Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

BAGAIMANA CARA BERELASI DENGAN TUHAN & SESAMA?

BC - 12258L | Thursday, 26 February 2026

Bacaan Hari ini:
Est.4:10a,10C-12,17-19
Mzm.138:1-2A,2BC-3,7C-8
Mat.7:7-12

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. … Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Matius 7: 7 & 12

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Firman hari ini menegaskan tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang berbasis iman maupun ketekunan. Pada waktu berkhotbah di bukit, Tuhan Yesus berkata: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Oleh karena itu, baiklah kita bertekun di dalam usaha, dan juga yakin bahwa usaha kita akan berbuah matang.                               

Saudara-saudari terkasih.
Namun pada kenyataannya, kita seringkali merasa ragu dan kurang percaya, atau   tak jarang pula kita terlalu ngoyo berusaha atau bersikeras memaksakan keberhasilan. Lalu bagaimana? Saat kita merasa takut, baiklah kita bertanya sejenak ke dalam diri kita sendiri, apa yang sesungguhnya kita tolak? Tantangan di depan mata, kegagalan di masa depan, atau apakah? Setelah memahami apa persisnya yang kita tolak, kita dapat mengajaknya berdamai dan turut serta mengiringi langkah usaha kita secara perlahan-lahan. Keberhasilan-keberhasilan kecil akan menggelinding seperti bola salju menjadi keberhasilan-keberhasilan yang lebih besar . Pada saat demikian, ada kalanya kita ingin mempertahankan keberhasilan tersebut, ataupun ingin terus tambah. Saat menyadari usaha kita mulai tercemar oleh hawa nafsu, baiklah kita juga bertanya sejenak ke dalam diri, apa sesungguhnya yang kita kejar? Kepentingan pribadi, atau kemuliaan Tuhan dan manfaat untuk sesama? Iman membuat kita dapat tekun bekerja tanpa cemas.   

Saudara-saudari terkasih.
Selain itu, Firman Tuhan Yesus pada hari ini juga menegaskan tentang hubungan manusia dengan sesamanya. Begini khotbah Yesus: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Isi khotbah Yesus ini sering dikenal dengan istilah "The Golden Rule" atau Hukum Emas. Standar moral dalam bertindak bukan lagi sekadar "jangan berbuat jahat", melainkan secara aktif "berbuat baik". Kita diajak untuk menjadikan keinginan kita sendiri sebagai tolok ukur cara kita memperlakukan orang lain. Ajaran ini disebut sebagai intisari seluruh hukum agama; artinya, kerohanian seseorang dianggap tidak sempurna jika hubungan baiknya dengan Tuhan tidak tercermin dalam perilaku etis kepada sesama manusia. Bagaimana cara kita menerapkan hukum emas dalam menyelesaikan tanggung jawab peran sehari-hari?                                         

Saudara-saudari terkasih.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempraktikkan hukum emas di keseharian. Misalnya, saat ada rekan yang terhambat menyelesaikan tugas kelompok yang menjadi bagiannya, alih-alih menyalahkan, kita dapat membantu rekan sebagaimana kita pun ingin dibantu saat sedang kesulitan. Atau sebelum memberikan kritik keras, kita dapat bertanya pada diri sendiri: "Jika saya di posisi dia, bagaimana cara terbaik saya menerima masukan agar tetap termotivasi?" Dengan begitu, kritik yang kita berikan akan berdampak membangun, bukan menjatuhkan. Atau, bilamana kita menghargai waktu istirahat dan keluarga, kita pun tidak akan mengeksploitasi waktu orang lain secara berlebihan, dan memberikan orang lain hak-hak yang kita harapkan juga, seperti penghargaan dan waktu jeda. Yang paling sederhana, kita dapat memulai komunikasi dengan terlebih dahulu mendengarkan, mencerna, dan memahami orang lain daripada ingin didengarkan dan dipahami lebih dulu. Maka, marilah kita hidup dengan penuh iman kepercayaan iman akan kebaikan Tuhan, dan mewujudkan iman tersebut melalui tindakan kasih yang proaktif kepada sesama manusia.                                 

REFLEKSI:
Adakah ketekunan saya sekarang didasari oleh iman yang tenang akan kebaikan Tuhan, untuk semakin memuliakanNya dan mendatangkan manfaat bagi sesama?

MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih atas khotbahMu dalam firman hari ini. Berilah kami iman yang teguh agar mampu melangkah dengan tekun tanpa dikuasai rasa cemas. Mampukan kami untuk terus berusaha dengan sabar, sambil sepenuhnya percaya pada kebaikan rencana-Mu. Jauhkanlah kami dari ambisi pribadi. Kami mau belajar mencintaiMu Sang Utama dan melayani sesama seperti kepada diri sendiri. Amin.