Bacaan Hari ini:
Yeh.47:1-9,12
Yoh.5:1-3a,5-16
“Di situ ada orang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”.”
Yohanes 5:5-6
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Kalau kita sempat memperhatikan media social, kita dapat menemukan berbagai tawaran tentang banyak hal. Misalnya bagaimana bisa sembuh dari Diabetes Melitus dalam waktu singkat: yaitu dengan mengkonsumsi ramuan “X”. Ada juga tawaran untuk mengentaskan problem ekonomi, dengan bekerja dari rumah dan menghasilkan dengan mudah. Tawaran-tawaran selalu berdatangan dan berusaha menarik minat banyak orang. Mungkin salah seorang dari antaranya adalah saudara. Promosi tentang barang-barang di media online dengan harga murah dan terjangkau begitu banyak; ditambah lagi bisa dicicil dengan menggunakan aplikasi “Pay later”. Bagaimana respons kita? Hari ini Tuhan Yesus juga menawarkan kesembuhan untuk seorang yang sudah 38 tahun menderita sakit di dekat kolam Siloam. Kata Yesus: “Maukah engkau sembuh?” Bukankah ini tawaran yang dirindukannya? Tapi orang itu mencoba menjelaskan bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi sembuh kalau kolam Siloam itu bergoncang, sebab tidak ada orang yang mau membantu menurunkan dia.
Saudara-saudari terkasih,
Saya melihat, orang ini mencoba menjelaskan keadaannya yang sudah menahun sakit-sakitan, tapi tidak punya kesempatan untuk mendapatkan anugerah mujizat melalui air kolam Siloam. Mendengar penjelasannya itu Yesus berkata kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Apakah saudara merasa bahagia dengan sembuhnya orang yang sudah 38 tahun itu menderita sakit? Saya bahagia; tentu saudara juga, kan? Tetapi tidak semua orang seperti kita. Ada saja orang yang tidak bahagia dan protes. Orang-orang Yahudi yang taat pada hukum Taurat tidak terima dengan mujizat penyembuhan itu, karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat. Menurut hukum Taurat, hari itu adalah hari istirahat: banyak hal dilarang pada hari itu untuk dilakukan. Ketika ditanyakan kepada si sakit, siapa yang telah menyembuhkan dia, orang itu tidak tahu siapa orang itu; ia berkata Dia itu yang memerintahkan dia bangun.
Saudara-saudari terkasih,
percakapan itu, Yesus menemui orang yang telah disembuhkannya dan berpesan kepadanya: “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Yesus mau orang ini menjadi orang yang lebih baik dari sebelum ia disembuhkan. Yesus mau orang ini bertobat dari kehidupannya yang buruk di masa lalu. Orang yang bertemu lagi dengan Yesus itu akhirnya mengatakan kepada orang Yahudi itu “bahwa Yesuslah” yang telah menyembuhkannya. Lalu orang-orang Yahudi itu berusaha menganiaya Yesus. Jawab Yesus kepada mereka: “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Yesus mau mengatakan bahwa mujizat penyembuhan itu adalah karya yang dikehendaki oleh Allah Bapa yang telah mengutusnya. Mereka itu berusaha lagi untuk membunuh Yesus sebab Ia menyamakan diriNya dengan Allah. Menarik untuk diperhatikan: Orang Yahudi bertanya siapa yang telah menyembuhkan orang sakit itu pada hari Sabat? Dikatakan Dia adalah Yesus. Yesus dianggap melanggar hukum Sabat; jawab Yesus, itu adalah pekerjaan yang dikehendaki Allah BapaNya. Mereka tidak terima dan mereka berusaha membunuh Yesus.
Saudara-saudari terkasih,
“What is wrong with you?” Ada apa denganmu, teman? Bukannya seharusnya kamu senang kalau Yesus menyembuhkan orang yang sakit itu? Hanya demi hukum Taurat kamu menyalahkan Yesus. Mereka harus mendengarkan lagi apa yang pernah dikatakan oleh Yesus: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat!” Untuk melakukan pekerjaan kasih dan melakukan kebaikan itu tidak ada “hukum” yang bisa membatasinya; termasuk hukum Sabat. Orang yang “sekarat” karena tabrakan dan harus segera ditolong, apakah harus ditanya: Apa agamamu? Tidak. Pertolongan harus segera diberikan untuk menyelamatkan nyawanya. Setuju? Tuhan Yesus “tidak peduli” dengan aturan yang bisa mencegahNya untuk “berbuat baik”; termasuk kuasa atau hukum yang legalitis. Ada orang yang terlalu mengagungkan hukum, tetapi tidak peduli akan keselamatan sesamanya. Tuhan Yesus memberi kita contoh untuk bertindak dengan benar di saat yang tepat, bukan di saat yang tidak melanggar hukum. Kalau engkau seorang Kristen, lakukan kebaikan seperti Yesus. Di masa prapaskah ini kita diajak untuk memiliki kepekaan yang tinggi akan kebutuhan sesama yang perlu kita bantu dan kita selamatkan. Kita diingatkan untuk bergegas dan berlomba melakukan kebaikan: memberi makan yang lapar, memberi baju yang telanjang dan menebarkan kasih Tuhan Yesus ke mana pun kita diutus.
REFLEKSI:
Apakah aku “siap” memberikan perhatian kepada orang yang memerlukan bantuanku?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, berilah kami hati yang peduli akan penderitan sesama, seperti Yesus menghendaki agar semuanya “baik-baik” saja. Ciptakanlah dalam hati kami kepedulian akan penderitaan sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.