Bacaan Hari ini:
Yeh.18:21-28
Mzm.130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8
Mat.5:20-26
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak masuk Kerajaan Sorga. … tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk persembahanmu itu.”
Matius 5: 20 & 24
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Dalam Firman hari ini, Yesus menegaskan prioritasNya pada rekonsiliasi dengan sesama di atas formalitas agama. Pada waktu itu, Ia berkhotbah: sebagai berikut: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Alih-alih hanya berfokus menjaga perilaku agar sesuai aturan, Yesus mengajarkan bahwa akar dari dosa adalah hati, sehingga fokus perlu diperdalam mulai dari menjaga isi batin pribadi selaras dengan aturan yang dipraktikkan.
Saudara-saudari terkasih.
Tuhan Yesus juga berpesan: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Tuhan menghargai hati yang mau berdamai dan rendah hati dan tidak memupuk dendam yang bisa memenjarakan jiwa kita sendiri.
Saudara-saudari terkasih.
Dalam dinamika hubungan—baik antara atasan dan bawahan, maupun kakak dan adik—proses meminta maaf dan memberi maaf secara lisan terkadang barulah sebuah langkah awal yang belum sepenuhnya menuntaskan sisa-sisa luka emosional. Meski refleksi diri telah dilakukan dan kata maaf telah terucap, rasa mengganjal yang masih ada sering kali merupakan tanda bahwa kepercayaan yang sempat retak membutuhkan waktu untuk pulih kembali melalui tindakan nyata yang konsisten. Kondisi ini menuntut kedua belah pihak untuk tidak hanya berhenti pada formalitas perdamaian, tetapi juga mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) dalam berinteraksi serta memiliki ketekunan untuk membangun kembali rasa aman tanpa harus memaksakan kedekatan secara instan. Pada akhirnya, rekonsiliasi sejati adalah sebuah proses berkelanjutan di mana masing-masing pihak sepakat untuk tidak lagi menghitung kesalahan masa lalu, melainkan fokus pada cara memperlakukan satu sama lain dengan lebih baik sesuai prinsip kasih dan respek yang tulus.
REFLEKSI:
Maukah saya berhenti menghakimi? Langkah kecil dan tulus apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk menunjukkan kasih secara proaktif?
MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus, terima kasih atas sabdaMu bahwa ibadah sejati bermula dari hati yang damai. Karuniakanlah kami rahmat untuk berani menanggalkan ego dan berinisiatif untuk berdamai segera. Mampukan kami menjaga perkataan dan sikap agar tidak melukai harga diri sesama, melainkan membawa kesembuhan bagi hubungan kami, untuk memuliakan nama-Mu dalam hidup kami sehari-hari. Amin