Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

MENGASIHI ALLAH DALAM DIRI SESAMA KITA

BC - 12255G | Monday, 23 February 2026

Bacaan Hari ini:
Im.19:1-2,11-18
Mzm.19:8,9,10,15
Mat.25:31-46

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah  seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannnya untuk Aku.”
Matius 25:40

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Bacaan injil hari ini adalah bagian dari kotbah akhir zaman Yesus yang diberi judul oleh redaksi sebagai “Penghakiman Terakhir”. Mengapa penghakiman terakhir? Sebab di sini ditetapkan dan diputuskan oleh Allah, siapa yang layak masuk ke dalam sorga dan siapa yang tidak masuk dalam tahtaNya. Tolok ukur layak atau tidaknya seseorang untuk dianggap pantas ternyata sangat sederhana: mengasihi sesamanya manusia yang membutuhkan perhatian dan kepeduliannya. Ada nilai yang harus disadari dengan baik dan benar, bahwa setiap orang yang melakukan pekerjaan kasih itu harus menyadari bahwa Allah menghargai tindakan kasihnya sebab firmanNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah  seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannnya untuk Aku.” Dan kepada orang-orang ini berlakulah janji Allah ini: “Mari, hai kamu yang diberkati BapaKu, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Saudara-saudari terkasih,
Apa saja yang dimaksud dengan tindakan kasih itu? FirmanNya: “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan, ketika Aku telanjang kamu memberi aku pakaian, ketika Aku sakit, kamu melawat Aku, ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Tindakan-tindakan kasih ini adalah praktek yang diharapkan oleh hukum Kasih yang sudah mereka dengar dan ketahui: Kasihilah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri. Firman itu digenapi oleh Tuhan Yesus yang menekankan agar mereka mengasihi semua orang sama seperti Yesus telah mengasihi mereka. Tuhan mau mereka bukan hanya menghafal hukum kasih, melainkan melaksanakannya juga.

Saudara-saudari terkasih,
Penginjil Matius menulis dalam “Sabda Bahagia” begini: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan!” Marilah kita mendengarkan kotbah santo Gregorius dari Nazianze tentang “kemurahan hati”: “Murah hati itu dinilai tinggi dalam urutan Sabda Bahagia. “Berbahagialah orang yang menaruh perhatian kepada orang yang berkekurangan dan miskin. Berbahagialah orang yang membagi dengan murah hati dan memberikan pinjaman”. Marilah kita merebut kebahagiaan ini dan mencari nama dengan memahaminya: Marilah kita bersikap murah hati. Bahkan malam hari, tidak boleh menghambat perbuatan kasihmu. Jangan berkata: “Sekarang pergi dan lain kali kembali. Besok, ini akan kuberi!” Jangan ada sesuatu yang memisahkan maksudmu dari pelaksanaan perbuatan kasihmu. Kasih itu satu-satunya, yang tidak boleh ditunda. Bagilah makananmu dengan orang yang lapar, dan bawalah orang miskin,yang tidak punya tumpangan ke rumahmu, dan lakukanlah itu dengan gembira dan sukacita. Kita harus memberi pakaian kepada Kristus dan menyambut Dia dengan baik. Kita harus memberi hormat kepada Kristus, tidak hanya di meja saja, seperti beberapa orang melakukannya; tidak hanya dengan minyak wangi, seperti Maria, tidak hanya dengan pemakaman yang dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea, tidak hanya dengan emas, dupa dan mur seperti yang dilakukan para Majus. Tetapi Tuhan menginginkan BELASKASIHAN dan bukan KORBAN. Maka kita diundang untuk melakukan “belaskasihan”  kepada mereka yang berkekurangan seolah-olah kita melakukannya hanya untuk Tuhan dalam diri sesama kita itu.

Saudara-saudari terkasih,
Dalam masa Prapaskah ini kita diundang untuk meningkatkan habitus kudus yaitu “doa, puasa dan sedekah”; doa selalu tertuju kepada Allah yang kita sembah, disertai segala usaha penyucian diri dan taat pada firman Allah; puasa sebagai sarana dan latihan, untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri, melainkan bisa merasakan penderitaan sesama kita; dan sedekah adalah bentuk belaskasihan kepada mereka yang berkekurangan karena mereka itu: kurang makan, kurang minum, kurang pakaian, kurang perhatian, kurang kasih sayang. Milikilah cinta kepada Tuhan dalam diri sesama kita. Cukuplah itu untuk menyelamatkan kita dari kutukan neraka dan sambutlah tawaran Raja yang PUAS karena Ia sudah dicintai dalam diri mereka yang membutuhkan kasih dan perhatian kita.


REFLEKSI:
Apakah aku sudah mencintai Tuhan dengan berbelaskasihan kepada sesamaku?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, kami bersyukur karena sudah diingatkan oleh Tuhan Yesus untuk berbelaskasih dan murah hati kepada sesama yang menderita. Bantulah kami mengusahakannya dengan gembira. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.