Bacaan Hari ini:
Kej 3:9-15,20
Kis.1:12-14
Mzm.87:1-2,2,3,5,6-7, R:3
Yoh.19:25-34
( Pw SP Maria Bunda Gereja )
“Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibunya: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian katanya kepada murid-muridNya: “Inilah Ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. ”
Yohanes 19:26-27
Saudara-saudari terkasih,
Yang pertama, Tuhan Yesus berfirman kepada ibuNya: “Ibu, inilah anakmu!” Di saat-saat yang menegangkan, saat PuteraNya meregang nyawa, Maria justeru mendapat tugas perutusan baru; ia harus bersedia menjadi “ibu” bagi para muridNya. Anak tunggalnya akan wafat, tapi ia mendapat lebih banyak anak lagi, yaitu mereka yang mengikuti dan percaya kepada Yesus. Ia harus menjadi ibu yang mendampingi mereka dan mendewasakan mereka seperti ia pernah melakukannya sejak Yesus diterima dalam rahimnya dan melahirkannya serta mengasuhnya. Menarik untuk diperhatikan, bahwa “tidak ada kata-kata” lagi dari mulut Maria. Bukankah ketika Allah memilihnya menjadi Bunda Yesus ia bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi, sebab aku belum bersuami?” Apakah suasananya tidak memungkinkan Maria bertanya pada Yesus? Saya kira tidak seperti itu; intuisiku mengatakan bahwa Maria sudah siap untuk apa pun yang akan terjadi. Ia siap jiwanya ditembus sebilah pedang: yaitu Anaknya wafat di salib; ia juga sudah siap akan apa yang menjadi kehendak Puteranya itu, yang dijawabnya dalam doa yang disimpan dalam hatinya: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah kehendakMu!” Para murid pun menerima Maria dalam rumahnya dan menghormatinya seperti Yesus melakukannya semasa hidupnya. Gereja tanpa Maria, apa itu mungkin?
Saudara-saudari terkasih,
Kata-kata terakhir Yesus ini dicatat oleh penginjil Yohanes, sebagai hasil refleksi teologis yang dipenuhi oleh cinta yang besar kepada Yesus; dan penghargaan yang tinggi dan mulia yang dilakukan seorang murid; dia sanggup menangkap dan menerjemahkan dengan sangat indah kehendak Guru yang mengasihinya. Baginya, Maria adalah sosok tak tergantikan dalam kehidupan dan perutusan Yesus; Maria juga menjadi sosok tak tergantikan yang mengasuh gereja Anaknya dengan teladan hidup dan terutama dengan imannya yang penuh penyerahan: tidak peduli apa yang akan terjadi ketika harus menaati kehendak Allah; ia juga wanita paling kudus yang siap menerima tugas perutusan dari sang Putera. Yesus tahu gereja juga butuh sentuhan seorang ibu yang peduli dan mengasihi anak-anak Allah yang dipercayakan kepadaNya. Mendengar firman pada hari ini, kita sepantasnya merasa bersyukur: karena Yesus melibatkan IbuNya bukan saja untuk melahirkanNya tetapi juga melahirkan dan memelihara anak-anak Allah dalam persekutuan gereja katolik yang kudus. Marilah kita menghormati Maria secara layak.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah mengasihi dan menghormati Maria sebagai Bunda Yesus dan gereja?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, pada hari ini Tuhan Yesus memberikan kami seorang ibu yang penuh iman, yang taat dan setia. Tanamkanlah dalam diri kami rasa hormat kepadanya dan memohon doanya agar kami setia pada PuteraNya Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.