Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BAGAIMANA SEBAIKNYA KITA BERDOA?

BC - 12256L | Tuesday, 24 February 2026

Bacaan Hari ini:
Yes.55:10-11
Mzm.34:4-5,6-7,16-17,18-19
Mat.6:7-15

“… ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni yang bersalah kepada kami…. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”        
Matius 6: 12, 14, & 15

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan ajaranNya mengenai cara berdoa. Begini kata Yesus: “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Perkataan Yesus menunjukkan motif sesat manusia di balik doa, yaitu berfokus pada keinginan sendiri. Tanpa sadar, tujuan kita berdoa adalah untuk memenuhi kepentingan pribadi. Yesus berkata: “Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Lalu, bagaimanakah kita sebaiknya berdoa? Apakah dengan diam hening untuk mengamati dan menyimak bisikan Allah melalui suara hati?

Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus berkata: “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Saat kita menyimak penggalan doa Bapa Kami barusan, ada rasa apakah yang hadir di dasar hati? Bisa jadi, kita merasa mengecil di hadapan Allah Bapa yang Maha Besar, karena fokus kita mulai bergeser. Tujuan kita berdoa bukan lagi untuk memenuhi kepentingan sendiri, melainkan pertama-tama untuk memuliakan Allah. Sekarang, marilah kita kembali mengeja penggalan doa Bapa Kami selanjutnya: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Mengeja penggalan barusan, adakah rasa tertentu juga yang muncul di dalam hati? Bisa jadi, kita tercenung, atas sudut pandang Yesus mengenai kebutuhan kita. Sesungguhnya, manusia hanya butuh makan cukup hari ini. Namun mengapa manusia sering banyak keinginan lain?  

Saudara-saudari terkasih.
Adakah kita kurang percaya, sehingga kita takut kekurangan? Ataukah kita melekat pada kenyamanan, ingin mempertahankannya terus-terusan, ataupun tambah lagi dan lagi. Tanpa sadar, kita lalu ngoyo atau memaksakan diri agar keinginan pribadi bisa terpenuhi. Tanpa sadar, kita menolak kejadian di depan mata sekarang sebagai rahmat Tuhan. Tanpa sadar, kita berdosa. Dalam permenungannya, Santo Ignasius Loyola merumuskan tiga dosa pokok dari umat manusia, yaitu dalam keadaan yang sesungguhnya senantiasa penuh rahmat, kita tidak cukup menaruh hormat, dan bersyukur tidak penuh, malahan kecewa atau marah kepada sesama yang menghantarkan rahmat kejadian, karena kita inginnya yang lain, dan cenderung memaksakan keinginan kita untuk bisa dipenuhi. Oleh karena itulah, di dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan agar kita perlu mengakui dosa pokok pribadi dan bertobat, serta mengampuni juga kesalahan orang lain yang tanpa sadar telah mereka lakukan tanpa mengerti akan dosa pokoknya. Yesus berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Saudara-saudari terkasih.
Adalah seorang remaja bernama Benara. Ia remaja yang taat mengikuti aturan, dan merasa tidak suka dengan mereka yang suka melanggar. Suatu hari, Benara dikhianati oleh sahabatnya. Ia pun sangat marah, hingga menyumpahi karibnya, bahwa karma yang bersangkutan akan menimpa dia, orang, tua, dan keturunannya kelak. Keesokan harinya, ia menyesal dan takut orang lain akan menyumpahinya, atau hidupnya akan terjerat oleh sumpah serapahnya sendiri. Meskipun demikian, sumpah serapahnya kembali terulang saat ia mengalami peristiwa lain yang serupa. Ia pun merasa semakin takut. Santo Paulus pun berulang kali mengalami mimpi didatangi oleh orang-orang Kristen yang pernah dibunuhnya semasa ia belum menjadi pengikut Kristus. Mereka hanya datang, tanpa emosi yang jelas. Sampai menjelang ajal, ketika ia bertindak mengampuni setiap sesama, ia jadi utuh percaya, para korbannya pun telah mengampuninya dalam hukum cinta kasih Tuhan Yesus.        


REFLEKSI:
Maukah saya belajar mengeja dan mempraktikkan doa Bapa Kami mulai sekarang?   

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas ajaranMu pada hari ini. Latih kami untuk berhenti meninggikan diri, dan bersikap rendah hati sebagai seorang hamba di hadapan Allah yang Maha Rahim. Izinkan kami untuk mencari Engkau dengan sepenuh hati, berani mengakui dosa pokok pribadi, serta mengampuni ketidaksadaran sesama dan berbelas kasih tanpa kecuali. Amin.