Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BAGAIMANA CARA BERHENTI MENCARI-CARI TANDA?

BC - 12257L | Wednesday, 25 February 2026

Bacaan Hari ini:
Yun.3:1-10
Mzm.51:3-4,12-13,18-19
Luk.11:29-32

Ketika orang banyak mengerumuni Yesus, berkatalah Dia: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Seperti Yunus menjadi tanda untuk Niniwe, Anak Manusia menjadi tanda untuk angkatan ini.            
Lukas 11: 29 - 30

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Pada hari ini, Yesus memberikan teguran atas hati keras manusia yang sulit percaya, dan pentingnya pertobatan sejati di atas sekadar mencari keajaiban. Pada waktu orang banyak mengerumuni Yesus, Ia berkata: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Saudara-saudari terkasih.
Yesus menyebut angkatan itu jahat karena mereka terus-menerus menuntut bukti mukjizat (tanda) secara lahiriah, namun mengabaikan kebenaran yang ada di depan mata mereka. Mencari tanda tanpa disertai iman merupakan bentuk keraguan yang terselubung atau upaya untuk "menguji" Tuhan. Orang yang mencari tanda tanpa iman biasanya tidak akan pernah merasa puas. Ketika satu tanda diberikan, mereka akan meminta tanda yang lebih besar atau mencari celah logis untuk meragukannya. Dengan begitu, hatinya menjadi semakin keras. Bukannya mendekat kepada Tuhan, seseorang justru menjadi kritikus yang sinis. Firman Yesus pada hari ini meminta kita untuk mengambil tanggung jawab spiritual atas kebenaran yang sudah ada di depan mata. Bagaimana caranya? Kita dapat belajar dari orang-orang Niniwe dan Ratu Syeba dari selatan yang peka mendengarkan.   

Saudara-saudari terkasih.
Orang-orang Niniwe langsung bertobat hanya dengan mendengar peringatan singkat dari Yunus. Ratu Syeba dari selatan menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendengar hikmat Salomo. Namun apa yang membuat orang-orang Yahudi justru berkeras hati menolak perkataan Yesus yang jauh lebih Ilahi daripada Salomo dan Yunus? Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga juga sering menolak untuk mendengarkan orang-orang yang tidak kita sukai karena pandangan mereka berbeda dan terasa bertentangan dengan keyakinan kita. Pada saat demikian, alih-alih menelan dulu kata-kata yang disampaikan mereka agar kemudian dapat dicerna, kita malah terburu-buru untuk segera memuntahkannya dengan argumentasi pribadi yang membenarkan diri dan menyalahkan mereka. Tanpa sadar, kita menjadi seperti orang-orang Yahudi yang mencari-cari alasan atau bukti luar biasa dari pihak luar untuk menutupi ketidakpercayaan mereka. 

Saudara-saudari terkasih.
Bagaimana kita dapat peka mendengarkan seperti orang-orang Niniwe dan Ratu Syeba? Mari kita selidiki dinamika hati nurani di dalam diri. Bayangkan sosok yang kita percaya penuh dan terima perkataannya. Bandingkan dengan orang lain yang paling sering kita tentang perkataannya. Apa perbedaan di antara keduanya? Bisa jadi, sosok yang kita percaya adalah orang yang pantas dihormati, sementara yang kita tentang adalah mereka yang kita anggap kurang layak. Apakah ada manusia yang memang betul-betul tidak layak dihormati? Sungguhkah faktor penyebab utama adalah unsur kelayakan dari sesama? Ataukah sesungguhnya emosi dan standar pikiran kita sendiri yang membuat jebakan tersebut? Pada saat demikian, perilaku kita menjadi reaktif dan tidak efektif. Maka, baiklah kita berhenti melakukannya. Dalam diam sejenak, kita perlu menemukan apa persisnya yang kita tolak. Dengan kesadaran baru, kita dapat bertindak lebih hati-hati dan penuh hormat. Kita juga jadi mau terbuka dan berdiskusi untuk membangun pemahaman bersama. Dengan begitu, perilaku reaktif kita berubah menjadi tindakan responsif untuk berkomitmen untuk melakukan solusi perbaikan atau pertobatan yang diperlukan.                     


REFLEKSI:
Siapa yang saya tentang? Apa yang saya tolak? Kepentingan pribadi apa yang terusik? Maukah saya mohon Rahmat Roh Kudus untuk memahami pesan Tuhan?   

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih, atas penegasanMu pada hari ini. Kami akui, sering kali kami menolak pesanMu yang disampaikan melalui sesama yang bertentangan dengan kami. Terima kasih, atas kesempatan untuk masuk ke dalam diri dan menemukan akar penyebab penolakan kami terhadap rahmat kejadianMu. Bimbinglah kami dalam memahami solusi baru dan menindaklanjuti pesanMu. Amin.