ini adalah “Bahagia karena bertobat”. Siapa yang bahagia? Bapa di sorga, karena anaknya yang telah melukai hatinya, sadar akan kesalahannya dan mau kembali kepadanya. Dialah Bapa yang tidak pernah kecewa, marah apalagi benci atas pengkianatan dan kedurhakaan anaknya. Dia adalah Bapa, Allah yang maharahim; dia tidak seperti “anak sulung”, yaitu orang-orang Farisi, juga mungkin kita, yang tidak bisa menerima “kebaikan dan belaskasih”- Allah yang tidak ingat akan masa lalunya, melainkan sesal dan niatnya untuk bertobat dan mau menjadi “anak yang baik” dengan kembali pulang ke rumah Bapa. Hari ini kita diingatkan oleh Gereja kudus akan hati Allah Bapa yang Maharahim yang diwartakan oleh Tuhan Yesus. Allah yang mengampuni siapa pun yang mau bertobat. Masih ingatkah kamu akan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berkenan menginap di rumah Zakeus si pemungut cukai? Inilah yang dikatakanNy: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:9-10) Tuhan Yesus pun seperti BapaNya mendatangi “orang berdosa” yang mau bertobat; ia menyesal dan bertobat dan berjanji : “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Pertobatan itu membuat hati Yesus dan hati Bapa sungguh sangat bahagia. Allah menantikan engkau bertobat. Dengan bertobat, engkau telah membahagiakan hati Allah Bapa kita.
Saudara-saudari terkasih,
Jangan kita memiliki watak yang tidak baik seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut karena Yesus bergaul dan makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka ini merasa dirinya sudah benar dan ingin memiliki keselamatan Allah untuk dirinya sendiri saja. Mereka tidak harus berperilaku seperti itu, melainkan harus merasa bahagia kalau orang-orang yang berdosa itu bertobat dan menjadi anak-anak Allah. Inilah pesan Bapa yang harus kita perhatikan: “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup, ia telah hilang dan didapat kembali.” Tuhan Yesus mengatakan kepada kita: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Lukas 15:10) Marilah – mulai hari ini – kita juga menanggapi kasih Allah Bapa yang menantikan pertobatan kita. Kita luangkan waktu untuk menerima sakramen tobat dan bahagia karena pertobatan saudara kita yang sesat hidupnya.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah menyadari kedosaanku dan mengakukan kesalahanku juga?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih atas cintaMu kepada kami orang yang berdosa ini. Bantulah kami untuk menyadari kedosaan kami dan bertobat kepadaMu. Semoga orang-orang berdosa menyadari dosanya dan bertobat.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.