Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MARILAH KITA PERGI KE TEMPAT LAIN

BC - 12215G | Wednesday, 14 January 2026

Bacaan Hari ini:
1Sam.31-10,19-20
Mzm.40:2,5,7-8a-9,10
Mrk.1:29-39

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun  dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab Yesus: “Marilah kita pergi ke tempat lain.”
Markus 1:35-38a

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Dalam tugasNya mewartakan Injil Kerajaan Sorga, Tuhan Yesus sempat mampir ke rumah mertua Petrus yang menderita sakit demam. Yesus menyembuhkannya dan wanita itu melayani Yesus dan rombonganNya. Tetapi setelah itu rupanya kabar ini tersiar dan banyak orang datang ke rumah mertua Petrus dan membawa orang-orang yang sakit kepada Yesus. Tuhan Yesus menyembuhkan mereka. Namun rupanya tidak hanya sampai di situ. Meskipun demikian Tuhan Yesus mengambil waktu untuk berdoa dan menyendiri untuk bercakap-cakap dengan BapaNya. Simon dan kawan-kawannya memberitahukan kepada Yesus kalau “semua orang mencari” Yesus.  Namun tentu saja di luar dugaan mereka Yesus menjawab kabar itu seperti ini:  “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Para murid belum ingin mereka pergi dan menikmati banyaknya orang berkerumum dan mendatangi Yesus, namun Yesus tidak menghendakinya, sebab mereka mencari Dia karena mereka telah disembuhkan.

Saudara-saudari terkasih,
Markus mau menunjukkan, betapa singkat waktu yang dimiliki oleh Yesus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum dijumpaiNya. Jadi Tuhan Yesus tidak “termakan” oleh kekaguman orang-orang yang ada di situ, sebab Dia datang bukan untuk dikagumi, melainkan untuk mewartakan “kabar baik” yang sama kepada orang-orang yang lain juga. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani; Anak Manusia datang bukan untuk disanjung-puja melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawaNya untuk semua orang berdosa. Jadi kalau Tuhan Yesus berkata kepada Simon dan kawan-kawan untuk segera mengunjungi kota-kota lain, itu karena Ia mau menunaikan tugasNya yang luar biasa banyak, tetapi waktunya yang tersedia sangatlah sempit. Markus menggambarkan betapa “tergesa-gesa” dan seriusnya Tuhan Yesus hendak melaksanakan kehendak BapaNya. Segera setelah Ia berdoa kepada BapaNya, Ia memutuskan untuk meneruskan perjalananNya.

Saudara-saudari terkasih,
Siapa yang tidak suka dipuja-puji orang? Siapa yang tidak senang mendapat sanjungan banyak orang? Orang kaya itu tidak seperti orang kaya kebanyakan, teman; ia mengeluarkan harta dan uangnya untuk membantu banyak orang yang berkekurangan. Ketika mendengar pujian itu apa kira-kira reaksi orang kaya itu? Ia merasa tersanjung bukan? Ia juga akan terus berusaha melakukan kebaikan agar tetap dikenal sebagai orang baik. Berbeda dengan orang kebanyakan itu, Tuhan Yesus bukan sosok yang “gila” pujian dan sanjungan, tetapi Ia berusaha untuk menjangkau sebanyak orang yang perlu mendapatkan perhatianNya. Di tempat-tempat lain juga ada banyak orang yang sakit yang perlu disapa dan disembuhkan; di kota-kota lain juga ada banyak orang yang memerlukan bantuan dan perhatianNya; di wilayah-wilayah lain ada banyak orang yang perlu ditobatkan dan mau menerima diriNya dan dapat bertemu dengan Allah dalam kabar gembira yang diwartakanNya. Fokus perhatian Tuhan Yesus bukan untuk kemegahan diriNya, melainkan untuk keselamatan dan kebahagiaan orang-orang yang dkunjungiNya dan membutuhkan jamahan kasihNya. Para murid sudah merasa senang kalau guruNya Yesus dikagumi oleh orang-orang yang ada di tempat mereka; mereka hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri, padahal dunia ini tidaklah “seluas daun kelor”, melainkan sangat lebar, panjang dan luas. Tuhan mau menyadarkan mereka bahwa Dia diutus untuk lebih banyak orang.

Saudara-saudari terkasih,
Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk orang-orang yang sudah merasa cukup dan puas diri kalau kita sudah berkecukupan dan hidup baik-baik saja? Apakah kita tidak punya perhatian kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan? Akhir bulan November hingga Awal Desember tahun yang lalu, kita dikejutkan dengan peristiwa tanah longsor di Cilacap, di Banjarnegara, erupsi Merapi di Lumajang dan Lewotobi di Flores Timur; juga kabar banjir bandang di Sumatera Barat, Sumartera Utara dan Aceh. Korban begitu banyak: yang wafat dan yang hilang belum terdeteksi lengkap. Kita melihat pemerintah segera turun tangan; gerakan spontan masyarakat Indonesia dan dunia menggalang dana dan bantuan terjadi di mana-mana. Gereja katolik juga menggerakkan umatnya untuk bersimpati dan berempati untuk berbagi berkat dengan menggalang donasi mulai dari lingkup lingkungan gereja. Yang terkumpul mungkin tidak banyak; tetapi bersama orang lain kita menggalang “kepedulian” untuk nasib saudara kita yang mengalami musibah. Pesan penting dari warta gereja hari ini: marilah kita tidak egois, melainkan memikirkan kebahagiaan orang lain juga.  Cinta yang tidak dibagikan apakah masih disebut cinta?


REFLEKSI:
Apakah aku memiliki rasa bela rasa dan kepedulian yang diajarkan oleh Tuhan Yesus?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih atas didikan Tuhan yang segera bergerak untuk peduli untuk nasib orang banyak. Tanamkanlah kepedulian dalam hati kami, agar kami juga memikirkan kebahagiaan sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.