Bacaan Hari ini:
1Sam.4:1-11
Mzm.44:10-11,14-15,24-25
Mrk.1:40-45
“Ingatlah janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun…. Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota.”
Markus 1:44a & 45
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Pada hari Jumat, 9 Januari yang lalu kita sudah merenungkan teks parallel dari Injil yang diwartakan gereja hari ini yaitu dalam Lukas 5:12-16 “Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta”. Kita sudah merenungkan tentang apa yang dikehendaki Tuhan dari seorang kusta yang mohon agar disembuhkan dari sakit kustanya. Judul yang saya kemukakan adalah “KALAU TUHAN MENGHENDAKI”. Sebuah doa yang sungguh dinantikan oleh seseorang yang sangat memerlukan pertolongan Tuhan Yesus; dan Tuhan Yesus mengabulkan permohonannya. Dalam injil yang kurang lebih sama hari ini, saya ingin menarik perhatianmu pada “tindakan tak terduga” dari orang kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus: Ia dilarang untuk memberitahukan peristiwa penyembuhan kustanya itu, melainkan supaya pergi ke Yerusalem untuk mendapat pengakuan bahwa ia sudah sembuh. Tetapi Dia “mengabaikan” permintaan Yesus: ia pergi dan mengatakan kepada semua orang “Yesus telah berkenan mentahirkan dirinya” dan ia disembuhkan dari sakit kustanya.
Saudara-saudari terkasih,
Menarik perhatianku bahwa orang yang baru saja disembuhkan oleh Tuhan dari kustanya itu, memutuskan untuk “tidak mematuhi” keinginan Yesus untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Musa agar dia pergi ke Yerusalem agar diakui para imam kalau ia sudah tidak menderita sakit kusta lagi. Dia memilih tidak menaati keinginan Orang yang telah menyembuhkan dirinya, ia pergi menemui banyak orang dan memperlihatkan kepada mereka bahwa ia sudah sembuh dan bahwa orang yang telah menyembuhkan dirinya adalah Tuhan Yesus. Maksudnya agar semua orang tahu, bahwa dia telah bertemu dengan seorang “tuan yang baik” yang mau menyembuhkan dirinya; nama orang itu Yesus. Apakah dampak pemberitaan orang ini bagi Yesus? Yesus makin dikenal, itu pasti; namun Yesus tidak dapat bergerak bebas masuk kota; Yesus menyingkir dan menyepi, tapi orang banyak terus saja mencariNya, mereka datang dari berbagai penjuru.
Saudara-saudari terkasih,
Apakah yang kiranya telah menggerakkan hati seorang kusta ini untuk tidak mematuhki keinginan Tuhan Yesus, melainkan memutuskan untuk membagikan kebahagiaannya kepada orang lain kalau Tuhan memang telah menyembuhkan dia dari penyakit kustanya. Orang harus tahu bahwa dia sudah sembuh dan semua orang juga harus tahu kalau yang telah menyembuhkan dirinya itu adalah Tuhan Yesus. Beberapa kali dalam perayaan Ekaristi, imam menyebutkan “intensi misa atau ekaristi” pada hari itu adalah: “Mengucap syukur atas terkabulnya doa novena tiga salam Maria”; atau juga “Terimakasih atas berhasilnya operasi kanker dan kesembuhan ayah kami berkat pertolongan Bunda Maria penolong abadi”; dan masih ada lagi intensi serupa itu yang diperdengarkan oleh imam dari atas mimbar kepada umat yang hadir. Inilah pernyataan iman orang katolik yang percaya akan kuasa penyembuhan Tuhan yang mereka sudah yakini dan akhirnya mereka alami. Menurut pendapatku, ini bukan sekedar informasi biasa untuk diketahui oleh umat yang hadir, melainkan sebuah bentuk kesaksian yang keluar dari pengalaman iman mereka: Ketahuilah, bahwa Tuhan masih hadir dalam kehidupan kita; mujizat itu masih ada dan Tuhan mendengarkan doa yang tulus yang dipanjatkan oleh umat kesayangannya. Bukankah Tuhan sendiri yang berkata: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu?” Kebahagiaan yang mereka alami tidak hanya ingin dirasakan sendiri, tetapi dengan sukacita dibagikan kepada orang lain.
Saudara-saudari terkasih,
Dalam panduan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang di awal tahun liturgi yang baru ditekankan bahwa Gereja haruslah menjadi persekutuan umat Allah yang “menginspirasi, membahagiakan dan mensejahterakan”. Kita dapat menemukan sumber inspirasi yang ditunjukkan oleh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, bahwa kita harus datang kepada Tuhan kalau kita memang membutuhkan pertolongannya, sebab Tuhan mendengarkan umatNya yang mengandalkan kebaikan dan belaskasihNya. Orang kusta ini juga tidak ingin merasakan kebahagiaan menjadi sembuh itu “sendirian”, lalu ia pergi mewartakan kepada semua orang “kebahagiaan”-nya jadi sembuh itu kepada semua orang: Yesuslah yang telah membuatnya menjadi sosok yang bahagia karena sudah terbebas dari kustanya. Bahwa orang kusta yang telah sembuh ini juga ingin orang lain mengalami kebaikan Tuhan seperti dirinya, agar mereka juga bisa mengalami sukacita kesejahteraan itu yang hanya Tuhan saja dapat memberikannya. Mungkin bisa mengandalkan apa saja di dunia ini, tetapi hanya Tuhan yang bisa memberikan kesejahteraan sejati: bahwa Tuhan hidup dalam hati kita dan Ia memberkati kita. Kebahagiaan sejati itu adalah hidup dalam lindungan Tuhan saja.
REFLEKSI:
Apakah aku mau berbagi kebahagiaan dengan sesama untuk memuliakan Tuhan ?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, hari ini kami belajar untuk tidak puas diri karena dikasihi olehMu, tetapi kami juga akan berusaha agar semakin banyak orang mengenal kasihMu dan mencintai diriMu, dalam diri Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.