Bacaan Hari ini:
Yeh.43:1-7a
Mzm.85:9ab-10.11-12.13-14
Mat.23:1-12
“Kata Yesus: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya”
Matius 23:2-3
Saudara-saudari terkasih,
Beberapa kali saya sudah mengatakan, bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu menggunakan jurus “NATO”, yaitu No Action Talk Only. Tidak ada tindakannya dan hanya bisa ngomong doing. Banyak orang yang pandai bicara, pandai memberi nasehat, pandai memberikan tuntunan dan bimbingan. Kita mengenal pengkotbah, kita mengenal Ustad dan Ustaza, kita mengenal pendeta dan biku, kita mengenal orator seperti Bung Karno dan John F. Kennedy. Tetapi apakah anda mengenal “aku” yang memberikan renungan harian di media ini? Itu tidak penting, sebab saya tidak sehebat orang-orang itu dan tidak semashyur para orator itu. Saya hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menyampai firmanNya dan supaya saudara semakin mengenal Tuhan Yesus dengan lebih baik. Intinya: seorang pengajar yang baik, haruslah seorang penghayat yang benar.
Saudara-saudari terkasih,
Tuhan Yesus mengingatkan orang-orang Kristen eks penganut agama Yahudi untuk tidak mengabaikan apa yang diajarkan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebab mereka belajar hampir 40 tahun untuk menguasai Hukum Taurat dan kitab para nabi. Mereka itu adalah ahlinya. Bahkan Tuhan Yesus menyebut mereka telah “menduduki kursi Musa”. Apa artinya? Yaitu bahwa mereka itu telah “katham”, telah lulus dengan baik dan menguasai apa yang telah diajarkan Musa. Orang-orang yang sudah terbiasa dengan didikan agama Yahudi, yang dibawa oleh Musa ini, boleh dan harus mendengarkan ajaran orang Farisi dan ahli Taurat. Namun mereka harus ingat pula catatan penting Tuhan Yesus: Tetapi jangan menjadi seperti mereka yang hanya bisa ngomong dan kotbah, tetapi tidak mau melakukannya sendiri. Tentu saudara masih ingat, bahwa saya pernah mengutip kata-kata Paulus: Setelah aku mewartakan Injil, jangan sampai aku sendiri ditolak. Apa alasannya? Karena Paulus sudah membuktikan kesetiaannya kepada Yesus, bahwa Ia telah hidup dari Firman Yesus dan ia mengajarkan jemaat-jemaat yang dilayaninya. Masihkah anda ingat juga? Kalau saya menuliskan renungan ini untuk anda, yang menjadi “sasaran tembak” pertama adalah “diriku sendiri”; apakah aku sudah melakukan yang kukatakan kepadamu? Jadi renungan ini menjadi bagian “kesaksianku” bagaimana aku sudah hidup dari firman yang kuwartakan kepadamu. Saya mengoreksi diriku, saya menguji diriku: untuk apa aku melayani kamu, kalau aku sendiri tidak mendapatkan “berkat” dari pelayananku ini?
Saudara-saudari terkasih,
“Jangan Munafik!” Judul ini adalah teguran untuk diriku dan peringatan untuk anda semua, bahwa Tuhan Yesus tidak mau kita tersesat dan hidup dalam kemunafikan yang dihidupi oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kita mengaku sebagai orang Katolik, kita bersaksi sebagai orang Kristen, tetapi hidup kita “serampangan”, bahkan ada orang yang hidupnya “menjadi batu sandungan” untuk saudara seiman atau orang beragama lain. Orang katolik koq gak pergi ke gereja; orang Kristen koq malas baca firman, orang nasrani koq korupsi. Malu dong, Bro! Tahu diri dong, Sis! Kalau nonton TV, tersangka korupsinya adalah orang Kristen, saya sedih dan malu. Maka kita semua diundang Tuhan Yesus untuk hidup berkenan kepada Allah BapaNya, Allah yang Mahabaik dan kudus.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah hidup berkenan kepada Allah seperi Yesus taat kepada BapaNya?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, Tuhan Yesus menghendaki kami menjadi orang baik dan bukan menjadi orang penting. Ia mau supaya kami taat setia kepadaNya, mendengarkan firmanNya dan melaksanakannya juga. Jauhkanlah kami dari sikap munafik tetapi menjadi murid Yesus yang setia. Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami. Amin