Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

IA HARUS MAKIN BESAR

BC - 12211G | Saturday, 10 January 2026

Bacaan Hari ini:
1Yoh.5:14-21
Mzm.149:1-.3-4,5.6a.9b
Yoh.3:22-30
( St. Gregorius X Paus ; ST. Agatho)






“Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya. Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.”
Yohanes 3:28 & 30

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Pada hari ini kita mendengarkan apa yang diwartakan oleh liturgi gereja katolik tentang nabi terakhir yang bernama Yohanes Pembaptis. Ia mengatakan: “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya.” Yohanes yang pada masanya sedemikian dikenal karena pewartaannya tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran; bahwa ia mengajar banyak orang mempersiapkan kedatangan Mesias; ia juga menyamakan diri dengan “suara” yang bersru-seru : “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” Hari ini ia menegaskan kembali bahwa dia bukanlah yang terpenting dan bahwa bukan dia yang harus mereka ikuti; dia bukan Mesias dan tidak perlu dipuja-puji atau disanjung-sanjung, melainkan Yesuslah yang harus diperkenalkan olehnya. Itulah sebabnya ia menegaskan bahwa : “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.”

Saudara-saudari terkasih,
Yohanes Pembaptis adalah seorang sosok penting yang mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus dan tampilnya Yesus di hadapan orang banyak. Bukankah Yohanes bisa merasa nyaman karena disanjung oleh banyak orang? Namun ia menyadari bahwa tugasnya adalah sebagai bentara, yaitu utusan dari Allah yang “secara lansung” dan “paling dekat” untuk menyatakan bahwa hanya Yesuslah yang harus didengarkan, dikagumi dan dimuliakan. Ia boleh dilupakan, dan Yesus harus mulai mendapat di hati orang-orang yang selama ini datang kepadanya. Inilah perkataan Yohanes yang terkenal itu: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel”. Misi atau perutusan Yohanes Pembaptis sangat jelas, bahwa dia bukan nabi yang meramalkan kedatangan Mesias, melainkan ia secara langsung sudah menunjukkan kepada “Israel” bahwa Yesuslah yang dibaptis olehnya. Dialah yang harus didengarkan. “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.”

Saudara-saudari terkasih,
Hari ini, saya mau mengulang dan menegaskan kepadamu “spiritualitas” seorang Yohanes Pembaptis yang harus dicontoh oleh setiap orang katolik, khususnya mereka diberi kepercayaan untuk mewartakan “kabar gembira” atau “injil” kepada sekalian bangsa. Konsep atau Sikap yang jelas dari Yohanes harus menjadi panduan kita adalah “Yesus harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.” Dalam sejarah gereja dan tradisi gereja katolik kita mengenal nama-nama besar seperti: santo Gregorius, santo Agustinus, santo Ambrosius, santo Hieronimus, santo Yohanes Krisostomus dan para martir kudus, mereka semua meneruskan apa yang menjadi spiritualitas dari santo Yohanes Pembaptis ini: apa pun yang mereka katakan, apapun yang mereka perbuat, apa pun yang mereka yakini dan lakukan, semuanya dilakukan untuk memuliakan nama Yesus. Sosok terkenal setelah Yohanes Pembaptis adalah santo Stefanus, martir pertama. Ia tegas membela Yesus dan kepentingan-kepentingannya; ia tidak takut pada orang-orang Yahudi yang melarangnya untuk mewartakan Yesus, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Ia meregang nyawa dan menyerahkan rohnya kepada Tuhan Yesus di hadapan seorang “Saulus” yang kemudian bertobat dan menjadi seorang “Paulus”. Paulus juga seorang yang terinspirasi oleh ucapan Yohanes ini; setidaknya inilah kesaksian santo Paulus : “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21) Sosok-sosok kudus ini sungguh-sungguh menyadari bahwa mereka diutus bukan untuk memuliakan diri mereka melainkan supaya Yesus Kristus dikenal, diakui dan diterima; mereka harus percaya bahwa Yesuslah sang Juruselamat yang harus didengarkan, diikuti dan diteladani.

Saudara-saudari terkasih,
Bahwa dalam setiap kotbah dan setiap renungan atau sebuah kesaksian, tugas kita adalah supaya siapa pun yang menyimak, mendengar dan mengalami, diharapkan mereka itu dapat bertemu dengan Yesus. Yesus yang berbelaskasih, Yesus yang menyembuhkan, Yesus yang mengampuni, Yesus yang peduli, Yesus sebagai Anak Allah yang hidup. Yesus yang harus ditonjolkan dan diwartakan, bukan dirinya sendiri. Maka setiap renungan, kotbah atau kesaksian harus berpusat pada Yesus Kristus. Ciri “Christo-centris”, berpusat pada Tuhan Yesus, harus mewarnai setiap bentuk pewartaan. Kesimpulannya: Kalau pewartaanmu, renunganmu, kotbahmu dan kesaksianmu tidak membuat orang dapat bertemu dengan Yesus, semuanya adalah kegagalan. Apalagi kalau orang mencari engkau karena kotbahmu, hati-hati dan jangan sombong. Pernah dengar ada orang katolik yang berkata: Saya akan ke ekaristi kalau romonya romo favoritku! Bukan engkau yang penting, melainkan Yesus. Ingatlah itu.

REFLEKSI:
Apakah aku yang aku cari dalam kesaksian dan pewartaanku: kemuliaan Yesuskah?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, berilah kami kerendahan hati nabi Yohanes Pembaptis, yang tidak mencari kemegahan dirinya, melainkan kemuliaan Yesus. Bantulah kami untuk mendahulukan kepentingan Allah demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.